Thursday, January 27, 2022

Bab 69 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 69 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 69

Ia tertawa, lebih keras daripada yang pernah kudengar. "Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!"

"Benar, aku yakin kau sering mendengarnya."

"Ayo, pengecut kecilku, naik ke punggungku." Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau, tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh.

Novel Twilight


Ia tersenyum melihat keraguanku, lalu mengulurkan tangan meraihku. Jantungku bereaksi; meskipun tak bisa mendengar pikiranku, ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah-payah. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. Rasanya seperti memeluk batu.

“Aku agak lebih berat daripada tas ranselmu," aku mengingatkannya.

“Hah!" dengusnya. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya.

Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku, menekankan telapak tanganku ke wajahnya, dan menghirupnya dalam-dalam.

"Selalu lebih mudah daripada sebelumnya" gumamnya.

Kemudian ia berlari.

Jika sebelumnya keberadaannya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian, itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini.

Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru, bagai hantu. Tak ada suara, tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. Irama napasnya tak pernah berubah, tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat, selalu luput menyentuh kami.

Aku terlalu takut untuk memejamkan mata, meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa mabuk.

Kemudian selesai. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward, dan sekarang, dalam hitungan menit, kami sudah sampai lagi di truk.

“Asyik, bukan?" Suaranya meninggi, senang.

Ia berdiri tak bergerak, menungguku turun. Aku mencobanya, tapi otot-ototku kaku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman.

“Bella?" panggilnya, sekarang terdengar waswas.

“Rasanya aku perlu berbaring," aku menahan napas. "Oh, maaf." Ia menungguku, tapi aku masih tetap tak bisa bergerak.

"Sepertinya aku perlu bantuan,” ujarku. Ia tertawa pelan, dan dengan lembut melepaskan cengkeramanku di lehernya.

Kupasrahkan diriku. Kemudian ia menarikku menghadapnya, menggendongku seolah aku kanak-kanak. Ia memelukku sebentar, lalu hatihati menurunkanku ke atas hamparan pakis.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Aku tidak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali.

"Rasanya pusing."

"Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu." Aku mencobanya, dan lumayan membantu.

Aku bernapas pelan, menjaga kepalaku tetap tenang. Aku merasakan ia duduk di sisiku. Waktu berlalu, dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. Telingaku berdenging.

"Kurasa itu bukan gagasan yang bagus," gumamnya.

Aku mencoba bersikap positif, namun suaraku lemah.

"Tidak, itu tadi sangat menarik."

"Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu—oh bukan, kau

sepucat aku!"

“Seharusnya tadi aku memejamkan mata." Lain kali ingat itu."

"Lain kali!" erangku.

Ia tertawa. Suasana hatinya masih bagus.

“Tukang pamer," gumamku.

“Buka matamu, Bella," ujarnya pelan.

Dan di sanalah dia, wajahnya sangat dekat denganku. Ketampanannya memukauku—terlalu berlebihan, kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa.

“Aku sedang berpikir, ketika aku berlari...” Ia terdiam.

"Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan." "Bella kau lucu." ia tergelak. "Berlari adalah sesuatu yang alami, bukan sesuatu yang harus kupikirkan." "Tukang pamer," gumamku lagi. Ia tersenyum.

"Bukan," lanjutnya,

"aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba." Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. Aku tak bisa bernapas.

Ia ragu-ragu—tidak seperti biasanya, seperti cara manusia.

Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita, untuk mengira-ngira bagaimana reaksinya, untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu, saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.

Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri, untuk mengetahui apakah ini aman, untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya.

Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku.

Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reaksiku. Darahku mendidih dan membara di bibirku. Napasku terengah-engah. Jemariku meremas rambutnya, mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.

Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku.

Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. “Ups," desahku.

"Itu namanya melecehkan."

Tatapannya liar, rahangnya menegang, meski begitu artikulasinya tetap sempurna. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Aku terpana dibuatnya.

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 69

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 69 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya