Sunday, February 6, 2022

Bab 119 Novel Twilight – JALAN BUNTU - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 119 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 119

“Tapi kau tak perlu lagi, dasar bodoh,” ia tertawa.

“Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering lagi sekarang... kami sudah sering membicarakannya, dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh, aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya.”

“Mom.” Aku meragu, bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini.

“Aku ingin tinggal di Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, dan aku punya beberapa teman cewek”—ia melirik ke arah Edward lagi saat aku mengingatkannya aku punya teman, jadi aku mencoba alasan lain—

“dan Charlie membutuhkanku. Dia sebatang kara di sana, dan dia sama sekali tak bisa memasak.”

“Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya, heran.

Ide ini tak terbayangkan olehnya. Lalu matanya kembali melirik

Edward. “Kenapa?”

Novel Twilight


“Sudah kubilang–sekolah, Charlie–aduh!” Aku mengangkat bahu.

Bukan ide bagus. Tangannya bergerak ke sana kemari, mencoba menemukan bagian rubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Ia menaruh tangannya di dahiku, karena bagian itu tidak diperban.

“Bella, Sayang, kau tidak menyukai Forks,” ia mengingatkanku.

“Tidak terlalu buruk, Mom.”

Ia merengut, lalu memandangku dan Edward bergantian, kali ini benar-benar disengaja.

“Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya.

Aku hendak berbohong tapi mata Mom mengamati wajahku, dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya di sana. “Dia salah satu alasannya,” aku mengakui. Tak perlu kuakui, dialah alasan terbesarku. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku.

“Ya.” Ia bimbang memandangi Edward yang diam tak bergerak.

“Dan aku ingin bicara denganmu rentang hal ini.” O-ow.

“Tentang apa?” tanyaku.

“Kurasa anak laki-laki itu jatuh cinta padamu,” tuduhnya, berusaha menjaga suaranya tetap pelan.

“Aku juga berpikir begitu,” ujarku.

“Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya.

Aku mendesah, memalingkan wajah. Meskipun aku sangar menyayangi ibuku, ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya.

“Aku cukup tergila-gila padanya.” Nah—itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek centang cowok pertamanya.

Well, dia kelihatan sangat baik, dan, ya Tuhanku, dia luar biasa tampan, tapi kau masih sangat muda. Bella...” Suaranya terdengar ragu-ragu; sejauh yang bisa kuingat, inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua.

Aku mengenali nada masuk-akal-namun-tegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok.

“Aku tahu itu, Mom. Jangan khawatir. Aku Cuma naksir,” aku menenangkannya.

“Benar,” ia menimpali, langsung senang.

Kemudian ia mendesah, dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding.

“Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir.

“Phil seharusnya menelepon sebentar lagi... Aku tak tahu kau akan segera sadar...”

“Tidak apa-apa, Mom.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaannya tidak terluka.

“Aku tidak akan sendirian.”

“Aku akan segera kembali. Aku tidur di sini, kau tahu,” ujarnya, bangga pada dirinya sendiri.

“Oh, Mom, kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah—aku takkan menyadarinya.” Pengaruh obat penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang, meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.

“Aku terlalu tegang,” ia mengakui malu-malu.

“Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita, dan aku tidak suka berada di sana sendirian.”

“Kejahatan?” tanyaku kaget.

Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah—sama sekali tak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. Kau ingat dulu kau menari di sana,

Sayang?”

“Aku ingat.” Aku bergidik dan meringis ngeri.

“Aku bisa tinggal. Sayang kalau kau membutuhkanku.”

“Tidak, Mom. Aku akan baik-baik saja. Edward akan menemaniku.”

Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.

“Aku akan kembali malam ini.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji, dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya.

“Aku sayang kau, Mom.”

“Aku juga sayang kau. Bella. Cobalah untuk lebih berhari-hari ketika berjalan. Sayang, aku tak ingin kehilangan dirimu.”

Mata Edward tetap terpejam, tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.

Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di rubuhku. Mom mengecup dahiku, menepuk-nepuk tanganku yang diperban, kemudian pergi.

Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku.

“Kau tegang Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini.”

“Aku baik-baik saja,” aku meyakinkannya.

“Akan kuberitahu dokter bahwa kau sudah sadar. Dia akan ke sini sebentar lagi.”

Begitu perawat menutup pinru, Edward langsung berada di sisiku.

“Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat.

Ia tersenyum, sama sekali tak menyesal. “Mobil bagus, lajunya sangat cepat.”

“Bagaimana tidur siangmu?” tanyaku.

“Menarik.” Matanya menyipit.

“Apa?”

Ia menunduk ketika menjawab, “Aku terkejut. Kupikir Florida... dan ibumu... Well, kupikir itulah yang kauinginkan.”

Aku menatapnya tak mengerti.

“Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Kau hanya bisa keluar pada malam hari, seperti vampir sejati.” Ia nyaris tersenyum, tapi tidak juga.

Lalu wajahnya serius.

“Aku akan tinggal di Forks, Bella. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana,” ia menjelaskan.

“Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi.”

Awalnya aku tak langsung memahaminya. Aku terus menatapnya hampa saat kata-katanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu, meskipun, saat napasku semakin liar, aku merasakan nyeri di dadaku.

 

Penutup Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 119

Gimana Novel twilight – Port JALAN BUNTU Bab 119 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya