Thursday, January 27, 2022

Bab 65 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 65 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 65

"Aku predator terbaik di dunia, bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku mengundangmu mendekat—suaraku, wajahku, bahkan aromaku. Seperti aku membutuhkannya saja!" Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri, pergi, langsung lenyap dari pandangan, dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya, setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik.

"Seperti kau bisa kabur dariku saja," ia tertawa getir.

Ia mengulurkan satu tangannya, dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya, hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya, lalu melemparnya begitu cepat, mengempaskannya ke pohon besar lain. Pohon itu bergoyang dan bergetar.

Novel Twilight


Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi, setengah meter dariku, kaku bagai batu.

“Seperti kau bisa melawanku saja." katanya lembut.

Aku duduk tak bergerak, merasa lebih takut padanya dari pada selama ini. Aku tak pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. Ia tak pernah

benarbenar

lebih tidak manusiawi... atau lebih menawan. Dengan wajah pucat dan mata membelalak, aku duduk bagai burung siap dimangsa ular.

Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. Lalu, ketika detik demi detik berlalu, percikan itu memudar. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang purba.

"Jangan takut," gumamnya, suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda.

"Aku berjanji...," ujarnya ragu.

"Aku bersumpah tidak akan menyakitimu." Ia kelihatan lebih ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku.

"Jangan takut," bisiknya lagi sambil mendekat, dengan amat perlahan. Ia duduk luwes, dengan gerakan tak bergegas yang disengaja, hingga wajah kami sejajar, hanya terpisah tiga puluh senti.

"Kumohon maafkan aku," pintanya.

"Aku bisa mengendalikan diri. Kau membuatku tak berdaya. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali." Ia menunggu, tapi aku masih tak sanggup bicara.

"Sejujurnya, hari ini aku tidak merasa haus." Ia mengedipkan mata. Mendengar itu aku harus tertawa, meski suara tawaku gemetar dan tertahan.

“Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya lembut, perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku.

Aku memandang tangannya yang dingin dan halus, lalu matanya. Mata itu lembut, penuh penyesalan. Aku kembali menatap tangannya, kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. Aku memandangnya dan tersenyum gugup.

Senyuman balasannya sungguh memesona. “Jadi, tadi kita sampai di mana, sebelum aku bersikap kasar,” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. “Sejujurnya, aku tidak bisa mengingatnya."

Ia tersenyum, tapi wajahnya tampak malu. "Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut, di samping alasan yang sudah jelas."

"Oh, benar."

"Jadi?"

Aku menunduk menatap tangannya, dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. Detik demi detik pun berlalu.

"Betapa mudahnya aku marah," desahnya. Aku menatap matanya, dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya, juga bagiku.

Dan terlepas dari begitu banyaknya hal tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun, ini juga masih sama sulitnya baginya.

Kubesarkan hatiku melihat kenyataan ini.

"Aku takut... karena, untuk, Well, alasan yang jelas, aku tak bisa terus di dekatmu. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat daripada seharusnya." Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu.

Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.

"Ya," timpalnya pelan. "Jelas, itu sesuatu yang perlu ditakutkan. Keinginan untuk bersamaku. Itu sungguh bukan

ke inginanmu yang terbaik." Aku cemberut.

"Aku seharusnya pergi sejak lama," desahnya. "Aku seharusnya pergi sekarang. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa."

"Aku tidak ingin kau pergi," gumamku sedih, seraya menunduk lagi.

“Itulah sebabnya aku harus pergi. Tapi jangan khawatir. Pada dasarnya aku makhluk egois. Aku terlalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

"Aku senang."

"Jangan!" Ia menarik tangannya, kali ini lebih lembut; suaranya lebih parau daripada biasanya.

Parau untuk ukurannya, tapi toh tetap masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya— perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi, dan bingung.

"Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain." Ia berhenti, dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. Aku berpikir sesaat.

"Sepertinya aku tidak mengerti apa sebenarnya yang kaumaksud—terutama bagian terakhir," kataku. Ia kembali menatapku dan tersenyum, belum apa-apa suasana harinya lagi-lagi berubah.

“Bagaimana aku menjelaskannya?" godanya.

"Tanpa membuatmu takut lagi... hmmmm." Tanpa terlihat memikirkannya, ia meletakkan tangannya dalam genggamanku; dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku.

Ia memandang tangan kami. "Kehangatan ini luar biasa menyenangkan." Ia mendesah.

Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya.

“Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?" ia memulai.

"Beberapa orang menyukai es krim cokelat, yang lain memilih stroberi?" Aku mengangguk.

"Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya." Aku tersenyum. Ia balas tersenyum menyesal.

"Kau tahu, setiap orang punya aroma berbeda, inti berbeda. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi, dia akan dengan senang meminumnya. Tapi dia bisa menolaknya, kalau ia memang ingin, kalau ia bukan peminum lagi.

Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu, cognac langka terbaik—dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat—menurutmu, apa yang akan dilakukannya?"

Kami duduk diam, saling menatap—mencoba membaca pikiran satu sama lain.

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 65

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 65 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya