Thursday, February 3, 2022

Bab 103 Novel Twilight – KETIDAKSABARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 103 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 103

20. KETIDAKSABARAN


KETIKA terbangun, aku bingung. Pikiranku kabur, masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari di mana aku berada. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada di mana pun, kecuali di hotel.

Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat, begitu juga tirai panjang yang terbuat dan bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya, serta dindingnya yang bercorak umum. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai di sini, tapi awalnya tidak berhasil.

Aku ingat mobil hitam yang mengilat, kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Suara mesinnya nyaris tak terdengar, meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diizinkan di jalan tol.

Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama sekali dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman.

Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin, lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah, dan air mataku habis terkuras. Kantuk meninggalkanku, mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California.

Novel Twilight


Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan, menyengat mataku. Tapi aku tak bisa memejamkannya; ketika aku melakukannya, bayanganbayangan

yang berkelebat tampak kelewat nyata, bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku, tak tertahankan. Ekspresi sedih Charlie—geraman brutal Edward yang memamerkan deretan giginya—tatapan marah Rosalie—tatapan menggebu-gebu si pemburu— tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku... Aku tak tahan melihat semua itu. 

Jadi aku melawan kelelahanku dan matahari pun semakin tinggi. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah, dan matahari berada di belakang sekarang, sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun.

 Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Aku menatap hampa lahan luas yang membentang di hadapanku. 

Phoenix – pohon-pohon palem, semak belukarnya garis-garis tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turgouise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan.

Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan – jelas, lebih tajam dari yang kuingat. lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi di balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikit pun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah.

“Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?" tanya Jasper.

Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang.

"Ikuti terus rute I-sepuluh," jawabku otomatis.

"Kita akan melewatinya." Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur.

"Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?" aku bertanya pada Alice.

"Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga."

Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor

International... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

Meskipun sekarang aku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingar telah meninggalkan mobil— matahari baru saja terbenam—lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat.

Aku tak ingat ruangan ini.

Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur.

Angka yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tidak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikit pun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu.

Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatihtatih ke jendela. menyingkap tirainya.

Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat.

Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek.

Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget.

"Boleh aku masuk?" tanya Alice.

Aku menghela napas panjang. "Tentu." Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati.

"Sepertinya kau butuh tidur lebih lama," katanya.

Aku hanya menggeleng.

Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku.

"Kita harus tinggal di kamar," ia memberitahuku.

“Oke." Suaraku serak, parau.

“Haus?" ia bertanya.

Aku mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?"

“Tak ada yang tak bisa diatasi." Ia tersenyum. "Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.”

Penutup Novel Twilight – KETIDAKSABARAN Bab 103

Gimana Novel twilight – Port KETIDAKSABARAN Bab 103 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya