Thursday, January 27, 2022

Bab 73 Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 73 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 73

Piringnya berputar, menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Aku tetap menatap piring ketika bicara.

“Seberapa sering?" tanyaku kasual.

“Hmmm?" Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.

Aku masih tidak berpaling. "Seberapa sering kau datang kemari?"

“Aku datang ke sini hampir setiap malam."

Aku berputar, terperangah. "Kenapa?" “Kau menarik ketika sedang tidur." Nada suaranya datar. “Kau mengigau."

Novel Twilight


“Tidak!" sahurku menahan napas, wajahku memanas hingga ke garis rambut.

Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur, tentu saja; ibuku selalu menggodaku soal ini. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya di sini.

Ekspresinya langsung berubah kecewa. "Apa kau sangat marah padaku?"

"Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas.

Ia menanti.

"Pada?" desaknya.

"Apa yang kaudengar!" erangku.

Saat itu juga, tanpa suara, ia sudah pindah ke sisiku, tangannya meraih tanganku dengan hati-hati.

"Jangan sedih!" ia memohon. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku, kemudian menatapnya. Aku merasa malu. Aku mencoba memalingkan wajah.

"Kau merindukan ibumu," bisiknya. "Kau mengkhawatirkannya.

Dan ketika hujan turun, suaranya membuatmu gelisah. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu, tapi sekarang sudah jauh berkurang. Kau pernah mengatakan sekali,

“Terlalu hijau?” Ia tertawa lembut, berharap aku bisa melihatnya, dan tidak membuatku tersinggung lagi.

"Ada lagi?" desakku.

Ia tahu maksudku. "Kau memanggil namaku," ia mengakui.

Aku mendesah kalah. "Sering?"

"Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’, tepatnya?"

"Oh tidak!" Kepalaku terkulai.

Ia menarikku lembut ke dadanya. Gerakannya sangat alami.

"Jangan malu," ia berbisik di telingaku. "Seandainya bisa bermimpi, aku pasti akan memimpikanmu. Dan aku tidak merasa malu.”

Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan, melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan, terus ke lorong menuju ke kami. Tubuhku kaku dalam pelukannya.

"Haruskah ayahmu tahu aku di sini?" tanyanya.

"Aku tidak yakin..." Aku memikirkannya dengan cepat. "Kalau begitu lain waktu saja..." Dan aku pun sendirian.

"Edward!" desisku tertahan.

Aku mendengar suara tawa yang samar, lalu lenyap.

Terdengar suara Dad membuka kunci pintu.

"Bella?" panggilnya. Sebelumnya hal ini menggangguku, siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tibatiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan.

"Di sini." Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku.

Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward.

“Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali." Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya, sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward.

Aku membawa makananku, mengunyahnya sambil mengambilkan makan malamnya. Aku kepedasan. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie, dan meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Ketika aku meletakkan gelasku, susunya bergetar. Aku baru menyadari tanganku gemetaran. Charlie duduk di kursi, dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk di sana sebelum dia, benar-benar menggelikan.

“Terima kasih." sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja.

"Bagaimana harimu?" tanyaku, buru-buru. Aku ingin sekal, pergi ke kamar.

"Bagus. Acara memancingnya biasa saja... kau? Apakah semua yang ingin kaukerjakan akhirnya selesai?" "Tidak juga—cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja." Aku menyuap lasagna-ku lagi. "Hari ini memang bagus," timpalnya. Betapa ironisnya, pikirku.

Begitu lasagna-ku habis, aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa.

Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memerhatikan. "Sedang terburu-buru?"

"Yeah, aku lelah. Aku mau tidur lebih cepat."

"Kau kelihatan agak tegang," ujarnya. Mengapa, oh, mengapa ia harus begitu perhatian malam ini?

"Masa sih?" Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering.

“Ini hari Sabtu," sahutnya menerawang.

Aku tak menjawab.

“Tak ada rencana malam ini?" tanyanya tiba-tiba.

"Tidak, Dad, aku hanya mau tidur."

“Tak satu pun cowok di kota ini sesuai tipemu, ya?" Ia curiga, tapi berusaha terdengar biasa saja.

“Tidak, belum ada cowok yang menarik perhatianku." Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie.

"Kupikir Mike Newton itu... katamu dia ramah."

“Dia hanya teman, Dad.”

“Wol, lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua. Tunggu sampai kuliah nanti, kalau mau mencari teman istimewa.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.

“Sepertinya ide bagus," aku menimpali sambil menaiki tangga.

“Selamat malam, Sayang," ujarnya.

Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman, menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah.

"Sampai besok pagi, Dad." Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku.

Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Kututup pintunya cukup keras untuk didengarnya, kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam.

Mataku mencari-cari dalam kegelapan, ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus.

"Edward?" bisikku, merasa benar-benar tolol.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. "Ya?" Aku berbalik, salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut.

Ia berbaring, tersenyum lebar di tempat tidurku, tangannya menyilang di belakang kepala, kakinya berayunayun di ujung tempat tidur, posisinya sangat santai.

“Oh!" aku mendesah, jatuh lemas ke lantai.

“Maafkan aku.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, berusaha menyembunyikan perasaan gelinya.

“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku.”

Penutup Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 73

Gimana Novel twilight – Port Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 73 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya