Sunday, February 6, 2022

Bab 117 Novel Twilight – JALAN BUNTU - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 117 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 117

24. JALAN BUNTU

KETIKA terbangun aku melihat cahaya putih terang. Aku berada di ruang yang asing ruang putih. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah; di atas kepalaku, cahaya terang menyilaukan pandangan.

Aku dibaringkan di tempat tidur keras—dengan besi pengaman. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. Ada bunyi bip yang mengganggu tak jauh dariku. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini.

Tangan-tanganku dipenuhi slang infus, dan ada sesuatu direkatkan di wajahku, di bawah hidung. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya.

“Jangan, tidak boleh.” Jari-jari dingin menangkap tanganku.

“Edward?” Aku menoleh sedikit, dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti dariku, ia meletakkan dagunya di ujung bantal. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup, kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.

Novel Twilight


“Oh, Edward, aku benar-benar menyesal!”

“Ssssttt.” Ia menyuruhku diam.

“Sekarang semuanya baik-baik saja.”

“Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat jelas, dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya.

“Aku nyaris terlambat. Aku bisa saja terlambat,” ia berbisik, suaranya terdengar menyesal.

“Aku bodoh sekali. Edward. Kupikir dia menyandera ibuku.”

“Dia mengelabui kita semua.”

“Aku harus menelepon Charlie dan ibuku,” samar-samar aku ingat untuk melakukannya.

“Alice sudah menelepon mereka. Renee ada di sini— well, di sini, di rumah sakit ini. Dia sedang mencari

makan.”

“Dia di sini?” Aku mencoba duduk, tapi kepalaku berputar makin menjadi, dan tangannya dengan lembut menahanku di bantal.

“Sebentar lagi dia kembali,” Edward berjanji. “Dan kau belum boleh bergerak.”

“Tapi apa yang kaukatakan padanya?” tanyaku panik. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan.

Ibuku ada di sini dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir.

“Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?”

“Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela.” Ia berhenti.

“Harus kauakui, ini mungkin saja terjadi.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Aku memandangi tubuhku di balik selimut, kakiku bengkak.

“Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya.

“Kakimu patah, begitu juga empat rusukmu, beberapa bagian tengkorakmu retak, memar hampir di sekujur tubuh, dan kau kehilangan banyak darah. Mereka memberimu transfusi. Aku tidak menyukainya – sesaat aromamu jadi berbeda.”

“Itu pasti perubahan yang baik untukmu.”

“Tidak, aku menyukai aromamu yang asli.”

“Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. Ia langsung tahu maksudku.

“Aku tak yakin.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya, mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya, berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor.

Aku menunggu jawabannya dengan sabar. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. “Rasanya mustahil... untuk berhenti,” ia berbisik.

“Mustahil. Tapi aku melakukannya.” Akhirnya ia memandangku, setengah tersenyum.

“Aku harus mencintaimu.”

“Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.

“Lebih baik, bahkan—lebih baik daripada yang kubayangkan.”

“Maafkan aku,” ujarku menyesal.

Ia menatap langit-langit. “Dari semua yang perlu dimaafkan.”

“Apa lagi yang harus kumintai maaf?”

“Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku.”

“Maafkan aku,” aku meminta maaf lagi.

“Aku tahu kenapa kau melakukannya.” Suaranya menenangkan.

“Tentu saja itu masih tidak masuk akal. Kau seharusnya menungguku, seharusnya memberitahuku.”

“Kau takkan membiarkanku pergi.”

“Memang tidak.” Ia menimpali dengan geram.

“Takkan kubiarkan.”

Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. Aku merinding, kemudian meringis.

Edward langsung waswas.

“Ada apa, Bella?”

“Apa yang terjadi pada James?”

“Setelah aku menjauhkannya darimu, Emmett dan Jasper membereskannya.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang sangat dalam.

Ini membingungkanku. “Aku tidak melihat Emmett dan

Jasper di sana.”

“Mereka harus meninggalkan ruangan... darahmu berceceran di mana-mana.” “Tapi kau tetap tinggal.”

“Ya, kau tetap tinggal.”

“Dan Alice dan Carlisle...?” aku bertanya-tanya.

“Mereka juga menyayangimu, kau tahu.”

Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice, mengingatkanku akan sesuatu.

“Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas.

“Ya.” Suaranya berubah kelam, samar-samar menguarkan kebencian.

“Alice tak pernah mengerti, itu sebabnya dia tidak ingat.”

“Aku tahu. Dia memahaminya sekarang.” Suara Edward tenang tapi wajahnya kelam oleh amarah. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain, tapi sesuatu menghentikanku. Aku memandang ke bawah, melihat kantong transfusi menahan tanganku.

“Auw.” Aku meringis.

“Ada apa?” tanyanya waswas—perhatiannya teralihkan, tapi hanya sedikit. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya.

“Jarum,” aku menjelaskan, memalingkan pandang. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku.

“Takut jarum,” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, sambil menggeleng.

“Oh, vampir sadis yang berniat menyiksanya sampai mati, tentu, tidak masalah, dia langsung lari menemuinya. Tapi jarum infus...” Aku memutar bola mataku.

Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. Kuputuskan untuk mengubah topik.

Penutup Novel Twilight – JALAN BUNTU Bab 117

Gimana Novel twilight – Port JALAN BUNTU Bab 117 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya