Monday, January 17, 2022

Bab 6 Novel Twilight - Pandangan Pertama - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 6 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Pandangan Pertama Bab 6 

Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi seluler, sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti, dan selalu menunduk. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di ujung kursinya, sejauh mungkin dariku. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri, otot-ototnya menyembul di balik kulit pucatnya.

Novel Twilight


Untuk yang satu ini, ia juga tak pernah santai. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku, dan mengejutkan karena lengannya kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Ia tidak kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar.

Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daripada yang lain. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai, atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal, ia duduk bergeming sampaisampai ia seolah-olah tidak bernapas. Apa yang salah dengannya? Apakah ini perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus saat makan siang tadi. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Tak mungkin ada hubungannya denganku. Ia sama sekali tak mengenalku.

Sekali lagi aku mengintip, dan menyesalinya. Ia sedang menatapku, matanya yang hitam penuh rasa jijik. Ketika aku mengalihkan pandang, menciut di kursiku, tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. Bel berbunyi keras, membuatku terperanjat. Edward Cullen bangkit dari duduk. Dengan luwes ia berdiri—ia lebih tinggi daripada yang kukira—memunggungiku, dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.

Aku duduk membeku, menatapnya tak berkedip. Ia jahat sekali. Ini tidak adil. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku, mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku, sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Kalau marah aku biasanya menangis, kebiasaan memalukan. “Apa kau Isabella Swan?" terdengar suara cowok bertanya.

Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan, rambutnya yang pirang pucat di-gel membentuk spike yang teratur. Ia tersenyum ramah. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak.

“Bella," ralatku tersenyum.

"Aku Mike."

"Hai. Mike."

“Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?" "Sebenarnya aku mau ke gimnasium. Kurasa aku bisa menemukannya."

“Itu juga kelasku berikutnya." Ia tampak senang meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini.

Kami berjalan bareng ke gimnasium; ia ternyata cowok yang senang mengobrol—kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya, memudahkan segalanya buatku. Ia tinggal di California sampai umur sepuluh tahun, jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. Dari pembicaraan kami, aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini.

Tapi ketika kami memasuki gimnasium, ia bertanya,

"Jadi, kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa?

Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu."

Aku menciut Jadi, aku bukan satu-satunya yang memerhatikan hal ini. Dan rupanya itu bukan perilaku Edward yang biasanya. Aku memutuskan untuk berpurapura tidak tahu.

"Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?" tanyaku polos.

"Ya," katanya. "Dia kelihatan kesakitan atau apa." "Aku tidak tahu," timpalku. "Aku tak pernah bicara dengannya."

"Dia aneh." Bukannya menuju kamar ganti, Mike malah terus bersamaku. "Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu, aku bakal mengobrol denganmu." Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Ia cukup bersahabat dan memesona. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku.

Guru senam kami. Pelatih Clapp, memberikan seragam buatku. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Di tempat asalku, pelajaran olahraga hanya selama dua tahun. Di sini pelajaran olahraga wajib selama empat tahun. Secara harfiah, Forks bagiku adalah neraka di bumi.

Berturut-turut aku menyaksikan empat pertandingan voli. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku—dan yang kutimbulkan—ketika bermain voli aku merasa agak mual.

Akhirnya bel terakhir berbunyi. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertas-kertas yang sudah ditandatangani. Hujan sudah reda, tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Aku memeluk diriku sendiri. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat, aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang berantakan itu. Sepertinya ia tidak memerhatikan kedatanganku. Aku berdiri merapat ke dinding belakang menunggu petugas resepsionis selesai.

Edward sedang berdebat dengannya, nada suaranya rendah dan indah. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain—jam mana saja. Aku sama sekali tak percaya keinginannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Pasti sesuatu yang lain, sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Pintunya terbuka lagi, dan angin dingin tiba-tiba berembus ke dalam ruangan, meniup kertas-kertas di meja, meniup rambutku hingga menutupi wajah. Cewek yang masuk langsung melangkah ke meja, meletakkan catatan di keranjang kawat, lalu keluar lagi. Tapi punggung Edward Cullen menegang dan perlahan ia berbalik menatapku— wajahnya luar biasa tampan—tatapannya menghunjam dan sarat kebencian. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat, hingga bulu kuduk di tanganku meremang. Tatapannya hanya sedetik, tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. Ia berbalik lagi ke resepsionis. "Kalau begitu lupakan saja," katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. "Aku mengerti ini tidak mungkin. Terima kasih banyak atas bantuan Anda." Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi, lalu lenyap di balik pintu.

Aku berjalan pelan ke meja, wajahku pucat dan bukannya memerah. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani.

"Bagaimana hari pertamamu, Nak?" tanya resepsionis lembut.

"Baik," aku berbohong, suaraku lemah. Ia kelihatan tidak percaya.

Ketika tiba di lapangan parkir, hanya tinggal beberapa mobil di sana. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan, nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Aku duduk sebentar di dalamnya, hanya menerawang ke luar kaca depan. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan, kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana.

Penutup Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 6

Gimana Novel twilight – Pandangan Pertama Bab 6 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya