Sunday, February 6, 2022

Bab 121 Novel Twilight – JALAN BUNTU - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 121 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 121

Meski begitu ia sangat tenang. Yakin.

“Aku tak bisa melakukannya. Bella. Aku takkan melakukannya padamu.”

“Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan mapanku rak selantang yang kuinginkan.

“Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini, atau kurasa beberapa hari yang lalu... setelah itu. Seharusnya bukan apa-apa.” Ia menatap geram padaku.

“Dan rasa sakitnya?” tanyanya.

Wajahku memucat. Aku tak bisa menahannya. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tidak kelihatan betapa jelas aku mengingat rasanya... api dalam nadiku.

“Itu masalahku.” Karaku.

“Aku bisa mengatasinya.”

“Sangat mungkin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan.”

“Bukan masalah. Tiga hari. Sama sekali, bukan masalah.”

Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. Aku melihatnya berusaha menekan amarah, memerhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya.

“Charlie?” tanyanya tiba-tiba.

Novel Twilight


“Renee?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab.

Aku membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Aku menutupnya lagi. Ia menunggu, kemudian ekspresinya berganti jadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.

“Begini saja, itu juga bukan masalah,” gumamku akhirnya; suaraku terdengar sama tidak meyakinkannya seperti setiap kali aku berbohong.

“Renee selalu membuat keputusan yang menurut dia benar—dia ingin aku melakukan yang sama. Dan Charlie lebih fleksibel, dia terbiasa hidup sendirian. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani.”

“Tepat sekali,” tukasnya.

“Dan aku tak ingin mengakhirinya.”

“Kalau kau menungguku hingga sekarat, ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!”

“Kau akan sembuh,” ia mengingatkanku.

Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. Aku menatapnya, dan ia balas menatap. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi.

“Tidak,” kataku pelan.

“Aku takkan sembuh.” Kerutan di dahinya semakin dalam.

“Tentu saja kau akan sembuh. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka...”

“Kau keliru,” aku berkeras.

“Aku bakal mati.”

“Sungguh, Bella.” Sekarang ia cemas.

“Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. Paling lama dua minggu.” Aku menatapnya geram.

“Aku mungkin takkan mati sekarang— tapi suatu saat. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. Dan aku akan menjadi tua.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku.

Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya, matanya terpejam.

“Itulah yang mestinya terjadi. Yang seharusnya terjadi. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada—dan aku seharusnya tidak ada.”

Aku mendengus. Ia membuka mata, terkejut. “Itu bodoh. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere, mengambil uangnya, dan berkata, ‘Begini, kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. Lebih baik begitu.’ Dan aku tidak memercayainya.” “Aku bukan hadiah lotere,” geramnya.

“Benar. Kau jauh lebih baik.”

Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.

“Bella, kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung, dan inilah keputusanku.”

“Kalau kaupikir ini akhirnya, berarti kau tidak mengenalku,” aku mengingatkannya.

“Kau bukan satusatunya vampir yang kukenal.”

Matanya kembali kelam.

“Alice takkan berani.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk memercayainya— aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.

“Alice sudah melihatnya kan?” Aku mencoba menebak.

“Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu... suatu hari nanti.”

“Dia keliru. Dia juga melihatmu mari. Tapi itu juga tidak terjadi.”

“Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice.” Lama sekali kami bertatapan. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin bunyi bip, tetesan. Dan detak jam besar di dinding. Akhirnya ekspresinya melembut.

“Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. Ia tertawa dingin. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” Aku mendesah. “Auw,” gumamku.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya, sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.

“Aku baik-baik saja.” Aku berbohong.

“Aku tidak percaya,” katanya lembut.

“Aku tidak mau tidur lagi.”

“Kau harus beristirahat Semua perdebatan ini tidak baik untukmu.”

“Jadi menyerahlah” aku menyarankan.

“Usaha bagus.” Ia menggapai tombol.

“Jangan!”

Ia mengabaikanku

“Ya?” terdengar suara dan speaker di dinding. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitnya,” katanya tenang tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku.

“Aku akan menyuruh perawat ke sana” Suara itu terdengar bosan.

“Aku takkan meminumnya,” aku berjanji. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.”

Detak jantungku mulai memburu. Ia melihat ketakutan di mataku, dan mendesah putus asa.

“Bella, kau sakit. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh. Kau benar-benar keras kepala. Saat ini mereka tidak akan

memasang jarum lagi di tubuhmu.” “Aku tidak takut jarum,” gumamku. “Aku takut memejamkan mata.”

Kemudian ia tersenyum simpul, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Sudah kubilang, aku takkan pergi ke mana-mana. Jangan khawatir. Selama kau senang karenanya, aku akan di sini.”

Aku balas tersenyum, mengabaikan rasa sakit di pipiku.

“Itu berarti selamanya, tahu.”

“Oh, kau akan melupakannya—kau Cuma naksir aku.” Aku menggeleng tak percaya—itu membuatku pusing.

“Aku terkejut waktu Renee memercayai ucapanku itu. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.”

“Itulah hal terindah menjadi manusia.” Ia memberitahuku.

“Segala sesuatu berubah.” Mataku menyipit.

“Jangan kelewat berharap.” Ia tertawa ketika perawat masuk sambil mengacungkan suntikan.

“Permisi.” Katanya pada Edward

Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan, bersandar di dinding. Ia bersedekap dan menunggu. Aku terus menatapnya, masih waswas. Ia menatapku tenang.

“Nah, ini obatnya, Sayang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku.

“Kau akan merasa lebih baik sekarang.”

“Terima kasih,” gumamku datar. Hanya sebentar. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.

“Kurasa sudah bereaksi,” gumamnya, saat kelopak mataku mulai memejam.

Perawat pasti telah meninggalkan ruangan, karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.

“Tinggallah.” Kata itu nyaris tak terdengar. “Aku akan ada di sini,” ia berjanji. Suaranya indah, bagai nina bobo. “Seperti kataku, selama ini membuatmu bahagia... selama ini adalah yang terbaik untukmu.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala, tapi terlalu berat. ‘”Tu tidak sama,” gumamku.

Ia tertawa. “Sudah, jangan khawatirkan itu, Bella. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.” Kurasa aku tersenyum mendengarnya. ‘”Ke.” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.

“Aku mencintaimu,” bisiknya.

“Aku juga.”

“Aku tahu,” ia tertawa pelan.

Aku menoleh sedikit... mencari. Ia tahu apa yang kucari.

Bibirnya menyentuh lembut bibirku.

“Terima kasih,” desahku.

“Sama-sama.”

Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya.

“Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. “Ya?”

“Aku bertaruh memegang Alice,” gumamku. Kemudian aku pun tertidur.

Penutup Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 121

Gimana Novel twilight – Port JALAN BUNTU Bab 121 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya