Tuesday, February 22, 2022

Bab 11 Novel Twilight (NEW MOON) – JAHITAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 11 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – JAHITAN Bab 11

Carlisle tertawa, ketegangan langsung mencair.

"Oh, tidak. Kau harus membereskan masalah ini dengan dia!” Tapi sejurus kemudian ia menghela napas panjang.

"Itu bagian yang aku tidak akan pernah bisa yakin. Kupikir, dalam banyak hal lain, aku sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang harus kulakukan. Tapi benarkah tindakanku yang membuat orang lain menjalani kehidupan seperti ini? Aku tak bisa memutuskan."

Aku tidak menjawab. Aku membayangkan bagaimana jadinya hidupku seandainya Carlisle menolak godaan untuk mengubah keberadaannya yang sendirian... dan bergidik.

"Ibu Edward-lah yang membuatku yakin dengan keputusanku" Suara Carlisle nyaris hanya bisikan. Matanya menerawang kosong ke luar jendela yang gelap.

"Ibunya?" Setiap kali aku bertanya kepada Edward tentang orangtuanya, ia hanya berkata mereka sudah lama meninggal dan ingatannya kabur. Sadarlah aku ingatan Carlisle terhadap orangtua Edward, meski pertemuan mereka sangat singkat, pastilah sangat jelas.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Ya. Namanya Elizabeth. Elizabeth Masen. Ayahnya, Edward Senior, tidak pernah tersadar selama di rumah sakit. Dia meninggal saat gelombang pertama serangan influenza terjadi. Tapi Elizabeth sadar nyaris hingga menjelang meninggal. Edward mirip sekali dengannya—warna rambutnya juga pirang tembaga, begitu juga matanya, sama-sama hijau."

"Mata Edward dulu hijau?" gumamku, berusaha membayangkannya.

"Ya..." Carlisle menerawang jauh.

"Elizabeth sangat mengkhawatirkan putranya. Dia mempertaruhkan peluangnya untuk selamat dengan berusaha merawat Edward dalam keadaan sakit. Kusangka Edward-lah yang akan lebih dulu meninggal, kondisinya jauh lebih parah daripada ibunya.

Saat maut menjemput Elizabeth, prosesnya sangat cepat. Kejadiannya tepat setelah matahari terbenam, dan aku datang untuk menggantikan para dokter yang sudah bekerja seharian. Saat itu rasanya sulit sekali berpura-pura—begitu banyak yang harus ditangani, dan aku tidak butuh istirahat. Betapa bencinya aku harus pulang ke rumah, bersembunyi dalam gelap dan berpurapura tidur padahal begitu banyak orang yang sekarat.

"Pertama-tama aku pergi untuk mengecek keadaan Elizabeth dan putranya. Aku mulai merasa terikat pada mereka–hal yang berbahaya mengingat kondisi manusia yang rapuh. Begitu melihatnya, aku langsung tahu kondisi Elizabeth semakin parah. Demamnya tak terkendali, dan tubuhnya sudah tak kuat lagi melawan.

"Tapi dia tidak tampak lemah, saat dia memandangiku dengan mata menyala-nyala dari ranjangnya.”

"Selamatkan dia!” pintanya padaku dengan suara serak yang sanggup dikeluarkan tenggorokannya.

"Aku akan berusaha semampuku” aku berjanji padanya, meraih tangannya. Demamnya tinggi sekali, hingga ia bahkan tak bisa merasakan tanganku yang sangat dingin itu. Semua terasa dingin di kulitnya.

“Kau harus bisa,” desaknya, mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa selamat dari krisis ini.

Matanya keras, seperti batu, seperti zambrud. “Kau harus melakukan semua yang mampu kaulakukan. Apa yang orang lain tidak bisa, itulah yang harus kaulakukan untuk Edward-ku.”

Aku ketakutan. Dia menatapku dengan matanya yang tajam menusuk, dan, sesaat, aku yakin dia tahu rahasiaku. Kemudian demam menguasainya, dan dia tak pernah sadar lagi. Dia meninggal hanya satu jam setelah mengutarakan tuntutannya padaku.

“Berpuluh-puluh tahun lamanya aku mempertimbangkan untuk menciptakan pendamping untuk hidupku. Hanya satu makhluk lain yang bisa benar-benar mengenalku, bukan aku yang berpura-pura. Tapi aku tak pernah bisa menemukan pembenaran untukku – melakukan seperti yang pernah dilakukan terhadapku.

"Lalu di sanalah Edward berbaring, sekarat. Jelas sekali dia hanya punya waktu beberapa jam. Di sampingnya terbaring ibunya, entah bagaimana wajahnya tetap tidak tampak tenang, meski dalam kematian."

Carlisle seperti melihat lagi semuanya, kenangannya tidak pudar meski seabad telah

berlalu. Aku juga bisa melihatnya dengan jelas, saat Carlisle bicara—“keputusasaan yang melingkupi rumah sakit, atmosfer kematian yang terlampau kuat. Tubuh Edward panas membara oleh demam, nyawanya terancam seiring dengan detik-detik yang berjalan... sekujur tubuhku lagilagi bergidik, mengenyahkan bayangan itu dari pikiranku.

"Kata-kata Elizabeth terngiang-ngiang di kepalaku. Bagaimana dia bisa menebak apa yang bisa kulakukan? Mungkinkah ada orang yang benar-benar menginginkan hal itu untuk anaknya? "Kupandangi Edward. Meski sakit keras, dia tetap tampan. Ada sesuatu yang murni dan indah tergambar di wajahnya. Seperti yang kuinginkan di wajah anakku kalau aku punya anak. "Setelah bertahun-tahun tak bisa memutuskan, aku langsung bertindak tanpa berpikir lagi.

Pertama-tama, kudorong dulu jenazah ibunya ke kamar mayat, lalu aku kembali untuk menjemput Edward. Saat itu rumah sakit kekurangan tenaga dan perhatian untuk menangani setengah saja kebutuhan para pasien. Kamar mayat kosong—dari orang hidup, paling tidak. Diam-diam kubawa Edward keluar dari pintu belakang, kugendong melewati atap-atap rumah, kembali ke rumahku.

"Aku tidak tahu harus bagaimana. Kuputuskan untuk membuat kembali luka seperti yang pernah kuterima dulu, beberapa abad sebelumnya di London. Belakangan, aku merasa bersalah. Luka itu lebih menyakitkan dan lebih lama sembuh daripada yang sebenarnya diperlukan.

"Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesal telah menyelamatkan Edward," Carlisle menggeleng, kembali ke masa kini. Ia tersenyum padaku.

"Kurasa sebaiknya kuantar kau pulang sekarang."

"Biar aku saja," kata Edward. Ia muncul dari arah ruang makan yang remang-remang, berjalan lambat-lambat untuk ukurannya.

Wajahnya datar, ekspresinya tak terbaca, tapi ada yang tidak beres dengan matanya—sesuatu yang coba disembunyikannya sekuat tenaga. Aku merasa perutku seperti diaduk-aduk.

"Carlisle bisa mengantarku," kataku.

Aku menunduk memandang kemejaku; bahan katun biru mudanya basah oleh bercak-bercak darah. Bahu kananku berlepotan krim gula warna pink.

"Aku tidak apa-apa," Suara Edward datar tanpa emosi.

"Kau toh perlu ganti baju. Bisa-bisa Charlie terkena serangan jantung kalau melihatmu seperti itu. Akan kuminta Alice mencarikan baju untukmu." Edward berjalan lagi keluar dari pintu dapur.

Kupandangi Carlisle dengan sikap waswas. "Dia kalut sekali."

Penutup Novel Twilight (New Moon)JAHITAN Bab 11

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port JAHITAN Bab 11 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya