Thursday, January 27, 2022

Bab 66 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 66 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 66

Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.

"Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Barangkah terlalu mudah untuk menolak brendi. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pencandu heroin."

"Jadi maksudmu, aku semacam heroin bagimu?" godaku, berusaha mencairkan suasana.

Ia langsung tersenyum, sepertinya menghargai usahaku.

"Ya, kau adalah heroin bagiku."

"Apakah itu sering terjadi?" tanyaku.

Ia memandang melampaui puncak pohon, memikirkan jawabannya. "Aku membicarakan hal ini dengan saudara-saudara lakilakiku."

Novel Twilight


Ia masih memandang kejauhan.

"Bagi Jasper, kalian manusia kurang-lebih sama. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma, juga rasa." Ia memandangku, raut wajahnya menyesal.

"Maaf,” katanya.

"Aku tak keberatan. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung, atau takut, atau apa pun. Begitulah caramu berpikir. Aku bisa mengerti, atau setidaknya mencoba. Jelaskan saja sebisamu." Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit.

"Jadi, Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama"—ia ragu, mencari-cari kara yang tepat—"menariknya seperti kau bagiku.

Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. Emmett, boleh dibilang sudah lebih lama bersama kami, jadi dia mengerti maksudku. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya, yang kedua lebih kuat daripada yang pertama."

"Dan kau?"

"Tidak pernah."

Kata itu melayang sesaat di sana, dalam embusan angin yang hangat.

"Apa yang dilakukan Emmett?" tanyaku memecah keheningan.

Pertanyaan yang salah. Wajahnya menjadi gelap, tangannya mengepal dalam genggamanku. Ia membuang muka. Aku menunggu, tapi ia takkan menjawab.

"Kurasa aku tahu," kataku akhirnya.

Ia melirik; wajahnya muram, memohon.

"Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf, bukan begitu?"

“Apa yang kauminta dariku? Izinku?" Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan.

Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah – aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur.

"Maksudku, apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri!

"Tidak, tidak!" Ia langsung menyesal. "Tentu saja ada harapan! Maksudku, tentu saja aku tidak akan..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, matanya nanar menatapku.

"Kisah kita berbeda. Emmett... dia tidak mengenal kedua gadis itu, mereka hanya kebetulan berpapasan dengannya. Kejadiannya sudah lama sekali, dan dia tidak... setangkas dan sehati-hati sekarang."

Ia terdiam dan mengamanku lekat-lekat ketika aku merenungkannya.

"Jadi kalau kita bertemu... oh, di lorong gelap atau apa...” Nyaliku ciut.

"Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan—" Sekonyong-konyong ia berhenti, memalingkan wajah.

"Ketika kau berjalan melewatiku, aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami, saat itu juga. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak, yah, bertahun-tahun yang lalu, aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri." Ia berhenti, memandang geram pepohonan.

Ia memandangku muram, kami mengingat saat-saat itu.

"Kau pasti menduga aku kerasukan."

"Aku tidak mengerti alasannya. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu..."

"Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang di kirim langsung dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Aroma yang menguar dari kulitmu... Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku, agar aku bisa berdua saja denganmu.

Dan aku terus melawan keinginan itu, memikirkan keluargaku, apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku Aku harus pergi, menghilang, sebelum aku mengucapkan, kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku..."

Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya, menghipnotis dan mematikan.

"Kau pasti datang," ujarnya.

Aku mencoba berkata dengan tenang, "Tak diragukan lagi."

Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku, membebaskanku dari kekuatan tatapannya. "Kemudian, ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu, kau ada di sana—di ruangan kecil hangat itu, begitu dekat, aroma tubuhmu membuatku sinting. Saat itu aku nyaris menculikmu. Hanya ada satu manusia lemah di sana—sangat mudah untuk diatasi." Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari, ingatanku diperbarui lewat matanya, hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya.

Miss Cope yang malang; aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya.

"Tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu bagaimana. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu, tidak mengikutimu dari sekolah. Bagiku di luar lebih mudah, karena di sana aku tak bisa mencium aromamu. Aku bisa berpikir dengan jernih, membuat keputusan yang tepat. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah—aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku, mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah—lalu aku pergi menemui Carlisle, di rumah sakit, untuk memberitahunya aku akan pergi." Aku menatapnya terpana.

“Aku bertukar mobil dengannya—bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Aku tidak berani pulang menemui Esme. Dia tidak akan tinggal diam sampai mengetahui apa yang terjadi. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting... "Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska." Ia

terdengar malu, seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. "Dua hari aku di sana, bersama beberapa kenalan lama... tapi aku rindu rumah. Aku benci karena telah mengecewakan Esme, dan yang lainnya, keluarga adopsiku. Dalam udara bersih pegunungan, sulit memercayai betapa sangat menggodanya dirimu. Aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku.

Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan, tidak sebesar ini, dekat pun tidak, tapi aku kuat. Siapa kau ini, gadis kecil tak penting"—tiba-tiba ia nyengir—"yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali..." Pandangannya menerawang.

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 66

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 66 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya