Sunday, February 6, 2022

Bab 109 Novel Twilight – TELEPON - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 109 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TELEPON Bab 109

"Mom?"

"Berhati-hatilah, jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu." Suara yang kudengar sekarang terdengar sama asing dan mengejutkannya.

Itu suara tenor laki-laki, suara yang amat menyenangkan dan umum—jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Ia berbicara sangat cepat.

"Nah, aku tak perlu melukai ibumu, jadi tolong lakukan seperti yang kuperintahkan, maka dia akan baik-baik saja." Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam.

"Bagus sekali," ia memujiku.

"Sekarang ulangi kata-kataku, dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. Tolong katakan. Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu."

"Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu." Suaraku tak lebih dari bisikan.

Novel Twilight


“Bisa kulihat ini bakalan sulit." Suara itu terdengar senang masih ringan dan ramah.

"Kenapa kau tidak pergi ke ruangan lain sekarang sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Sambil berjalan, tolong katakan, 'Mom, tolong dengarkan aku.' Katakan sekarang."

"Mom, tolong dengarkan aku," aku memohon. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur, merasakan tatapan waswas Alice di belakangku.

Aku menutup pintu, berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkeram benakku.

“Nah bagus, kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak."

"Ya."

"Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Aku yakin itu."

"Ya."

"Baik, kalau begitu," suara menyenangkan itu melanjutkan, "katakan,'Mom, percayalah padaku.'"

"Mom, percayalah padaku."

"Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Aku sedang bersiap-siap menunggu, tapi ibumu tiba lebih awal. Lebih mudah begini, ya kan? Tidak terlalu menegangkan, kau jadi tidak terlalu khawatir." Aku menunggu.

"Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan sangat saksama. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu; menurutmu, kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak."

"Tidak."

“Aku menyesal mendengarnya. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi dari itu. Menurutmu, apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak."

Entah bagaimana, harus ada cara. Aku ingat kami akan pergi ke bandara. Sky Harbor International Airport: penuh sesak, sangat memusingkan...

“Ya."

“Itu lebih baik. Aku yakin takkan mudah, tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang, well, itu akan sangat buruk bagi ibumu.” Suara ramah itu mengancam.

“Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak."

"Ya." Suaraku parau.

"Bagus sekali. Bella. Sekarang inilah yang harus kaulakukan Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. Di sebelah telepon ada sebuah nomor. Teleponlah, dan aku akan memberitahumu ke mana kau harus pergi selanjutnya." Aku sudah tahu ke mana aku akan pergi, dan di mana ini akan berakhir.

Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat.

"Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak."

"Ya."

"Sebelum siang kumohon. Bella. Waktuku tidak banyak," katanya sopan.

"Di mana Phil?" aku langsung bertanya.

"Ah, hati-hati. Bella. Kumohon, tunggu sampai aku menyuruhmu bicara.” Aku menunggu.

"Ini penting nah, jangan buat teman-temanmu curiga ketika kau kembali pada mereka. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Sekarang ulangi kata-kataku,

'Terima kasih, Mom.' Katakan sekarang."

"Terima kasih, Mom." Air mataku menetes. Aku mencoba menahannya.

“Katakan, ‘Aku mencintaimu, Mom, sampai ketemu.’

Katakan sekarang."

"Aku mencintaimu, Mom." Suaraku terdengar dalam.

“Sampai ketemu," aku berjanji.

“Selamat tinggal Bella. Aku menanti-nantikan bertemu denganmu lagi.” Ia menutup telepon.

Aku menempelkan telepon di telingaku. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat – aku tak dapat meregang jemariku untuk melepaskan telepon itu.

Aku tahu aku harus berfikir, tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri.

Perlahan, amat perlahan, pikiranku mulai menembus dinding sakit. Menyusun rencana. Karena sekarang aku hanya punya satu pilihan: pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tak memiliki jaminan, tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup.

Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan permainan, bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. Keputusasaan mencengkeramku; tak ada cara untuk bernegosiasi, tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa memengaruhinya. Tapi aku masih tidak punya pilihan. Aku harus mencoba.

Penutup Novel Twilight – TELEPON Bab 109

Gimana Novel twilight – Port TELEPON Bab 109 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya