Thursday, January 27, 2022

Bab 62 Novel Twilight – Penyeimbangan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 62 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Penyeimbangan Bab 62

Setelah semua siap untuk esok, akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Aku merasa tegang, hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku terbangun, dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin.

Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi, berusaha menenangkan setiap bagian tubuhku. Di tengah-tengah itu obat yang kuminum tadi mulai bekerja, dan aku pun tidur pulas.

Novel Twilight


Aku bangun cepat, tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi, berkat obat yang sengaja kuminum. Meski istirahatku cukup, aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. Aku berpakaian terburu-buru, melicinkan kerah pakaianku, merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. Sepertinya tidak akan bertahan lama.

Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya, buru-buru membereskannya ketika selesai.

Aku mengintip ke jendela lagi, tapi tak ada yang berubah. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang.

Aku meluncur ke pintu; sedikit kesulitan dengan selotnya, tapi akhirnya berhasil membukanya. Dan ia tampak berdiri di sana.

Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. Kini aku merasa tenang. Aku mendesah lega—ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. Awalnya ia tidak tersenyum—wajahnya muram. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku, dan ia pun tertawa.

"Selamat pagi," sapanya sambil tergelak. "Ada apa?" aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu, atau celana. "Kira serasi." Ia tertawa lagi. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda, dengan kerah putih mengintip di baliknya, dan jins. Aku ikut tertawa, menyembunyikan sekelumit kekecewaan— kenapa ia terlihat seperti model peragaan busana sementara aku tidak?

Aku mengunci pintu rumah sementara ia berjalan ke truk. Ia menunggu di pintu penumpang dengan ekspresi tak berdosa yang mudah ditebak.

“Kita sudah sepakat," aku mengingatkannya, merasa puas. Lalu aku masuk ke kursi kemudi, dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.

"Ke mana?" tanyaku.

"Kenakan sabuk pengamanmu–belum-belum aku sudah gugup.”

Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.

"Ke mana?" ulangku sambil mendesah.

"Ke arah satu-kosong-satu utara," perintahnya. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku.

Karenanya aku mengemudi lebih berhati-hati dari biasa, menembus kota yang masih tidur.

"Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?"

"Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu— hargailah sedikit," tukasku gusar.

Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota, meskipun ia terus saja mencela. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumah-rumah yang tadi kami lewati.

"Belok kiri di satu-sepuluh," perintahnya ketika aku hendak bertanya.

Aku mematuhinya tanpa berkata-kata.

"Sekarang terus hingga ke ujung jalan." Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya, tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas.

“Dan di ujung jalan sana ada apa?" aku bertanya-tanya.

"Jalan setapak."

“Kita akan mendaki gunung?" Untung aku memakai sepatu tenis.

“Apakah itu masalah?" Ia terdengar tidak kaget.

“Tidak.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan.

Tapi, kalau pilarnya trukku berjalan pelan.. "Jangan khawatir, jaraknya hanya kurang-lebih lima mil, dan kita tidak perlu terburu-buru.

" Lima mil. Aku tidak menyahut, supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh, sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo, atau bahkan melukaiku. Ini akan jadi perjalanan memalukan.

Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara, sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tak sabar setelah beberapa saat.

Lagi-lagi aku berbohong. "Hanya membayangkan tempat yang kita tuju."

"Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang

bersahabat." Kami memandang ke luar jendela, ke

awanawan yang mulai menipis.

"Charlie bilang hari ini bakal hangat."

"Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?" tanyanya.

"Tidak."

"Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersamasama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. "Tidak, aku bilang kau membatalkan rencana itu—dan itu benar."

"Tak ada yang tahu kau bersamaku?" Sekarang ia marah.

“Tergantung... kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu. Bella," tukasnya jengkel. Aku berpura-pura tidak mendengar.

"Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?" tanyanya ketika aku mengabaikan kata katanya.

"Katamu kau bisa mendapat masalah... kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak, aku mengingatkannya.

“Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku–kalau kau tidak pulang ke rumah?" Ia masih terdengar marah, dan sangat sinis.

Aku mengangguk, pandanganku tetap ke jalan. Ia menggumamkan sesuatu, berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Selama sisa perjalanan kami membisu. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam dirinya, dan aku tak tahu harus bilang apa.

Kemudian jalanan berakhir, menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar, waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya.

Penutup Novel Twilight – Penyeimbangan Bab 62

Gimana Novel twilight – Port Penyeimbangan Bab 62 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya