Thursday, February 3, 2022

Bab 107 Novel Twilight – KETIDAKSABARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 107 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 107

"Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?" Alice bertanya, membuyarkan lamunanku.

"Tidak, sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah ke sana. Aku penari yang payah—mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital," aku mengakui.

"Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?" tanya Alice sungguh-sungguh.

"Tidak, kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya, entah di mana."

"Di mana letak studio yang biasa kaudatangi?" Jasper bertanya dengan nada kasual.

“Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah..." kataku, suaraku menghilang.

Aku melihat mereka bertukar pandang.

“Kalau begitu di sini, di Phoenix?" Suara Jasper masih santai.

"Ya,” bisikku. "58th Street dan Cacrus."

Novel Twilight


Kami duduk terdiam, memandangi gambar Alice.

“Alice, apakah telepon itu aman?" "Ya," ia meyakinkanku. "Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington."

"Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.”

"Kupikir dia di Florida."

"Memang—tapi dia akan segera pulang, dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara..." Suaraku gemetar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward, tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie, sekolah, di mana catatan tentang diriku berada.

"Bagaimana kau akan menghubunginya?"

"Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah—dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur." "Jasper?" tanya Alice.

Ia mempertimbangkannya. "Kurasa itu tidak mungkin berbahaya—pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada, tentu saja."

Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali, kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan.

"Mom," kataku setelah bunyi bip,

"ini aku. Dengar, aku mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. Begitu kau menerima pesan ini, hubungi aku di nomor ini." Alice sudah di sisiku, menuliskan nomornya untukku di bagian bawah gambar.

Aku membacanya perlahan, dua kali.

"Kumohon jangan pergi ke mana-mana sampai kau berbicara denganku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, tapi aku harus bicara denganmu secepatnya, tak peduli kapan pun kau menerima pesan mi, oke? Aku mencintaimu, Mom. Bye." Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku.

Aku duduk di sofa, mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring, pengantisipasi malam yang panjang. Aku berpikir untuk menelepon Charlie, tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum.

Aku berkonsentrasi menonton berita, mencari berita tentang Florida, atau tentang pelatihan musim semi – aksi demo atau badai topan atau serangan teroris—apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal.

Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya, sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal dari TV.

Tapi ketika selesai ia hanya duduk, menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-mandir atau mengintip dari balik tirai, atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak, seperti yang kurasakan.

Aku pasti tertidur di sofa, menantikan telepon berbunyi lagi. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur, tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.

Penutup Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 107

Gimana Novel twilight – Port KETIDAKSABARAN Bab 107 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya