Sunday, February 6, 2022

Bab 112 Novel Twilight – PETAK UMPET - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 112 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PETAK UMPET Bab 112

Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edward semakin dekat. Betapa menakjubkan, setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya, menginginkan kedatangannya. Itu membuatnya sangat sulit. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal,

untuk melihatnya dulu, baru melarikan diri. Tapi aku tahu akan mustahil kabur jika Edward sudah di sini. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan. Aku memberitahunya belum ingin sarapan.

Aku memandang papan jadwal kedatangan, memerhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati baris teratas.

Novel Twilight


Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri, angka-angka itu berubah. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. Aku tak punya waktu lagi.

“Kurasa aku mau makan sekarang” kataku buru-buru.

Alice berdiri. “Aku ikut bersamamu.”

“Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku.

“Aku merasa sedikit...” Aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan.

Jasper bangkit berdiri. Mata Alice tampak bingung tapi yang membuatku lega—ia tidak curiga. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatannya sebagai hasil rencana si pemburu, bukannya pengkhianatanku.

Jasper berjalan tanpa suara di sisiku, tangannya di punggungku, seolah membimbingku. Aku berpura-pura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat, pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. Dan di sanalah, di belokan, di luar jangkauan mata Alice yang tajam: toilet wanita lantai tiga.

“Kau keberatan?” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya.

“Aku tidak bakal lama.”

Begitu pintu menutup di belakang aku lari. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. Pintu yang lain tak jauh dari lift. Aku hanya perlu lari sebentar, dan kalau Jasper tetap menunggu di tempat, ia takkan bisa melihatku.

Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. Ini satu-satunya kesempatanku, bahkan kalaupun Jasper melihat, aku harus terus berlari.

Orang-Orang menatapku, tapi aku mengabaikannya. Di belokan lift sudah menanti, dan aku berlari, mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup.

Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Aku menyelinap di antara para pengguna lift yang kesal, dan memastikan tombol lantai satu telah ditekan. Sudah menyala, dan pintu lift pun menutup.

Begitu pintunya membuka, aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper, dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar.

Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Aku hanya punya bertapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Aku melompat keluar dari pintu otomatis, nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan.

Tak ada taksi satu pun.

Aku tak punya waktu. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang, atau malah sudah. Mereka akan menemukanku dalam sekejap.

Pintu shuttle menuju Hyart sedang menutup, jaraknya beberapa meter di belakangku.

“Tunggu!” aku berseru, melambai-lambai ke arah pengemudinya.

“Ini shuttle ke Hyart,” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu.

“Ya,” napasku tersengal-sengal,

“itu tujuanku.” Aku bergegas menaiki undakannya.

Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan, tapi kemudian mengangkat bahu, tak mau repot-repot bertanya.

Kebanyakan kursinya kosong. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak, kemudian bandaranya, melesat dari pandangan.

Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. Aku belum boleh menangis, aku mengingatkan diri. Jalan yang harus kulalui masih panjang.

Keberuntungan masih bersamaku. Di depan Hyatt, pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi, menyelinap ke jok di belakang pengemudi.

Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku.

Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin.” “Itu di Scottsdale,” protesnya.

Aku melempar empat dua puluh dolaran ke kursi di sebelahnya. ‘Apakah itu cukup?”

“Tentu, Nak, tidak masalah.”

Aku bersandar lagi di jok, melipat tangan di pangkuan, Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku, tapi aku tidak memandang ke luar jendela.

Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. Kuputuskan untuk tidak menyerah, mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan, juga kekhawatiran. Takdirku telah ditentukan Sekarang aku hanya tinggal mengikutinya.

Jadi. Sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward.

Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Betapa luwes dan anggun gerakannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami.

Kemudian aku lari mendekat—kikuk seperti biasa—dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya, akhirnya aman.

Aku bertanya-tanya ke mana kami akan pergi. Ke suatu tempat di utara, agar ia bisa keluar di siang hari. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil, supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi.

Aku membayangkannya di pantai, kulitnya berkilauan bagai air laut. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya.

Aku bisa mengobrol dengannya selamanya, tak pernah tidur, tak pernah meninggalkan sisinya.

 

Penutup Novel Twilight – PETAK UMPET Bab 112

Gimana Novel twilight – Port PETAK UMPET Bab 112 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya