Friday, January 14, 2022

Bab 4 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

 Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 4

Baca Novel Elena Bab 4 Di Sini Sekarang

“Maaf mister, tidak bisa masuk bertemu Al. Kecuali Anda membawa bukti persetujuan dari orangtuanya.” Ujar satpam itu tegas. “Ya Tuhan ...” Eugene meremas rambutnya kesal. Kehadiran Eugene mulai menarik perhatian beberapa wali murid, sebagian anak-anak malah menjadikan ia seperti tontonan gratis. Tidak setiap hari ada bule nyasar ke sekolah mereka.

novel elena

“Ada apa ini?” seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahunan menghampiri. Cara berpakaiannya mirip Elena. Kedua satpam tersebut mundur selangkah dengan postur tubuh agak membungkuk. Eugene langsung paham sosok ini disegani.

“Tamu ini memaksa bertemu Al,” ujar salah seorang satpam menunjuk Eugene sopan dengan mengarahkan ibu jarinya. Wanita itu menoleh pada Eugene dengan pandangan menyelidik. Lalu beralih kembali pada kedua satpam.

“Pak Iwan, tolong panggilkan Ibu Guru Dewi dan Al. Minta mereka ke ruangan saya sekarang. Pak Ade silakan kembali ke pos,” instruksinya berwibawa. “Baik, Bu!” jawab keduanya.berbarengan. “Please follow me, (Silakan ikut Saya,)” katanya pada Eugene, tanpa senyum.

“Thank you, thank you so much Mam,” sahut Eugene lega. Ia berjalan dua langkah di belakangnya, sekilas memperhatikan penutup kepala lebar wanita itu berkibar kibar terhembus angin. Mereka berjalan diantara riuhnya murid murid, melintasi lorong sekolah sampai ke depan ruangan yang bertuliskan ‘Izzatunnisa - Kepala Sekolah’. “Silakan masuk dan duduk.”

Wanita itu mempersilakan dengan tetap membuka lebar pintu ruangannya. “Terima kasih.” Eugene menarik kursi agak ke belakang, menjaga jarak. Lalu duduk.

“Nama saya Izzatunnisa, Saya yang bertanggung jawab di sekolah ini. Anda siapa? Apa tujuan Anda datang ke sini?” Wanita itu bertanya tegas tanpa basa-basi.

“Nama saya Eugene. Saya berasal dari Kanada. Saya hanya beberapa hari di Jakarta. Datang kemari untuk bertemu Al memenuhi janji saya padanya,” terang Eugene berusaha tenang. Diambilnya sebuah buku dari tas selempangnya, dibuka tepat di halaman yang terdapat tulisan Al.

Diletakkan di atas meja, menyodorkannya ke hadapan wanita itu. Hati Eugene berdebar memperhatikan wanita itu membaca tulisan Al dan membolak -balik beberapa halaman bukunya. Wanita itu kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi, menghela napas.

“Apa hubungan Anda dengan Al?” selidiknya. “Saya ... saya temannya ...” “Saya tidak paham maksud Anda!” “Baiklah ... Saya berteman dengan Elena, ibunya Al. Kami kemarin tidak sengaja bertemu di sebuah mini market. Dan Al meminta Saya datang ke sini hari ini, seperti yang Anda baca di buku.”

Wanita itu meraih gagang telepon, jemarinya hendak memutar tombol tombol angka ketika Eugene dengan sigap menjauhkan benda itu darinya. Tau persis siapa yang akan ditelepon wanita itu. “Tolong ... jangan hubungi Elena. Saya mohon. Saya berjanji akan berlaku baik dan segera pergi setelah bertemu Al.”

"Assalamualaikum..." Terdengar sapaan disertai ketukan pelan di pintu. Seorang wanita muda, sekali lagi dengan pakaian yang sama seperti Elena datang membawa seorang anak laki-laki. "Tentang Eugene!!!"

Al memanggil Eugene hampir menciprat ke arah Eugene tetapi tangan wanita muda itu menahannya. “Waalaikumsalam, silahkan masuk. Tolong tutup pintunya, ”Seorang wanita bernama Bu Dewi menutup pintu di belakangnya perlahan.

Baunya tegang. Al mengambil kesempatan itu, Dia berlari ke arah Eugene dan meraih tangannya. Demi melihat Al dan Eugene berdiri berdampingan, keduanya Kepala Sekolah dan Bu Dewi terperangah. Betapa mirip. “Al, kau kenal laki-laki ini?” tanya Ibu Kepala Sekolah setelah berhasil menetralisir keterkejutannya.

“Tentu saja, Bu. Namanya Eugene, kami bertemu dengannya kemarin. Ia sangat menyukai Ibuku!” papar Al antusias, Ia maju menunjukkan halaman-halaman di buku Eugene yang dipenuhi tulisan nama Elena. “Ya Tuhan ....” Eugene menepuk keningnya dengan telapak tangan kanan, mukanya terasa panas, memerah. Malu. Ibu Kepala Sekolah sekali lagi menatap Eugene.

Dari tatapannya Eugene merasa yakin bahwa Ia mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya tapi tak tau apa. “Baiklah. Anda hanya boleh tinggal sampai jam istirahat pertama usai. Hari ini adalah hari pengenalan profesi ayah. Ibu Dewi adalah wali kelas Al, akan menjelaskannya lebih lanjut. Ia bisa berbahasa Inggris dengan baik. Dan jangan macam-macam, kami bisa bertindak tegas!” “Baik, baik. Tentu saja.” “Bu Dewi, tolong temani mereka. Awasi, jangan sampai lengah.

Laporkan setiap detilnya kepada Saya siang nanti!” “Baik,” sahut Ibu Dewi. “Terima kasih banyak!” Eugene menyodorkan tangannya, Ibu Kepala Sekolah membalas dengan menganggukkan kepala sambil menarik kedua telapak tangannya ke dada. Eugene sontak menirunya. Lalu mereka bertiga meninggalkan ruangan.

Al menggandeng tangan Eugene masuk ke dalam kelas. Raut mukanya cerah. Di dalam kelas, Eugene menyalami beberapa orang wali murid yang hadir sebelum akhirnya duduk bersebelahan dengan Al di baris paling depan. Tempat yang sengaja dipilihkan oleh Ibu Guru Dewi supaya lebih mudah berkomunikasi dan mengawasi Eugene. “Baiklah, anak-anak.

Hari ini kalian akan memperkenalkan ayah kalian di depan kelas dan para ayah silakan menceritakan sedikit tentang profesi Anda. Dari sini diharapkan anak-anak bisa lebih banyak tau tentang macam-macam profesi dan semoga bisa menginspirasi mereka dalam memilih cita-cita. Kita mulai sesuai abjad. Al Fatih! Silakan urutan pertama, waktunya sepuluh menit.”

Al maju ke depan kelas, berdiri berdampingan dengan Eugene. “Hai teman-teman, perkenalkan Eugene. Ia akan menggantikan ayahku untuk hari ini karena ayahku masih di luar kota dan tidak dapat hadir di sini.” “Hai Al! Hai Eugene!” sapa kelas serentak. “Baiklah. Namaku Eugene.

Saya berasal dari Kanada. Saat ini Saya bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Taipei. Tapi saat ini Saya tidak akan menceritakan tentang menjadi seorang guru. Saya akan menceritakan tentang hobi saya memasak. Ya Saya juga seorang koki, di Kanada Saya mengelola sebuah restauran keluarga. Hampir setiap malam restauran kami penuh pengunjung terutama di akhir pekan. Intinya jadikanlah pekerjaanmu sesuatu yang kalian sukai agar kalian bahagia.”

Eugene bercerita dengan sesekali memberi jeda kepada Bu Dewi untuk menterjemahkannya. “Semua pasti sayang bukan dengan Ibu-ibu kalian? Saya akan memberikan satu resep sarapan yang mudah dan lezat. Kalian bisa membuatnya bekerjasama dengan ayah dan menyajikannya sebagai kejutan sarapan untuk Ibu kalian akhir pekan ini. Setuju?!?” Seisi kelas bersorak girang, Eugene melirik Al yang sedang tersenyum dalam hati Eugene berkata ‘akan tiba giliran kita suatu hari nanti bersabarlah’.

Tepat setelah penampilan anak dan ayah terakhir selesai, bel istirahat pertama berbunyi. Seisi kelas keluar dengan tertib kecuali tiga orang, Al, Eugene dan Bu mengawasi. Mereka tetap di tempatnya. Al mengeluarkan kotak makan dan botol minumnya. “Kau mau, Om?” Al menawarkan biskuit yang dibawanya dari rumah. “Panggil Eugene saja,” sahutnya sambil mengambil sekeping biskuit dan hendak memasukan ke dalam mulutnya dengan tangan kiri.

“Oke. Makanlah dengan tangan kanan, Eugene.” Bu Dewi tersenyum mendengar ucapan Al, Eugene serta merta menarik tangan kiri kemudian menjulurkan tangan kanannya, canggung. “Aku membawakanmu sesuatu,” Eugene membuka tas selempang dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. “Apa ini?” Mata Al berbinar. “Bukalah.” “WOW! Miniatur kereta! Terima kasih Eugene! Aku suka sekali!” Al memeluk Eugene yang turut tertawa bahagia.

“Ini miniatur kereta pertama dibuat lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Kereta kereta itu terdiri atas gerbong-gerbong yang ditarik dengan sejenis mesin uap yang disebut lokomotif. Mesin ini sebagai tenaga utama pada kereta. Lokomotif uap ini diberi nama Big Boy yang mempunyai kekuatan menarik seratus gerbong yang terisi penuh.”

Eugene terus menjelaskan sementara Al memperhatikan miniatur kereta itu dengan terkagum-kagum. Tidak lama bel berbunyi tanda jam istirahat pertama berakhir. Eugene mendesah berat, Ia masih ingin bersama Al tapi waktunya sudah selesai. “Aku harus pergi, Al.

Jaga dirimu dan Ibumu baik-baik. Kita akan bertemu lagi secepatnya.” “Kau janji?” “Ya, Aku akan berusaha. Kau pun janji akan menjadi anak tangguh demi Ibumu?” Al mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia sungguh-sungguh menyukai Eugene. “Waktunya sudah habis, Sir.

Al harus kembali belajar,” Bu Dewi mengingatkan sambil bangkit dari duduknya. “Baiklah. Baiklah.” Eugene bangkit dari duduknya kemudian berlutut di dekat Al. Dipeluknya lelaki kecil itu hangat, lalu mencium rambut dan mengacaknya. “Terima kasih sudah datang. Aku senang sekali.”

“Terima kasih kembali. Aku pun sangat menikmatinya. Sampai jumpa, Al!” Eugene beranjak pergi. Al mengikuti sampai ke depan pintu kelas, melambaikan tangannya sekali. Memperhatikan punggung Eugene sampai hilang dibalik tikungan lorong sekolah. Eugene menghela nafas berat. Antara sedih dan senang. Tapi paling tidak Ia semakin yakin apa yang ia perjuangkan. Pak Iwan mensejajari langkah Eugene. Ia menyodorkan sesuatu.

“Bukumu, mister, ketinggalan.” “Ah ya ya ya, terima kasih, Pak Iwan.” “Saya diminta Ibu Kepala Sekolah untuk mengantar mister sampai benar benar meninggalkan sekolah,” ujarnya jujur. Eugene hanya mengangguk-angguk tak paham tapi Ia bisa mengira-ngira kenapa Pak Iwan belum juga kunjung meninggalkannya. “Baiklah. Terima kasih,” Eugene tersenyum.

Sebuah taksi berhenti di hadapan mereka berdua. Eugene masuk ke dalamnya. Belum sempat ia menutup pintu, Pak Iwan menyodorkan kembali sebuah amplop. “Ada titipan surat dari Ibu Kepala Sekolah, beliau berpesan agar Saya memberikannya kepada mister setelah masuk ke dalam taksi.”  “Baiklah, Pak Iwan. Terima kasih,” entah sudah berapa kali Ia mengucapkan terima kasih, paling tidak hanya itu yang kedua orang itu mengerti artinya.

Taksi melaju perlahan menuju kembali ke hotel. Eugene menyobek amplopnya dengan hati-hati. Ia menemukan secarik kertas, dan membacanya. Dear Sir, Datanglah pukul lima sore ini ke alamat berikut. Kami akan menemuimu. Di bawahnya tertera alamat. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Singkat sekali. Eugene mengerutkan dahi, ‘KAMI’? Kami siapa? Mungkinkah ... ?

Kesimpulan Novel Elena Bab 4

Bagaiman Bab 4 nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya