Sunday, February 6, 2022

Bab 113 Novel Twilight – PETAK UMPET - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 113 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PETAK UMPET Bab 113

Bisa kulihat wajahnya dengan sangat jelas sekarang...bahkan mendengar suaranya. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku, aku merasa bahagia. Aku begitu larut dalam lamunan, sehingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu.

“Hei, berapa nomornya?’

Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku, dan bayangan indahku pun lenyap. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya.

“Lima-delapan-dua-satu.” Suaraku tercekat. Sopir taksi menatapku, khawatir aku sakit atau apa.

“Kalau begitu, kita sudah sampai.” Ia ingin sekali mengeluarkanku dari mobilnya, barangkali berharap aku takkan meminta kembalian.

“Terima kasih,” bisikku.

Tak ada alasan untuk takut, aku mengingatkan diriku sendiri. Rumahnya kosong. Aku harus bergegas; ibuku menantiku, ketakutan, mengandalkan aku. Aku lari ke pintu, mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Kubuka pintunya.

Novel Twilight


Di dalam gelap, kosong, normal. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Di sana, di whiteboard, tampak sepuluh digit angka yang rapi. Jemariku gemetaran menekan nomor itu, beberapa kali keliru. Aku harus menutup dan memulai lagi.

Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya, dengan saksama menekannya satu per satu. Berhasil. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Hanya berdering satu kali.

“Halo, Bella,” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. “Ini sangat cepat. Aku terkesan.”

“Apakah ibuku baik-baik saja?”

“Dia sangat baik-baik. Jangan khawatir, Bella, aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Kecuali kau tidak datang sendirian, tentunya.” Ringan, senang. “Aku sendirian.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku.

“Bagus sekali. Sekarang, kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?”

“Ya, aku tahu jalan ke sana.”

Well kalau begitu, kita akan bertemu sebentar lagi” Aku menutup telepon.

Aku lari meninggalkan ruangan, melewati pintu muka, menuju panas yang menyengat.

Tak ada waktu untuk menoleh dan memandang rumahku, dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini— kosong, simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung.

Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku.

Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak.

Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos, makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini.

Tapi aku menjauh dari semua itu, menuju belokan, meninggalkan semua di belakangku.

Aku merasa sangat lamban, seperti berlari di pasir basah— seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini.

Beberapa kali aku terpeleset, sekali jatuh, menahan tubuhku dengan tangan, lalu tertatih-tatih bergerak maju. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan.

Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Aku berlari, peluh menetes-netes di wajahku, napasku terengah-engah. Sinar matahari terasa panas di kulitku. Kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan.

Aku merasa terekspos habis-habisan. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan, aku kini mengharapkan hutanhutan hijau Forks yang protektif rumahku.

Ketika berbelok di sudut terakhir, menuju Jalan Cactus aku bisa melihat studio itu, seperti yang selama ini kuingat Lapangan parkir di depannya kosong, semua kerai jendela tertutup.

Aku tak bisa lari lagi—aku tak sanggup bernapas, kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak, langkah demi langkah.

Ketika semakin dekat, aku bisa melihat tanda di balik pintu. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala, tulisan itu berbunyi

“studio tari ditutup selama libur musim semi”. Kusentuh gagang pintunya, menariknya membuka perlahan. Tidak dikunci.

Aku berusaha mengatur napas, dan membuka pintu.

Lobi gelap dan kosong sejuk, terdengar deru suara pendingin ruangan. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding karpetnya beraroma sampo. Lantai dansa sebelah barat gelap, aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka.

Lampu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala, tapi kerai jendelanya tertutup. Ketakutan mencengkeramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. Kemudian suara ibuku memanggil.

“Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Aku berlari ke pintu, menuju sumber suara.

“Bella, kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi?” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu.

Aku memandang sekelilingku, berusaha menemukan dan mana datangnya suara Mom. Aku mendengarnya tertawa, dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu.

Di sanalah dia, di layar televisi, mengacak-acak rambutku merasa lega. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving, waktu usiaku dua belas. Kami pergi mengunjungi nenekku di California, itu tahun terakhir sebelum ia meninggal.

Suatu hari kami ke pantai, dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ia melihatku nyaris jatuh, berusaha menggapai keseimbangan.

“Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan.

Kemudian layar televisi berubah jadi biru.

Perlahan-lahan aku berbalik. James berdiri mematung di ambang pintu belakang, begitu kaku hingga awalnya aku tak mengenalinya. Ia memegang remote control.

Lama kami bertatapan, kemudian ia tersenyum. Ia berjalan menghampiriku, lumayan dekat, lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. Aku hati-hati berbalik, memerhatikannya.

Penutup Novel Twilight – PETAK UMPET Bab 113

Gimana Novel twilight – Port PETAK UMPET Bab 113 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya