Friday, January 14, 2022

Bab 9 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 9

Baca Novel Elena Bab 9 Di Sini Sekarang

Elena membuka lipatan kertas yang disodorkan Ibnu, dibacanya perlahan sambil sesekali menahan napas.

-------------------------------------------

Untuk: Ibnu

suamiku tercinta dan Elena, sahabatku tersayang warrohmatullaahi Assalamualaikum wabarokatuh. Aku menulis surat ini, atas nama cinta yang besarnya hanya Allah saja yang tahu.

Saat kalian baca ini kemungkinan besar aku sudah tidak ada di antara kalian. Doakan aku. Ketahuilah kalian adalah dua orang istimewa dalam hidupku yang kucintai karena Allah, selain Maryam, Abah dan Ummi.

Suamiku sayang, aku tahu permintaan ini terasa berat. Percayalah aku bukan tak yakin akan kesetiaan dan cintamu padaku. Hanya saja aku tak ingin kebahagiaan yang pernah aku rasakan bersamamu ini cuma milikku sendiri. Aku ingin berbagi dengan sahabatku, Elena.

Kau pasti bertanya-tanya, kenapa Elena? Karena aku yakin ada kebaikan luar biasa pada dirinya, hanya ia belum menyadarinya. Sebagaimana aku melihatmu pada saat orangtuamu datang ke rumahku.

Aku tau hidayah itu hak prerogatif Allah, tapi bukankah pintu seringkali tidak terbuka jika tidak diketuk? Dan aku ingin kau yang mengetuk pintu itu untuk Elena, karena aku tidak mempunyai kesempatan mengetuknya sendiri.

Ajak ia untuk bersama-sama hijrah belajar menjadi lebih baik di jalan Allah. Aku mencintaimu dan menyayangi Elena, berharap kelak kita semua bisa berkumpul bersama di Jannah-Nya. Suamiku sayang, bersabarlah atas Elena. Ia, dengan ijin Allah, akan menjadi shalihah pada waktunya.

Dan untukmu Elena sayang, menyerahlah pada Rabb-mu. Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik, sekelam apa pun masa lalu yang kau punya. Jangan khawatirkan sakit hatimu, biar Allah yang menyembuhkannya.

Jangan kalian khawatirkan perasaan cinta yang belum hadir di antara kalian. Cintai saja Allah dulu. Orang yang sama-sama mencintai Allah, keduanya tidak akan sulit untuk saling jatuh cinta. Titip peluk cium untuk Maryam, sampaikan setiap hari padanya bahwa aku mencintainya. Tolong jaga ia untukku. Wassalamualaikum,

Safitri

----------------------------------------------------------

novel elena

Tangis Elena menghebat, Ibnu bangkit meraihnya dalam pelukannya. Ia merasa hati Elena pada akhirnya telah terketuk, bukan olehnya tapi oleh Safitri melalui suratnya. Seorang pelayan datang membawa pesanan. Elena buru-buru menyusut airmatanya.

“Maryam, ayo kemari. Minum dulu lalu kita pulang, maghrib hampir menjelang,” panggil Ibnu.

Selepas sholat Isya di masjid, Ibnu masuk ke dalam kamar dan mendapati Elena terisak di atas sajadahnya. Ibnu menutup pintu kamar perlahan lalu menguncinya. Dihampirinya Elena, mengusap kepalanya yang masih tertutup mukenah. Tiba-tiba Elena berbalik, memeluk kedua kaki Ibnu.

 “Maafkan aku, Mas. Maafkan ...”

parau suara Elena diantara isak tangisnya, ia tak kuasa mengakui dosa-dosa di hadapan suaminya. Ibnu melepaskan pelukan Elena di kakinya, meraih tangannya dan mengajaknya berdiri. Diangkatnya dagu Elena, lembut jemarinya menghapus air mata Elena yang jatuh berderai di pipinya.

“Aku memaafkanmu,”

Ibnu menatap dalam-dalam mata Elena sambil tersenyum.

Lalu membenamkan kepala Elena ke dadanya. Shubuh berikutnya sepulang dari masjid, Ibnu tersenyum bahagia melihat Elena sudah bangun dan sedang mendirikan sholat di kamarnya. Sekitar jam enam pagi, Ibnu dan Maryam sedang sarapan di meja makan ketika Elena datang menghampiri.

Keduanya tertegun lama menyaksikan pemandangan di depan matanya, mulut Ibnu terlihat sedikit ternganga.

“Apa aku tak pantas memakainya?”

tanya Elena takut-takut. Ibnu masih belum bisa berkata apa-apa. Di hadapannya Elena berdiri mengenakan setelan blouse merah hati dan rok hitam panjang semata kaki. Kepalanya tertutup kerudung motif bunga-bunga dengan warna senada. Elena terlihat sangat anggun dan berbeda. Maryam tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah Elena kemudian meraih jemari Elena.

“Cantik sekali. Sekarang sudah mirip Ummi sedikit,” ujarnya sambil menarik Elena duduk di sebelahnya.

Elena tersipu, mendapati Ibnu tak kunjung melepaskan pandangannya. Ada desir halus hadir dalam dada. Bunyi klakson terdengar beberapa kali, mobil jemputan sekolah datang.

Maryam buru-buru memakai tas sekolahnya, dia mencium tangan Ibn lalu berlari keluar. Tidak lama kemudian, dia berlari kembali. Mendekati Elena yang masih duduk, dia meraih tangan kanan Elena dan menciumnya dengan hormat lalu mencium pipi Elena lalu berlalu.

Elena sedikit terkejut karena sebelumnya Maryam tidak pernah ingin mencium tangannya, apalagi pipinya. Dia kemudian tertawa kecil. Elena menyelesaikan sarapannya dan bangkit untuk membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. Dia sedang mencuci tangannya ketika Ibn memeluknya dari belakang.

Dan desisan itu menjadi lebih jelas, Elena canggung.

"Kau terlihat sangat cantik pagi ini. Apakah Anda pikir tidak apa-apa jika kita datang terlambat untuk bekerja kadang-kadang? ”

Pertanyaan itu terdengar lebih seperti menggoda ditelinga Elena. Tapiia taktahan untuk tidak mengiyakan. Ia membalikkan badannya, mengangguk pelan sementara wajahnya bersemu semakin tersipu.

Elena sudah membulatkan tekadnya. Ia akan memutuskan hubungannya dengan Eugene, jangan tanya tentang cinta hatinya masih sama. Tapi ia tak sanggup lagi dalam murka Rabb-nya. Ditekannya nomor telepon rumah Eugene dari gawainya. Terdengar nada sambung.

“Halo,” sapa Elena hatinya mulai ragu.

“Elena, Elena kau baik-baik saja? Aku mencoba menghubungimu puluhan kali sejak aku tiba di Kanada.

Apa yang terjadi?” Eugene langsung mengenali suara Elena dan mencecarnya dengan penuh kecemasan.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Dengarkan aku, Eugene.

Aku berniat untuk hijrah memperbaiki diriku dan agamaku. Karenanya, aku akan meninggalkanmu ...” suara Elena hampir hilang tercekat, ia merasakan sebagian dirinya ikut tercerabut ketika mengatakan itu.

“Apa maksudmu? Aku tak paham. Apakah ini ada hubungannya dengan malam itu? Aku minta maaf, Elena. Aku mohon ... aku akan datang secepatnya menemuimu. Tolong jangan begitu ... Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan membawamu pergi. Tunggu aku,” tuturnya tersengal.

Elena merasakan kepanikan dan ketakutan Eugene, airmatanya menetes. Diteguhkannya hatinya lalu memencet tombol‘end’.

Tangannya meraba kalung pemberian Eugene. Dilepaskannya dengan hati-hati, dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil lalu disimpan di dalam tas. Kening Elena berpeluh, badannya terasa dingin dan lemas.

Seluruh isi perutnya sudah dikeluarkan namun ia tetap merasakan mual. Beberapa hari ini ia merasakan kurang enak badan. Terdengar pintu kamar mandi diketuk dari luar perlahan.

“Elena, kau tidak apa-apa?” tanya Ibnu cemas.

“Aku cuma masuk angin,” jawab Elena lemas sambil membuka kunci kamar mandi.

Ibnu menuntun Elena ke tempat tidur, disusunnya bantal sedemikian rupa demi membuat kepala Elena rebah dengan lebih nyaman. Lalu dioleskannya minyak kayu putih ke punggung dan perut Elena.

“Makan dulu, ya? Aku ambilkan,” tawar Ibnu. Elena menggeleng, ia lelah muntah setiap kali mencoba menelan sesuatu. Indra perasa dan penciumannya terasa lebih sensitif belakangan ini.

“Safitri dulu pun seperti ini ketika minggu-minggu pertama mengandung Maryam ...”

Ibnu berujar hati-hati. Elena kaget setengah mati mendengar perkataan Ibnu. Ia tidak pernah terpikir sampai ke sana. Mungkinkah?

Kesimpulan Novel Elena Bab 9

Bagaiman Bab nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya