Thursday, February 3, 2022

Bab 104 Novel Twilight – KETIDAKSABARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 104 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 104

Aku langsung lebih waspada. "Dia menelepon?"

“Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa.

"Dia mengatakannya sebelum kita pergi." Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV.

Jesper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan.

Novel Twilight


Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper.

Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diam. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku.

"Ada apa, Alice?" aku bertanya.

"Tidak ada apa-apa." Matanya lebar, jujur... dan aku tidak memercayainya.

"Apa yang kita lakukan sekarang?"

"Kita tunggu sampai Carlisle menelepon."

"Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar.

Tatapan Alice beralih dariku ke telepon di atas tas kulit kemudian kembali menatapku lagi.

"Apa artinya?" suaraku bergetar, dan aku berusaha mengendalikannya.

"Kalau dia belum menelepon?"

"Itu artinya mereka tak ada yang perlu mereka beritahukan pada kita." Tapi suaranya kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas.

Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya.

"Bella," kata Jasper dengan suara menenangkan yang menuakan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau Benar-benar aman di sini."

"Aku tahu itu.”

"Lalu kenapa kau ketakutan?" tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua.

"Kaudengar apa yang dikatakan Laurent." Suaraku hanya bisikan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya.

"Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward..." Aku menelan liurku.

"Kalau si wanita liar itu melukai Esme..." Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. "Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satu pun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku—"

"Bella, Bella, hentikan," Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti.

"Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini—tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengarkan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah.

"Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu."

“Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu—" Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. "Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang dia telah menemukanmu.

Kau tak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahun yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?

Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa memercayai perasaanku selama Jasper ada di sana.

Hari itu berlangsung sangar lama.

Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorang pun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di aras tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu.

Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondar-mandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patung yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, cokelat lagi.

Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk di sana, seperti saat aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing yang meregangkan tubuhnya.

Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah.

Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jesper yang tajam.

Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah tepatnya yang diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku.

Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadi lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku.

"Alice?" aku bertanya.

"Ya?"

Penutup Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 104

Gimana Novel twilight – Port KETIDAKSABARAN Bab 104 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya