Thursday, January 27, 2022

Bab 67 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 67 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 67

Aku tak sanggup berkata-kata.

“Aku melakukan tindakan pencegahan, berburu, makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Aku sombong mengenai hal ini.

Novel Twilight


“Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benar-benar menggangguku. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara, mendengarkan pikiranmu melalui pikiran Jessica... pikirannya tidak terlalu orisinal, dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. Lagi pula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Sangat menyebalkan.” Ia Cemberut mengingatnya.

"Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu, bila mungkin, jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapa pun. Sebenarnya aku sangat ingin, aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. Tapi kau terlalu menarik, aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu... dan sesekali kau mengibasngibaskan

tangan atau rambutmu, dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi... "Tentu saja, kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. Baru setelannya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu—karena jika aku tidak menyelamatkanmu, jika darahmu tercecer di sana di depanku, kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Saat itu, yang bisa kupikirkan hanya, 'Jangan dia.'"

Ia memejamkan mata, larut dalam pengakuannya yang menyiksa. Aku mendengarkan, lebih antusias daripada rasional. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut.

Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya, bahkan sekarang, ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.

Akhirnya aku bisa bicara, meski suaraku samar-samar.

"Di rumah sakit?"

Matanya berkilat-kilat menatapku. "Aku kaget.

Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami, menaruh diriku dalam kuasamu—dirimu, dari semua orang yang ada. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu.

" Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. "Tapi efeknya justru kebalikannya," ia bergegas melanjutkan.

"Aku bertengkar dengan Rosalie, Emmett, dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya... pertengkaran terburuk kami. Carlisle membelaku, begitu juga Alice." Ia meringis ketika menyebut nama itu. Aku tak bisa menebak alasannya.

"Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal." Ia menggeleng tulus.

"Sepanjang keesokan harinya, aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu, dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. Dan setiap hari aroma kulitmu, napasmu, rambutmu... memukulku sama kerasnya seperti hari pertama."

Mata kami kembali bertemu, dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya.

"Karenanya," lanjutnya,

"akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu, daripada sekarang, di sini—tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku—seandainya aku akan menyakitimu." Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya,

"Kenapa?"

"Isabella." Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati, kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang.

"Bella, aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku." Ia menunduk, kembali malu-malu. "Bayangan dirimu, kaku, putih, dingin... tak bisa melihatmu merona lagi, tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku... rasanya tak tertahankan." Ia menatapku dengan matanya yang indah, namun tersiksa.

"Kau yang terpenting bagiku sekarang. Terpenting bagiku sampai kapan pun.”

Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. Dari topik menyenangkan tentang kematianku sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. Ia menunggu, dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku.

"Kau sudah tahu bagaimana perasaanku, tentu saja,” kataku akhirnya "Aku ada di sini... yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu."

Wajahku muram. "Bodohnya aku."

"Kau memang bodoh," ia menimpaliku sambil tertawa. Tatapan kami bertemu, dan aku ikut tertawa. Kami samasama

menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.

"Jadi singa jatuh cinta pada domba... ," gumamnya. Aku berpaling menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu.

"Domba bodoh," desahku.

"Singa masokistik menjijikkan." Lama sekali ia memandang hutan yang gelap , dan aku bertanya-tanya ke mana pikirannya telah membawanya.

"Kenapa... ?” aku memulai, kemudian berhenti, tak yakin bagaimana meneruskannya.

Ia memandangku dan tersenyum; sinar matahari

membuat wajah dan giginya berkilauan.

"Ya?"

“Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya."Senyumnya memudar.

"Kau tahu kenapa."

"Tidak, maksudku, tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga, tahu, jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. Ini, contohnya"—aku membelai punggung tangannya – “sepertinya tidak masalah."

Ia tersenyum lagi. "Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Bella. Itu salahku."

"Tapi aku ingin membantu, kalau bisa, agar ini tidak

lebih sulit lagi bagimu."

"Wol..." Sesaat ia memikirkannya.

“Masalahnya kau begitu dekat. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami mundur karena keanehan kami... Aku tidak berharap kau akan sedekat ini. Dan aroma lebermu.” Ia berhenti sesaat, melihat apakah ia membuatku marah.

"Baik kalau begitu," kataku bergurau, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.

Aku melipat daguku. "Aku takkan memperlihatkan leherku." Berhasil; ia tertawa. "Tidak, sungguh, lebih pada kejutannya daripada yang lainnya."

Ia mengangkat tangannya yang bebas, dan menaruhnya dengan lembut di leherku. Aku duduk diam tak bergerak, sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami— peringatan yang menyuruhku untuk takut. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain...

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 67

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 67 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya