Thursday, January 27, 2022

Bab 70 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 70 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 70

"Haruskah aku... ?" Aku mencoba menahan diri, memberinya sedikit ruang.

Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikit pun. "Tidak, aku bisa menolerirnya. Tolong tunggu sebentar." Suaranya sopan, terkendali.

Aku terus menatap matanya, memerhatikan hasrat yang berkobar-kobar di dalamnya mulai memudar dan melembut.

Novel Twilight


Kemudian ia tersenyum, dan senyumnya tak disangkasangka nakal.

"Nah," katanya, jelas puas dengan dirinya sendiri.

"Bisa ditolerir?" tanyaku.

Ia tertawa keras. "Aku lebih kuat daripada yang kuduga.

Senang mengetahuinya."

"Kuharap aku bisa mengatakan yang sama. Maafkan aku.''

"Kau toh hanya manusia biasa."

"Terima kasih banyak," sahutku getir.

Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. Ia mengulurkan tangan padaku, gerakan yang tak kusangkasangka.

Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tak bersentuhan. Kugenggam tangannya yang dingin, memerlukannya lebih dari dugaanku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya.

"Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?" Betapa ceria, betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini, wajah malaikatnya tampak tenang. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal.

Dan aku merasa lebih tergilagila padanya. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang.

“Aku tidak yakin, aku masih pening," akhirnya aku berhasil menyahut.

"Kurasa gabungan keduanya."

"Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi."

"Kau gila ya?" protesku.

"Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu." godanya.

"Refleksmu jauh lebih lambat."

"Aku yakin itu benar, tapi kurasa keberanianku, atau trukku, bisa menerimanya.”

"Percayalah, Bella, sedikit saja."

Kuselipkan tanganku di saku celana, menggenggam kunci mobilku erat-erat.

“Tidak. Tidak sedikit pun."

Alisnya terangkat tak percaya.

Aku mulai mengitarinya, menuju sisi pengemudi. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku.

"Bella, aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan lurus pun kau tak bisa. Lagi pula, seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk," kutipnya sambil tergelak.

Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.

"Mabuk?" timpalku keberatan.

“Kau mabuk oleh kehadiranku." Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi.

"Aku tak bisa menyangkal yang satu itu," desahku.

Tak ada jalan keluar, aku tak bisa menolaknya untuk apa pun. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkannya, mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.

"Santai saja—trukku sudah cukup tua.”

"Sangat masuk akal," timpalnya.

"Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. "Oleh kehadiranku?"

Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi menjadi lembut dan hangat. Awalnya ia tidak menjawab hanya menundukkan wajahnya ke arahku, dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku, mulai dari telinga ke dagu, berulang-ulang. Aku gemetaran.

"Bagaimanapun," akhirnya ia bergumam, "refleksku lebih baik.

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 70

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 70 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya