Thursday, February 3, 2022

Bab 106 Novel Twilight – KETIDAKSABARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 106 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 106

Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak.

“Apa maksudnya?" aku bertanya.

Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku.

“Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap."

"Tapi kita tidak tahu di mana ruangan itu.”

“Tidak.”

“Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan di utara Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa.

Novel Twilight


"Haruskah kira menelepon?" tanyaku. Mereka bertukar pandangan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak.

Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. "Carlisle," desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan.

"Ya," katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

"Aku baru saja melihatnya." Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya.

"Apa pun yang membuatnya naik ke pesawat itu... itu membimbingnya ke ruangan-ruangan itu." Alice terdiam.

"Ya," ia berbicara di telepon, kemudian ia berbicara padaku.

"Bella?" Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari menghampirinya.

"Halo?" desahku.

"Bella," kata Edward.

"Oh, Edward! Aku sangat khawatir."

“Bella," ia mendesah frustrasi,

"sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri." Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya.

Kurasakan kabut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.

"Kau di mana?"

“Kami berada di luar Vancouver. Bella, maafkan aku— kami kehilangan jejaknya. Dia kelihatannya curiga—dia berhati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Tapi dia sudah pergi sekarang—sepertinya naik pesawat. Kami kira dia kembali ke Forks untuk memulai lagi dari awal." Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku, katakatanya yang cepat terdengar samar bagai gumaman.

“Aku tahu. Alice melihat dia berhasil kabur."

"Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kau hanya perlu tetap di sana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi."

"Aku akan baik-baik saja. Apakah Esme bersama

Charlie?"

"Ya—si wanita ada di kota. Dia pergi ke rumah Charlie, tapi Charlie sedang di tempat kerja. Dia tidak mendekati Charlie, jadi jangan khawatir. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme."

"Apa yang dilakukan wanita itu?"

"Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara, semua jalanan di kota, sekolah... dia mencari-cari, Bella, tapi tak ada yang bisa ditemukannya."

"Kau yakin Charlie aman?"

"Ya, Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Dan sebentar lagi kami akan tiba di sana. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks, kami akan menghabisinya."

"Aku merindukanmu," bisikku.

"Aku tahu. Bella. Percayalah padaku, aku tahu. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu.”

“Kalau begitu datang dan ambillah," aku menantangnya. “Segera, begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman dulu." Suaranya tegang.

“Aku mencintaimu," aku mengingatkannya. “Bisakah kau memercayainya, terlepas dan semua yang telah kaualami karena aku, bahwa aku juga mencintaimu?”

“Ya, sebenarnya aku percaya."

“Aku akan segera datang padamu."

"Aku akan menunggu."

Setelah percakapan selesai, kabut depresi pun menyelimuti ku lagi.

Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. Aku bersandar di sofa, mengintip dari balik bahunya.

Ia sedang menggambar sebuah ruangan: panjang persegi dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin.

Sepanjang dinding setinggi pinggang tampak garis panjang.

Garis yang disebut Alice berwarna emas.

"Itu studio balet," kataku, tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing.

Mereka memandangku, terkejut.

"Kau tahu ruangan ini?" suara Jasper terdengar tenang tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga.

Alice menunduk menatap gambarnya, tangannya menyapu kertas itu sekarang, menggambar tangga darurat di dinding belakang stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

"Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi untuk belajar menari—ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. Bentuknya tak berubah." Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian menyempit di bagian belakang ruangan.

"Di sana letak kamar mandinya— pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Tapi stereonya tadinya di sini"—aku menunjuk sudut kiri—

"sudah lama, dan tidak ada TV. Ada jendela di ruang tunggu-kau akan melihat ruangan itu, dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu.” Alice dan Jasper menatapku.

“Kau yakin ini ruangan yang sama?" Jasper bertanya, masih tenang.

"Tidak, sama sekali tidak—kurasa kebanyakan studio tari kelihatan sama—cermin-cerminnya, palangnya." Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di depan cermin.

"Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing." Aku menyentuh pintunya, terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.

Penutup Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 106

Gimana Novel twilight – Port KETIDAKSABARAN Bab 106 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya