Thursday, January 27, 2022

Bab 61 Novel Twilight – Penyeimbangan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 61 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Penyeimbangan Bab 61

Keputusanku sendiri sudah bulat, bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar, dan aku bertekad menjalankannya. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku, lebih menyakitkan, daripada menjauhkan diriku darinya.

Itu sesuatu yang mustahil. Aku pergi ke kelas dengan patuh. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi; pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. Di Olahraga, Mike mengajakku bicara lagi; berharap aku bersenang-senang di Seattle. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi, khawatir trukku takkan sanggup. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?" tanyanya, tiba-tiba marah.

Novel Twilight


"Tidak, aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa." "Lalu, apa yang akan kaulakukan?" tanyanya, kelewat ingin tahu.

Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong.

"Cucian, dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek."

"Apakah Cullen membantumu belajar?"

"Edward" aku menekankan, "tidak akan membantuku belajar. Dia pergi entah ke mana akhir pekan ini." Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya, dan ini membuatku terkejut.

"Oh," katanya kembali bersemangat. "Kau tahu, kau bisa datang ke pesta bersama kami—pasti keren. Kami semua akan berdansa denganmu," janjinya.

Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.

“Aku tidak akan pergi ke pesta dansa, Mike, oke?"

“Ya sudah." Ia marah lagi. "Aku hanya menawarkan." Ketika sekolah akhirnya selesai, aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki, tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku ke sini. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. Insting terakhirku terbukti benar—trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi.

Aku menggeleng tak percaya, membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Selembar kertas tergeletak di jokku. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya, dua kata dalam tulisan yang elegan.

Jaga dirimu

Suara deru truk membuatku kaget. Aku menertawai diriku sendiri.

Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci, namun gemboknya terbuka, persis seperti yang kutinggalkan pagi tadi. Sesampai di dalam aku langsung ke ruang cuci. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi.

Aku mencari jinsku, dan setelah menemukannya, kuperiksa sakunya. Kosong. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat, pikirku sambil menggeleng. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike, aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar.

Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward, aku memberitahunya tentang pembatalan itu. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali, ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu.

Sepanjang makan malam Charlie melamun, mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya, kurasa, atau mungkin pertandingan basket, atau mungkin ia hanya benar-benar menikmati lasagna yang kubuat—sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. “Kau tahu, Dad..„" aku memulai, membuyarkan lamunannya.

"Ada apa, Bell?"

"Kurasa kau benar tentang Seattle. Kurasa aku akan menunggu Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku.” "Oh" katanya, terkejut. "Oh, oke. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?"

"Tidak Dad, jangan ubah rencanamu. Aku punya banyak harus kulakukan... PR, mencuci.... Aku perlu ke perpustakaan dan ke toko kelontong. Aku akan pergi ke sana kemari seharian... kau pergi saja dan bersenangsenanglah."

"Kau yakin?"

"Tentu Dad. Lagi pula, persediaan ikan kita sudah menipis—persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali."

"Mudah sekali hidup bersamamu. Bella." Ia tersenyum. "Kau juga, Dad," kataku, tertawa. Tawaku reda, tapi sepertinya Dad tidak memerhatikan. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya, sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Nyaris.

Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang, dan sudah mulai tak terkendali.

Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan, dan perasaan sangat takut yang membulatkan tekadku. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan, dan tak akan mengubahnya. Aku mengeluarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya.

Ia ingin agar aku selamat, aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. Aku hanya perlu berpegangan pada keyakinan bahwa akhirnya, hasrat itu mengalihkan segalanya. Dan apa pilihanku yang lainnya – mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. Lagi pula.

sejalaku datang ke Forks, kelihatannya hidupku benarbenar tentang dirinya.

Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir, bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan... bila semua ini berakhir buruk. Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur.

Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur, jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan—obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam.

Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu, tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Sambil menunggu obatnya bekerja, aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus, dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok.

Penutup Novel Twilight – Penyeimbang Bab 61

Gimana Novel twilight – Port Penyeimbangan Bab 61 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya