Thursday, January 27, 2022

Bab 64 Novel Twilight – Pengakuan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 64 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Pengakuan Bab 64

13. PENGAKUAN


MELIHAT Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. Aku takkan pernah terbiasa dengannya, meskipun aku telah memandanginya seharian ini. Kulitnya, putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin, tampak kemilau, seolah-olah ribuan berlian mungil tertanam di bawah permukaan kulitnya.

Ia berbaring tak bergerak di rerumputan, kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya, lengannya yang telanjang juga berkilauan.

Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam, meski tentu saja ia tidak tertidur. Patung yang sempurna, terukir dari bebatuan entah apa namanya, halus bagai pualam, berkilauan bagai kristal.

Terkadang bibirnya bergerak-gerak, begitu cepat hingga seperti gemetar. Tapi ketika kutanya, katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri: terlalu pelan untuk bisa kudengar.

Novel Twilight


Aku juga menikmati sinar matahari, meskipun udara tidak cukup kering bagiku. Aku ingin berbaring, seperti yang dilakukannya, dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku, dagu kuletakkan di lutut, tak ingin berpaling dari wajahnya. Angin bertiup pelan. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di selatar tubuh Edward yang tak bergerak.

Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku, kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang.

Dengan ragu-ragu, selalu khawatir, bahkan sekarang, bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi, terlalu indah untuk menjadi kenyataan...

kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan, yang berada di dekatku. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna, halus bagai satin, dingin seperti batu. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka, mengamanku. Hari ini warnanya cokelat keemasan, lebih ringan dan hangat setelah berburu. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela.

"Aku tidak membuatmu takut, kan?" guraunya, tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya.

"Tak lebih dari biasanya."

Ia tersenyum lebih lebar; giginya mengilap di bawah sinar matahari.

Aku beringsut mendekat, sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengan ujung jari. Jemariku gemetaran, dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya.

“Kau keberatan?" tanyaku, karena ia sudah memejamkan mata lagi.

“Tidak," katanya tanpa membuka mata

"Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya." Ia mendesah.

Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna, mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. Dengan tangan lain, aku meraih dan membalikkan tangannya.

Menyadari apa yang kuinginkan, ia membalikkan tangan dengan cepat, gerakannya membuatku terkesiap. Aku terkejut, sesaat jarijariku membeku di lengannya.

"Maaf," gumamnya. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi. "Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu."

Kuangkat tangannya, membolak-balikkannya sambil mengamati matahari yang menyinari telapak tangannya. Kudekatkan tangannya ke wajahku, mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi.

"Katakan apa yang kaupikirkan," bisiknya. Aku melihat dan mendapatinya menatapku, mendadak begitu lekat.

"Masih tidak biasa untukku, untuk tidak mengetahui."

"Kau tahu, kita semua merasa seperti itu setiap saat."

"Hidup ini sulit." Apakah aku hanya membayangkan nada sesal dalam suaranya?

"Tapi kau tidak memberitahuku."

"Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kaupikirkan...," ujarku ragu-ragu.

"Dan?"

"Aku berharap dapat memercayai bahwa dirimu nyata.

Dan aku berharap aku tidak takut."

"Aku tidak ingin kau takut." Suaranya menggumam lembut Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya, bahwa aku tak perlu takut, bahwa tak ada yang perlu ditakuti.

"Well, bukan rasa takut itu yang kumaksud, meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan."

Semua berlangsung begini cepat hingga aku tidak melihat gerakannya, sekarang ia setengah duduk, bertopang pada lengan kanannya, telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku.

Aku mungkin saja—seharusnya—menjauh dari kedekatannya yang tak disangka-sangka, tapi aku tak bisa bergerak. Matanya yang keemasan memesonaku.

"Lalu apa yang kautakutkan?" bisiknya sungguhsungguh. Tapi aku tak bisa menjawab. Seperti yang pernah kualami sebelumnya, aku mencium napas sejuknya di wajahku.

Manis, nikmat, aroma yang membuatku meneteskan air liur. Tidak seperti apa pun di dunia ini. Secara naluriah, tanpa berpikir, aku mendekat padanya, menghirupnya.

Dan ia menghilang, melepaskan tangannya dariku. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus, ia berada enam meter dariku, berdiri di ujung padang rumput kecil ini, di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. Ia menatapku, matanya tampak kelam dalam bayangan itu, ekspresinya tak dapat kutebak.

Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. Tanganku yang kosong bagai tersengat.

“Maafkan... aku..., Edward," bisikku. Aku tahu ia bisa mendengarnya.

“Beri aku waktu sebentar," sahutnya, cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. Aku duduk diam tak bergerak.

Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama, ia berjalan kembali ke arahku, pelan untuk ukurannya. Ia berhenti, masih beberapa meter jauhnya, dan duduk anggun di tanah, kakinya menyilang. Tak sekali pun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. Ia menghela napas panjang dua kali, lalu senyum menyesal.

“Aku sangat menyesal," ujarnya ragu.

"Apakah kau bisa mengerti maksudku, kalau kubilang aku hanya manusia?" Aku mengangguk sekali, tak bisa tersenyum mendengar gurauannya.

Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. Senyumnya berubah mengejek.

Penutup Novel Twilight – Pengakuan Bab 64

Gimana Novel twilight – Port Pengakuan Bab 64 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya