Friday, January 14, 2022

Bab 5 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

 Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 5

Baca Novel Elena Bab 5 Di Sini Sekarang

Dear Sir, Datanglah ke alamat berikut. Kami akan menemuimu. Di bawahnya tertera alamat. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Singkat sekali. Eugene mengerutkan dahi, ‘KAMI’? Kami siapa? Mungkinkah ... ? Sampai di hotel, Eugene menghampiri meja resepsionis dan bertanya.

novel elena

“Bisakah Pak Udin mengantar saya ke alamat ini nanti sore? Saya harus sampai di tempat pukul lima.” Sejenak resepsionis mengamati alamat tersebut, “Lokasinya agak ke pinggir kota. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk tiba di sana. Lebih baik berangkat sebelum pukul empat. Pak Udin akan saya minta siap-siap.” “Baiklah. Terima kasih.” “Oya, Mary Anne beberapa kali menelepon.

Ia meminta anda segera menghubunginya.” Eugene terdiam sesaat. Ia menghela nafas berat. Entah sudah berapa belas kali Anne meninggalkan pesan. Eugene merasa terganggu tapi tak ada yang ingin ia lakukan selain mengabaikan.

“Apakah anda ingin kami menghubungi Mary Anne dan menyambungkannya ke kamar?” sambung resepsionis itu lagi. “Tidak, tidak perlu. Tolong sambungkan ke nomer ini saja,” Eugene menulis sebaris nomor di kertas yang tersedia di meja resepsionis. “Catherina, dia ibuku,” terangnya. “Baik.

Segera saya sambungkan ke kamar anda.” “Oke. Terima kasih. Jangan lupa nanti sore.” “Tentu tidak, Sir. Pak Udin akan siap sebelum jam empat.” Eugene tersenyum sekilas kemudian berlalu ke kamarnya. Belum lama Eugene masuk, telepon kamarnya berdering.

“Halo Sir, sudah tersambung dengan Mrs. Catherina. Silakan.” “Baik, terima kasih.” “Eugene? Hello, are you there? (Apakah kau di sana?” suara lembut dari seberang sana terdengar. “Ya Mom, aku di sini. Bagaimana keadaanmu?” “Aku baik-baik saja, hanya sedikit bosan. Kau sudah makan belum? Mengapa kau begitu sulit dihubungi? Kapan kau pulang?” “Please Mom, Aku sudah terlalu tua untuk diingatkan. Aku akan makan ketika aku lapar, jangan khawatir aku baik-baik saja.

Tentu aku sulit dihubungi karena kunjunganku ke Jakarta bukan untuk tidur di hotel tapi berkeliling kota.” Eugen tertawa kecil, sebersit rindu menyusup dalam hatinya. Ah sudah hampir setahun Ia tak pulang ke Kanada. “Lalu, kapan kau pulang? Aku bosan. Kakakmu pun sibuk dengan restoran yang kau percayakan padanya, ia jarang mengunjungiku kecuali akhir pekan. Itu pun hanya sebentar. Aku terus berfikir untuk menjual rumah ini dan pindah ke panti. Sehingga aku tidak kesepian lagi.”

“Bersabarlah sedikit lagi, Mom. Aku akan segera pulang, kita diskusikan lagi nanti. Sementara ini ada beberapa hal yang harus Aku urus di sini dan di Taipei. Lalu aku akan pulang ke Kanada menemanimu.” “Kapan Kau menikah?!?” Tiba-tiba ibunya mengganti topik pembicaraan. Eugene selalu menghindari pertanyaan itu. Tapi ibunya tak pernah lalai menanyakan setiap kali ia punya kesempatan berbicara dengannya. “Aku tak tau ...”

“Apa kau akan melajang seumur hidup? Sampai kapan kau akan bertualang dari satu perempuan ke lain perempuan? Usiamu saja yang bertambah tapi kelakuanmu tak bertumbuh, kekanakkan! Apa kau pikir kau bisa cukup bahagia dengan terus hidup bersenang-senang?” “Mom, please ...” untuk sekali ini Eugene merasa tak kuasa membantah. Pencariannya empat hari ini sedikit banyak telah memberinya pelajaran. Eugene terdiam. Ia bisa mendengar ibunya menghela nafas panjang dan sesekali terdengarisak pelan dari seberang sana.

“Andai ayahmu masih ada, Ia juga akan merasa kecewa. Ia menginginkan kau menjadi sosok yang bertanggung jawab dan menghargai hidup. Baik hidupmu sendiri, juga kehidupan orang-orang yang mencintaimu. Kau tidak sadar sedang merusak dirimu sendiri ...”

“Aku sedang berusaha, Mom. Untuk memperbaikinya. Percayalah padaku sekali ini. Aku perlu waktu sedikit lagi.” “Baiklah, Nak. Sekarang aku sedikit lelah.” Aku akan “Beristirahatlah, Mom. meneleponmu lagi nanti.” Lalu terdengar nada telepon terputus. Eugene meletakkan gagang telepon ke tempatnya dan mengusap wajahnya. Di saat-saat seperti ini biasanya alkohol dan rokok menjadi pelampiasan.

Tapi Al membuka babak baru, ia harus bisa menjadi teladan bagi Al. Ia tak ingin Al kecewa, sebagaimana ia mengecewakan ayahnya seperti kata ibunya tadi. Eugene melihat ke arah jam dinding. Hampir pukul satu, perutnya lapar sejak pagi hanya terisi beberapa potong biskuit di sekolah Al tadi pagi. Ia menelepon pelayanan kamar, dengan luwes menyebutkan menu khas Indonesia.

Nasi putih, sop buntut dan teh tawar panas. Tak menunggu lama makanannya terhidang di meja. Ia melahapnya dengan nikmat. Habis tak bersisa. Setelah kurang lebih satu setengah jam mengistirahatkan badannya di atas pembaringan. Eugene bersiap-siap, ia tak mau lagi terlambat. Wajah dan badannya terasa segar sehabis mandi. Dikenakannya pakaian terbaik yang ia bawa.

Siapa yang bisa menjamin ia tak bakal bertemu Elena. “Pak Udin, ayo kita berangkat!” seru Eugene seketika sampai di lobi hotel. Ia melambai pada resepsionis yang membalasnya dengan mengangguksambil tersenyum ramah. Pak Udin setengah berlari menyusulnya keluar pintu hotel, mobil sudah tersedia di depannya. Siap berangkat.

“Sudah sampai, mister” Jam tangan yang dipakai Eugene menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit. Ia tiba lebih awal. Dilongokkan kepalanya keluar jendela mobil, memperhatikan sekitar. Suasananya begitu asri, ditumbuhi banyak pepohonan. Ia melihat sebuah rumah sederhana beraula terbuka cukup luas, dikelilingi pagar hijau setinggi paha orang dewasa.

Agak jauh ke dalam lagi, dilihatnya berjejer beberapa bangunan rumah yang lebih kecil dari rumah utama. “Pak Udin, bisakah kau menunggu sampai urusanku selesai? Aku khawatir agak sulit mencari taksi di sekitar sini.” “Baik mister, saya akan menunggu di sebelah sana ya,” ia menunjukkan sebuah tempat teduh di bawah pohon rindang. “Oke. Terima kasih.”

Eugene keluar dari mobil. Berdiri hampir di bawah tiang nama yang terpancang selangkah di depannya, kepalanya sedikit mendongak mencoba membaca. Tertulis, BAITI QURAN Tahsin dan Rumah Belajar Tahfiz. Eugene mengerutkan kening, satu-satunya kata yang dia tahu berarti Quran. Itulah kitab suci umat Islam. Langkahnya ragu-ragu, memasuki gerbang yang terbuat dari batu bata bertumpuk tinggi. Terdengar suara samar anak-anak membaca sesuatu secara bersamaan.

Tiga gadis kecil seusia Al, mengenakan tutup kepala berwarna cerah berlari melintasinya. Sepertinya mereka terlambat untuk sesuatu. Tak lama kemudian melewati sekelompok wanita dengan pakaian tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki, menundukkan kepala terburu-buru berjalan menuju salah satu rumah yang berjejer di ujung tanpa memandangnya sama sekali.

Dahi dan leher Eugene berkeringat, dia merasa gelisah dan tidak nyaman dengan suasana asing di sekitarnya. Tempat apa ini? Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. Langkah Eugen terhenti. Dia mulai ragu, hampir membalikkan tubuhnya saat seorang remaja laki-laki mendekatinya setengah berlari. “Apakah itu Tuan Eugene? Saya Asep, mahasiswa di sini.

Ayo masuk, Abah sudah menunggu di dalam, "katanya dalam bahasa Inggris yang terputus-putus bercampur dengan aksen Sunda yang terdengar lucu di telinga Eugene. "Baiklah. Senang bertemu denganmu, Asep. Terima kasih, ”Eugene mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh Asep.

Keduanya berjalan beriringan. Masuk ke rumah utama. Asep membiarkan Eugene duduk di ruang tamu, lalu dia menghilang di balik tirai. Eugene melihat sekeliling. Tidak ada yang mewah di ruangan ini. Kursi dan meja terbuat dari anyaman rotan. Dindingnya dicat putih yang terlihat agak kusam karena terlalu lama. Beberapa pot dengan tanaman berdaun lebar ditempatkan di sudut-sudut ruangan.

 Sebuah jam dinding ditempatkan pada bingkai bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Semua efektif sangat sederhana. Sedikit demi sedikit, kecemasan yang melingkupinya berubah menjadi rasa nyaman. Seorang lelaki tua keluar dari balik tirai, tempat Asep baru saja masuk. Rambut dan janggutnya berwarna putih. Dengan perkiraan usia lebih dari enam puluh tahun, tubuhnya terbilang bugar. Tidak gemuk pun tidak kurus. Wajahnya ramah dengan tatapan mata teduh.

Lelaki tua itu menyodorkan tangannya. “Eugene? Perkenalkan saya Abdullah. Para santri di sini memanggil saya dengan sebutan Abah. Kau pun boleh memanggilku begitu,” terangnya. Eugene terkaget-kaget, mendengar lelaki tua itu berbicara dalam bahasa Inggris dengan fasih. Untuk beberapa saat ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Lelaki tua yang meminta dipanggil Abah itu tertawa renyah. “Jangan heran begitu. Saya pernah tinggal di Kanada selama sepuluh tahun!” terangnya lagi sambil menyentuh bahu Eugene sambil tangannya mempersilakan duduk. Eugene tertawa canggung.

“Anda tinggal di mana sewaktu di Kanada?” tanya Eugene penasaran. Ia merasa senang ada seseorang yang bisa diajak berbincang-bincang lancar tanpa harus menebak-nebak maksud pembicara. “Brampton, Ontario. Saya sempat menjadi imam di beberapa masjid di sekitar itu. Bagaimana denganmu?”

“Benar-benar suatu kejutan, saya tinggal di Toronto. Kami mengelola satu restoran di sana. Tapi sementara ini saya berdomisili di Taipei sampai kontrak kerja saya sebagai dosen bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi di Taipei selesai.” “Bagaimana pendapatmu ketika baru sampai tadi? Apakah kau merasa terintimidasi berada di lingkungan sini? Apa kau takut terjebak di sarang teroris???” Ia tertawa terkekeh-kekeh seperti bisa membaca kegelisahannya tadi. Eugene ikut tertawa antara canggung dan malu. Dalam hati Eugene bertanya tanya.

Apa maksud ia diarahkan ke alamat ini, bertemu dengan orang yang sama sekali belum pernah dijumpainya. Keheranannya terjawab ketika seorang wanita keluar dengan membawa dua cangkir teh manis dan kudapan di atas nampan. Ibu Kepala Sekolah, ah sekarang ia menemukan benang merah. “Ini istri saya, Izzatunnisa.

Santri di sini memanggilnya Ummi Izza. Kau pasti sudah bertemu dengannya di sekolah tadi pagi.” Eugene mengiyakan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum hormat sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke dada. Ummi Izza menjawab dengan cara yang sama. Dia kemudian duduk di kursi di sebelah suaminya dan membuka suaranya.

“Abah yang akan menyampaikan maksud kami mengundangmu kesini,” kata Ummi Izza dengan tenang. Pria tua bernama Abah memandang Eugene, dia mengamati dengan seksama. Eugene salah tingkah. Dia kemudian berdiri, berjalan menuju tirai yang membatasi ruang tamu dengan aula yang ditemukan di sebelah rumah. "Kemari!" Panggil Abah. Eugene mendekat dengan ragu-ragu.

Sedikit canggung ketika harus melewati kursi tempat Ummi Izza duduk, "Permisi Bu." Abah menarik sedikit tirai, mereka berdua tampak mengintip. Eugene melihat sebuah aula luas dengan selembar kain hijau di tengahnya yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Di dalam sana anak-anak kecil dan para remaja duduk berkelompok-kelompok membentuk setengah lingkaran.

Di tengah-tengah mereka duduk seorang dewasa. Di bagian laki-laki, matanya menangkap sosok yang ditemuinya pagi tadi. AL! Senyumnya terkembang melihat anak itu duduk dengan takzim menyimak penjelasan seorang pemuda usia dua puluh lima tahunan yang duduk di tengah. “Di sana,” bisik Abah. Eugene mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk Abah.

Dalam sepersekian detik Eugene menemukan Elena, ia duduk di tengah membacakan sesuatu kemudian diikuti oleh perempuan perempuan remaja yang duduk mengelilinginya. Wajahnya polos dan tenang dengan baju panjang dan penutup kepala berwarna hitam. Tanpa sadar ia membisikkan namanya perlahan ‘Elena’ ... “Menemukan yang kau cari?” tanya Abah pelan. Eugene hanya bisa mengangguk tanpa suara matanya lekat menatap Elena.

Abah tiba-tiba menutup tirai kembali, “Sudah cukup ya.” Abah mempersilakan Eugene duduk dan meminum teh nya. Eugene menurutinya, masih dalam diam. “Bolehkah aku menemui dan berbicara dengannya?” Eugene membuka suara setelah berhasil menetralisir perasaannya. “Tidak,” sahut abah singkat.

“Sebentar saja,” Eugene memohon. “Tidak!” tegas Abah. Eugene menghela nafas kecewa, “Lalu untuk apa saya diundang datang ke sini???” Sekarang ia paham yang dimaksud ‘kami’ di surat itu adalah ummi Izza dan Abah saja. Sedang Elena tidak termasuk diantaranya. “Maksud kami mengundangmu kemari adalah agar kau bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa Elena baik-baik saja. Justru pencarianmulah yang bisa melukainya lagi.

Kau tidak akan mengerti proses panjang menyakitkan yang ia lalui untuk dapat mencapai keadaannya seperti sekarang ini. Karenanya kami minta pengertianmu agar kau menjauh dari Elena.” “Saya tidak bisa ... Saya mencintainya.”

“Cinta saja tidak cukup. Kau takkan bisa meraihnya, Eugene. Kau takkan mampu bersaing dengan Rabb-nya.” “Apa maksudmu? Apakah ia masih menikah?” “Kau tak perlu tau apakah Elena masih menjadi istri orang atau tidak. Karena lepas dari hal itu, akidah kami melarangnya.”

“Saya tidak mengerti maksudmu.” Abah menghela nafas panjang, sedikit banyak ia prihatin dengan lelaki di depannya ini. “Maaf, Eugene, apa agamamu?” “Saya ... saya ... saya tidak yakin ...” tiba-tiba suara Eugene tercekat nyaris hilang. Kepalanya ditundukkannya dalam dalam. Ia jelas terlihat kacau. Ia tau betul ibunya adalah seorang kristen yang taat.

Tapi seiring berjalannya waktu, ia banyak mempertanyakan hal-hal yangmenurutnya tidak masuk akal. Maka kemudian sedikit demi sedikit keyakinannya memudar sampai akhirnya ia sepenuhnya tersesat tak tau arah. Abah tidak heran, sepuluh tahun tinggal di luar negeri cukup memberinya pengetahuan betapa banyak orang-orang yang hidup tanpa pegangan. Bahkan mengingkari adanya Tuhan. “Berapa usiamu?” “Empat puluh dua tahun Juli akan datang.”

“Menurutmu kehidupan yang ada di sekitarmu ini, di bumi ini saja misalnya. Bisa tercipta dengan sendirinya? Tanpa ada maksud dan tujuan? Tidakkah dengan usiamu membuka keingintahuan tentang penciptamu? Kami menemukan Elena dalam keadaan trauma mental dan fisik. Kami membawanya ke sini, mencoba membawanya lebih dekat ke agamanya.

Di tempat ini ia mulai belajar mengenal dan mencintai Tuhannya dengan berusaha mematuhi aturan-aturan yang tertulis dalam Al-Qur'an dan hadits. Dan salah satu aturan yang harus dia patuhi adalah tidak berzina dan juga tidak menikahi orang yang berbeda keyakinan. Itulah sebabnya saya katakan, Anda tidak akan bisa menandingi Rabb-nya.” "Jadi apa yang harus aku lakukan?" Eugene menghela nafas bingung. "Pulanglah, tinggalkan Elena. Kami akan menjaganya untukmu.”

“Satu hal lagi, apakah Al anakku?” tanya Eugene serak. “Kami tak berhak menjawabnya. Untuk saat ini biarkanlah takdir yang akan membawamu kelak pada jawabannya. Saya harus memimpin sholat maghrib sebentar lagi. Mari saya antar sampai keluar.”

Eugene berpamitan pada Ummi Izza, wanita itu benar-benar diam seribu bahasa. Tapi sekali lagi, Eugene melihat dari matanya bahwa wanita itu tau lebih banyak dari sekedar yang diucapkannya. Abah mengantarkan Eugene sampai gerbang. Mata Eugene sesekali mencari cari sosok Elena atau Al. Abah hanya tersenyum tipis. “Mereka sudah pulang, jam belajar mengaji selesai setengah jam lalu,” ujar Abah mengerti sekali apa yang Eugene cari.

“Baiklah ... bolehkah aku sesekali menelepon kemari?” “Tentu saja, tapikauhanya bisa berbicara dengan saya. Bahkan tidak dengan ummi Izza.” “Baiklah, saya hanya ingin tau tentang keadaan Al ...” “Eugene, ini ... nomor saya. Dan di balik kartu nama itu saya tuliskan sebuah nama dan nomor telepon orang yang bisa kau hubungi jika kau butuh teman untuk berdiskusi.

Namanya Ibnu, seorang muslim yang tinggal di Kanada dan ia dapat dipercaya.” Eugene menerimanya lalu menjabat erat tangan Abah, “Terima kasih. Saya sangat menghargainya.” Abah menarik tangan Eugene dan memeluknya. Ditepuk-tepuknya pundak Eugene, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, jangan sampai terlambat!” Eugene tak yakin benar apa maksud perkataan itu tapi ia merasakan kesungguhan dan ketulusan di dalamnya.

Mobil yang dikendarai Pak Udin berhenti di depan mereka berdua. Eugene masuk ke dalam mobil lalu menganggukan kepala sebelum akhirnya mobil melaju meninggalkan tempat itu.

Belum seperempat perjalanan suara adzan maghrib terdengar, Pak Udin meminta ijin untuk berhenti di sebuah masjid. Ia mengabulkannya. Dari dalam mobil, dipejamkan matanya ia menyimak suara adzan. Takpaham, tapi hatinyaterasa sejuk dan damai.

Ia sedikit penasaran apakah yang adzan sampaikan? Kurang dari sepuluh menit, pak Udin kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan pulang ke hotel. Kepala Eugene terasa penuh sesak. Pengalaman sore ini terasa sedikit berat, ia butuh istirahat.

Sesampainya di hotel, ia berterima kasih pada pak Udin. Diselipkannya beberapa lembar uang sebagai tanda terima kasih. Lalu melambai ke arah resepsionis hendak langsung naik ke kamarnya ketika resepsionis itu memanggilnya.

“Sir, maaf.” Eugene menghentikan langkahnya, resepsionis tersebut meninggalkan tempat dan menghampirinya. “Ya, ada apa?” “Maaf, Sir. Ada tamu wanita yang menunggu Anda di sana,” ujar resepsionis itu sopan sambil ibu jarinya mengarah ke restoran yang ada di sebelah lobi. Lalu ia kembali ke tempatnya. Tamu perempuan? Siapakah? Dahi Eugene berkerut.

Kesimpulan Novel Elena Bab 5

Bagaiman Bab 5 nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya. 

Selanjutnya
Sebelumnya