Sunday, January 30, 2022

Bab 77 Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 77 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 77

“Kau sudah siap tidur?" tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. "Atau kau punya pertanyaan lagi?"

"Hanya sejuta atau dua.”

"Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.

"Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?" Aku menginginkan kepastian. "Lagi pula, kau ini makhluk legenda."

"Aku takkan meninggalkanmu." Suaranya memancarkan kesungguhan.

Novel Twilight


"Kalau begitu, satu lagi malam ini..." Dan aku pun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu—aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba.

"Apa itu?"

"Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran."

"Bella, kau bisa bertanya apa pun padaku." Aku tak menyahut, dan ia mengerang.

“Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustrasi

bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru makin parah dan lebih parah lagi."

“Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau." "Please?" Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng.

"Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tingga menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” lagi-lagi, suara bujuk rayu itu.

Well,” aku memulainya, senang ia tidak bisa melihat wajahku

"Ya?"

"Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?"

Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. "Apakah itu arah pembicaraanmu?"

Aku gelisah, tak mampu menjawab.

"Ya, kurasa kurang-lebih sama," katanya. "Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi."

Aku hanya bisa menggumamkan "Oh." "Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?" "Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari..."

Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya.

"Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita." “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?"

"Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja." Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak

tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku.

"Kalau aku terlalu gegabah... seandainya satu detik saja aku tak cukup memerhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu.” Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam.

“Kau takut?" tanyanya.

Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. "Tidak, aku baik-baik saja."

Ia seperti berpikir selama sesaat.

"Meski begitu, sekarang aku penasaran," katanya, suaranya kembali ringan.

"Kau sudah pernah.." ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

“Tentu saja belum." Wajahku memerah.

"Sudah kubilang aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain, sedikit pun tidak."

"Aku tahu. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan." "Bagiku ya. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku," aku mendesah.

"Bagus. Setidaknya kita punya persamaan." Ia terdengar puas.

"Naluri manusiamu...," aku memulai. Ia menanti.

"Well, apakah kau menganggapku menarik dari segi itu, sama sekali?"

Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering.

"Aku mungkin bukan manusia, tapi aku laki-laki," ia meyakinkanku.

Aku menguap tanpa sengaja.

“Aku telah menjawab pertanyaanmu, sekarang kau harus tidur," ia bersikeras.

"Aku tak yakin apakah aku bisa."

“Kau mau aku pergi?"

"Tidak!" seruku terlalu lantang.

Ia tertawa, kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi, nina bobo yang asing, suara malaikat, lembut di telingaku.

Lebih letih daripada yang kusadari, lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya, aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.

Penutup Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 77

Gimana Novel twilight – Port Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 77 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya