Thursday, January 27, 2022

Bab 72 Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 72 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 72

Mereka mengembangkan kesadaran, begitu kami menyebutnya, tanpa bimbingan dari luar. Jasper berasal dari keluarga... lain, jenis keluarga yang sangat berbeda. Dia tertekan, dan akhirnya memilih mengembara sendirian. Alice menemukannya. Seperti aku, Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami.”

"Sungguh?" selaku, terkesima.

"Tapi karamu, kau satusatunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain." "Memang benar. Alice mengetahui hal lain. Dia melihat hal-hal—hal-hal yang mungkin terjadi, hal-hal yang akan datang. Tapi itu sangat subjektif. Masa depan tidak terukir di atas batu. Segala sesuatu berubah." Rahangnya mengeras ketika mengatakan itu, dan matanya tertuju padaku, lalu berlalu begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya.

Novel Twilight


"Hal-hal apa yang dilihatnya?"

"Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami, dan mereka datang bersamasama menemui kami. Alice paling sensitif terhadap makhluk bukan-manusia. Dia selalu melihat, contohnya, ketika kelompok lain jenis kami mendekat. Dan ancaman apa pun yang mungkin ditimbulkan."

"Apakah jenis kalian... ada banyak?" Aku terkejut. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan di antara manusia tanpa terdeteksi?

"Tidak, tidak banyak. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Hanya yang seperti kami, yang telah berhenti memburu kalian manusia"-ia mengerling licik padaku—"bisa hidup bersama manusia selama apa pun. Kami hanya menemukan seperti kami, di desa kecil di Alaska. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama, tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. Jenis seperti kami yang hidup... secara berbeda cenderung berkumpul bersama.

"Dan yang lain?"

"Kebanyakan berpindah-pindah. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. Seperti yang lainnya, kebiasaan ini mulai membosankan. Kadang-kadang kami bertemu yang lain, karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara."

"Kenapa begitu?"

Kami telah sampai di depan rumahku sekarang, dan ia mematikan truk. Suasana sangat tenang dan gelap; tak ada bulan. Lampu teras mati, jadi aku tahu ayahku belum pulang.

"Kau memerhatikan sore tadi?" godanya.

"Kaupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic, salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh."

“Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?"

"Barangkali."

“Dan Alice berasal dari keluarga yang lain, seperti

Jasper?"

“Tidak, dan itu adalah misteri. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Dia terbangun sendirian. Siapa pun yang menciptakannya telah meninggalkannya, dan tak satu pun dari kami mengerti kenapa, atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu, seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami, dia barangkali bisa berubah jahat." Banyak sekali yang harus dipikirkan, banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. Tapi yang membuatku teramat malu, perutku keroncongan.

Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan.

"Maaf, aku membuatmu terlambat makan malam."

“Aku baik-baik saja, sungguh."

“Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. Aku lupa.”

"Aku ingin bersamamu." Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan, mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kecanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata.

"Tidak bisakah aku masuk?" tanyanya.

"Kau mau?" Aku tak bisa membayangkannya, makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek.

“Ya, kalau tidak merepotkan." Aku mendengar pintunya menutup pelan, dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku, membukakannya untukku.

“Sangat manusiawi," aku memujinya.

“Jelas kebiasaan itu muncul lagi."

Ia berjalan di sisiku dalam kegelapan malam, begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih di sana. Dalam gelap ia tampak jauh lebih normal.

Masih pucat, ketampanannya masih bagai ilusi, tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah sinar matahari seperti sore tadi. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. Aku berhenti di tengah-tengah pintu.

"Pintunya tak terkunci?"

"Bukan, aku menggunakan kunci di bawah daun pintu." Aku melangkah masuk, menyalakan lampu teras, dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya.

“Aku penasaran denganmu."

"Kau memata-mataiku?" Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Aku tersanjung. Ia kelihatan tidak menyesal.

"Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?"

Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. Ia sudah di sana, sama sekali tak perlu diarahkan. Ia duduk di kursi yang sama dengan yang kubayangkan akan didudukinya. Ketampanannya membuat dapur bersinar-sinar.

Lama baru aku bisa berpaling. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku, mengambil lasagna sisa semalam dari dapur, menempatkan sebagian di piring, kemudian memanaskannya di microwave.

Penutup Novel Twilight – Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 72

Gimana Novel twilight – Port Tekad Yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Bab 72 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya