Sunday, January 30, 2022

Bab 74 Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 74 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 74

Perlahan-lahan ia bangkit duduk, supaya tidak mengejutkanku lagi. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menautkan lengannya yang panjang, mengangkatku, memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. Ia mendudukkanku tempat tidur di sebelahnya.

"Kenapa kau tidak duduk saja denganku?" ia menyarankan, meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. "Bagaimana jantungmu?"

"Kau saja yang bilang—aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku."

Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur.

Novel Twilight


Sesaat kami duduk diam di sana, sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah.

"Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?' pintaku.

"Tentu." Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya.

"Diam di situ," kataku, mencoba tampak galak. “Ya, Ma'am.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku.

Aku melompat, memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Aku membiarkan lampu tidak menyala, meluncur keluar, kemudian menutup pintu. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Aku membanting pintu kamar mandi keras-keras, supaya Charlie tidak naik mencariku.

Aku bermaksud buru-buru. Kugosok gigiku keras-keras, berusaha menyeluruh sekaligus cepat, menyingkirkan sisasisa lasagna. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku, menenangkan denyut nadiku.

Aroma khas sampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward, yang sedang duduk di kamarku, menunggu, karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi.

Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Kumatikan keran air, handukan sekenanya, terburu-buru lagi. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku.

Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun lalu, yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.

Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk, kemudian menyisirnya cepat-cepat. Kulempar handuknya ke keranjang, lalu melempar sikat dan pasta gigi ke tasku. Kemudian aku meluncur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi.

"Selamat malam, Dad."

"Selamat malam, Bella." Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Barangkali itu akan mencegahnya memeriksaku malam ini.

Aku menaiki anak tangga dua-dua, berusaha tetap tenang, dan meluncur ke kamar, menutup pintu rapat-rapat. Edward tak bergerak sedikit pun dari posisi semula, bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak, patungnya menjadi hidup.

Matanya mengamanku, rambutku yang basah. T-Shirt yang sudah berlubang-lubang. Salah satu alisnya terangkat. "Bagus."

Aku nyengir.

"Sungguh, pakaian itu tampak bagus padamu." “Terima kasih." bisikku. Aku kembali ke sisinya, duduk menyilangkan kaki di sebelahnya. Aku memandang garisgaris lantai kayu kamarku.

"Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?"

"Charlie pikir, aku bakal menyelinap keluar."

"Oh." Ia memikirkannya.

“Kenapa?" Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga.

"Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat." Ia mengangkat daguku, mengamati wajahku.

"Sebenarnya kau tampak hangat sekali."

Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku, meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. Aku sama sekali tak bergerak.

"Mmmmmm...," desahnya.

Saat ia menyentuhku, sangat sulit untuk memikirkan pertanyaan yang masuk akal. Saat konsentrasiku buyar, butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.

"Sepertinya... sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku."

"Begitukah yang kaulihat?" gumamnya, hidungnya meluncur ke sudut rahangku.

Aku merasakan tangannya, lebih ringan dari sayap ngengat, menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.

"Amat sangat lebih mudah," kataku mencoba mengembuskan napas. °

"Hmm."

"Jadi, aku bertanya-tanya...” aku memulai lagi, tapi jarijarinya

perlahan menelusuri tulang selangkaku, dan aku kehilangan akal sehatku.

"Ya?" desahnya.

"Kenapa," suaraku bergetar, membuatku malu, "seperti itu menurutmu?"

Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa.

"Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik." Aku menarik diri; dan ia membeku—dan aku tak lagi mendengar suara napasnya.

Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati, kemudian, bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks, ekspresinya tampak bingung. "Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tidak—justru sebaliknya. Kau membuatku sinting," paparku.

Ia memikirkannya sebentar, dan ketika berbicara ia terdengar senang. "Benarkah?" Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.

"Kau mau tepukan tangan?" tanyaku sinis.

Ia nyengir.

"Aku hanya terkejut," ia menjelaskan.

"Selama kuranglebih seratus tahun terakhir," suaranya menggoda,

"aku tak pernah membayangkan sesuatu seperti ini. Aku tak percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku... bukan dalam artian seorang adik. Dan menemukan, meskipun semuanya baru bagiku, bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat... bersamamu...."

"Kau bisa melakukan apa saja," ujarku. Ia mengangkat bahu, menerima pujianku, dan kami tertawa pelan.

"Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?" desakku.

"Sore tadi..."

"Ini tidak mudah,” desahnya. "Tapi sore tadi. aku masih... ragu. Maafkan aku soal itu, benar-benar tak termaafkan bersikap seperti itu.”

“Tidak tak termaafkan,” sergahku.

"Terima kasih.” Ia tersenyum.

"Kau tahu," lanjutnya, sekarang menunduk,

"aku tidak yakin apakah aku cukup kuat..." Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya.

"Selain kemungkinan aku dapat... menaklukkan"—ia menghirup aroma pergelangan tanganku—

"aku juga rapuh. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat, bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan... bahwa aku dapat..."

Penutup Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 74

Gimana Novel twilight – Port Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 74 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya