Thursday, January 27, 2022

Bab 63 Novel Twilight – Penyeimbangan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 63 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Penyeimbangan Bab 63

Sekarang di luar terasa hangat, lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks, nyaris lembab di bawah selimut awan. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang, bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya—apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.

Novel Twilight


Aku mendengarnya menutup pintu, dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. Ia tidak sedang memandangku, melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku.

“Lewat sini," katanya sambil menoleh, sorot matanya masih kesal.

Ia mulai memasuki hutan gelap itu. "Jalan setapaknya?" suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.

"Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan, bukannya berarti kita akan melaluinya."

"Tanpa jalan setapak?" tanyaku putus asa.

"Aku takkan membiarkanmu tersesat." Kemudian ia berbalik, dengan senyum mengejek, dan aku mendengus pelan.

Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya, sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada, otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari balik pakaian yang membalutnya. Ia terlalu sempurna, pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Tidak mungkin makhluk yang menyerupai dewa ini ditakdirkan untukku. Ia menatapku, keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa.

"Kau ingin pulang?" tanyanya tenang, perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya.

"Tidak." Aku melangkah maju sampai ke dekatnya, tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya.

"Ada apa?" tanyanya lembut.

"Aku bukan pendaki yang baik," sahutku tolol.

"Kau harus sangat sabar."

"Aku bisa sabar—kalau aku berusaha keras." Ia tersenyum, sambil menatap mataku, berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan.

Aku mencoba membalas senyumnya, tapi senyumku tidak meyakinkan. Ia mengamati wajahku.

“Aku akan membawamu pulang," janjinya.

Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat, atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih, dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang terbaca olehnya.

"Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam, sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya," kataku dingin. Ia memandang marah padaku, mencoba memahami maksudku.

Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan.

Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar, dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat.

Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang, atau bebatuan besar, ia membantuku, mengangkatku dengan memegangi sikuku, dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan.

Sentuhan dingin kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. Ketika terjadi untuk kedua kali, aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin, tapi sering kali aku gagal. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan.

Kami lebih sering berjalan dalam diam. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Ia menanyakan hari ulang tahunku, guru-guru sekolah dasarku, hewan peliharaanku semasa kecil—dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kupelihara berturut-turut mati, aku menyerah, tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. Ia menertawaiku, lebih keras dari biasanya—gema yang seperti bunyi lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong.

Pendakian itu nyaris menghabiskan waktu sepagian, tapi tak sekali pun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Hutan itu membentang di sekeliling kami, dipenuhi jaring pepohonan kuno, dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi.

Sebaliknya ia sangat tenang, merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau, tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. Setelah beberapa jam cahaya yang menyusup di antara dedaunan pohon berubah, warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. Hari telah berubah cerah, tepat seperti yang diramalkannya.

Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan, aku merasa gembira—yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar.

"Apakah kita sudah sampai?" godaku, pura-pura kesal.

"Hampir." Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi.

"Kaulihat cahaya terang di depan sana?" Mataku menyipit memandang hutan lebat itu.

"Apakah seharusnya aku bisa melihatnya?"

Ia nyengir. "Barangkali belum kasat oleh matamu."

"Waktunya mengunjungi dokter mata," gumamku. Ia nyengir semakin lebar.

Tapi kemudian, setelah melangkah seratus meter lagi, aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Cahaya itu kuning, bukan hijau. Aku mempercepat langkah, hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang, dan mengikutiku tanpa suara.

Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis terakhir menuju tempat terindah yang pernah kulihat.

Padang rumput itu kecil, melingkar sempurna, dan ditumbuhi bunga-bunga liar— biru keunguan, kuning, dan putih lembut. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku bisa mendengar senandung sungai. Matahari bersinar tepat di atas kami, menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan.

Aku berjalan pelan, terpesona, melintasi rumput halus, bunga, bunga yang melambai-lambai, serta udara hangat dan keemasan. Aku setengah membalikkan badan, ingin berbagi ini semua dengannya, tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira.

Aku memandang berkeliling, dengan ketakutan mencari-carinya. Akhirnya aku menemukannya, berdiri di bawah bayangan pepohonan lebat di tepi kegelapan hutan, memerhatikanku dengan tatapan waswas.

Aku kembali melangkah ke arahnya, sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. Tatapannya hati-hati, enggan. Aku tersenyum menyemangati, mengulurkan tangan, sambil terus melangkah ke arahnya. Ia mengangkat tangan mengingatkan, dan aku pun ragu. lalu terdiri. Edward tampak menghela napas dalam-dalam, lalu ia melangkah ke tengah cahaya terang mentari siang.

Penutup Novel Twilight – Penyeimbangan Bab 63

Gimana Novel twilight – Port Penyeimbangan Bab 63 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya