Sunday, January 30, 2022

Bab 76 Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 76 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 76

Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat.

"Apa—" aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tiba-tiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjerembab.

"Berbaringlah!" desisnya.

Novel Twilight


Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan.

Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebihlebihkannya.

Saru menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku.

"Kau aktris yang payah-bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu."

"Sialan." gumamku. Jantungku berdebar kencang.

Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal;

kedengarannya seperti lagu nina bobo.

Ia berhenti. "Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?"

"Yang benar saja," aku tertawa. "Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau di sini!"

"Kau melakukannya setiap saat," ia mengingatkanku.

"Tapi aku tidak tahu kau ada di sini," balasku dingin. "Jadi kalau kau tidak ingin tidur...," ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan.

"Kalau aku tidak ingin tidur...?"

Ia tergelak. "Kalau begitu apa yang ingin kaulakukan?" Mula-mula aku tak bisa menjawab.

"Aku tidak tahu," jawabku akhirnya.

"Katakan kalau kau sudah memutuskannya." Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas.

"Kupikir kau sudah kebal?"

"Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya," bisiknya.

"Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia" ujarnya.

"Menggiurkan.”

"Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang memberitahuku betapa lezat aromaku." Ia tergelak, lalu mendesah.

"Aku telah memutuskan apa yang ingin kulakukan," aku memberitahunya.

"Aku mau mendengar lebih banyak tentang mu."

"Tanyakan apa saja."

Aku memilah pertanyaanku hingga yang paling penting.

"Kenapa kau melakukannya?" kataku.

"Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya, tolong jangan salah mengerti, tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal." Ia sempat ragu sebelum menjawab.

“Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya— mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami—mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya—untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satu pun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki."

Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan.

"Apakah kau tertidur?" ia berbisik setelah beberapa menit.

"Tidak."

"Cuma itu yang membuatmu penasaran?"

Aku memutar bola mataku. "Tidak juga."

"Apa lagi yang ingin kauketahui?"

"Kenapa kau bisa membaca pikiran—kenapa hanya kau? Dan Alice melibat masa depan... kenapa itu terjadi?"

Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan.

“Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat – seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. Dan bahwa Alice memiliki indra keenam, di mana pun dia berada."

“Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?:

“Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala," ia tergelak.

"Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu memengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang dia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya—menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih jadi bersemangat. Karunia

yang sangat unik."

Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir.

"Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti juga telah mengubahnya, dan seterusnya..."

"Well, dari mana asalmu? Evolusi? Penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit memercayainya, apakah begitu sulit untuk memercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” "Biar kuluruskan—aku bayi anjing lautnya, kan?”

"Benar." Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku— bibirnya?

Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang: aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

Penutup Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 76

Gimana Novel twilight – Port Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 76 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya