Sunday, February 6, 2022

Bab 124 Novel Twilight – ACARA ISTIMEWA - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 124 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – ACARA ISTIMEWA Bab 124

“Hai, Jacob.” Aku balas tersenyum.

“Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu, memandang Edward untuk pertama kali. Aku terkejut melihat Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Ia pasti telah bertambah tinggi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya.

Wajah Edward tenang ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.

“Terima kasih,” kata Jacob ramah.

Edward hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.

Jacob menaruh tangannya di pinggangku, dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.

“Wow, Jake, berapa tinggimu sekarang?”

Ia tampak bangga.

“Seratus delapan puluh lima senti.” Kami tidak benar-benar berdansa—mustahil dengan kondisi kakiku saat ini.

Novel Twilight


Sebagai gantinya, dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. Itu bagus juga, dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus, jangkung dan tak seimbang, hingga barangkali ia bukan pedansa yang lebih baik daripada diriku sendiri.

“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu.

Melihat reaksi Edward tadi, aku bisa menduga jawabannya.

“Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui, sedikit malu-malu.

“Ya, aku percaya,” gumamku.

Well, kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku menggodanya, memberi isyarat dengan kepala ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.

“Yeah,” ia mendesah. “Tapi dia sudah bersama seseorang.”

Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku— kemudian kami sama-sama berpaling, merasa jengah.

“Omong-omong kau cantik sekali,” ia menambahkan malu-malu.

“Mm, ttims. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya, meskipun aku tahu jawabannya.

Jacob tidak kelihatan senang karena topik percakapan kami berubah. Ia memalingkan wajah, sekali lagi merasa jengah.

“Katanya, di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.”

Aku ikut tertawa, namun lemah.

“Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu padamu dia akan membelikan master cylinder yang kubutuhkan,” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.

“Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Aku balas tersenyum.

Setidaknya Jacob tidak memercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu.

Jacob berpaling lagi, merasa malu.

“Jangan marah, oke?”

“Tidak mungkin aku marah padamu, Jacob,” aku meyakinkannya.

“Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. Katakan saja apa yang harus kaukatakan.”

Well—ini bodoh sekali, maafkan aku. Bella—dia ingin kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk memohon padamu.” Ia menggeleng jijik.

“Dia masih percaya takhayul, eh?”

“Yeah. Dia... seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya...” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. Mataku menyipit. “Aku terjatuh.”

“Aku tahu itu,” Jacob langsung menyahut.

“Pikirnya, Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari janjiku, aku merasa marah.

Jacob tak berani menatapku. Kami bahkan tak lagi repotrepot

bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya. “Begini, Jacob, aku tahu Billy barangkali tidak bakal percaya tapi hanya supaya kau tahu”—ia memandangku sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku—

“Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya, aku pasti sudah mati.”

“Aku tahu,” ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit memengaruhinya.

Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.

“Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini, Jacob,” aku meminta maaf.

“Setidaknya, yang penting kau mendapatkan onderdilmu, ya kan?”

“Yeah,” gumamnya. Ia masih tampak canggung...

kecewa.

“Ada lagi?” tanyaku tak percaya.

“Lupakan saja,” gumamnya,

“aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.

“Katakan saja, Jacob.”

“Ini buruk sekali.”

“Aku tak peduli. Beritahu aku,” desakku.

“Oke... tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali.” Ia menggeleng

“Dia menyuruhku memberitahumu, bukan, memperingatkanmu, bahwa – dan ini kata-katanya, bukan aku” – ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip –

“Kami akan mengawasi.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.

Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku tertawa keras-keras.

“Aku menyesal kau harus melakukan ini. Jake,” olokku.

“Aku tidak terlalu keberatan.” Ia tertawa lega. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusuri gaunku. “Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk jangan ikut campur?” tanyanya penuh harap.

“Tidak,” desahku.

“Bilang padanya aku berterima kasih. Aku tahu dia bermaksud baik.”

Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari lehernya.

Tangannya masih di pinggangku, dan ia memandang kakiku yang digips.

“Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku.

“Tidak apa-apa, Jacob. Aku yang mengambil alih.”

Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.

“Hei, aku tidak melihatmu di situ,” gumam Jacob.

“Kalau begitu, sampai ketemu, Bella.” Ia melangkah mundur, melambai dengan setengah hati.

Aku tersenyum. “Yeah, sampai ketemu.”

“Maaf,” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, merasa senang.

“Merasa lebih baik?” godaku.

 

Penutup Novel Twilight – ACARA ISTIMEWA Bab 124

Gimana Novel twilight – Port ACARA ISTIMEWA Bab 124 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya