Thursday, January 27, 2022

Bab 54 Novel Twilight – Kesulitan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 54 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Kesulitan Bab 54

11. KESULITAN

SEMUA memerhatikan ketika kami berjalan bersamasama menuju meja lab. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Sebagai gantinya, ia duduk cukup dekat, lengan kami nyaris bersentuhan.

Mr. Banner sudah masuk kelas—betapa perencanaan waktunya sangat tepat—sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan zaman. Hari menonton film—suasana senang di kelas nyaris nyata.

Novel Twilight


Mr. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu.

Kemudian, ketika ruangan sudah gelap, sekonyongkonyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku, kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya, membelai wajahnya yang sempurna sekali saja dalam gelap, nyaris membuatku sinting.

Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada, jemariku mengepal. Aku kehilangan akal sehat. Pembukaan film dimulai, cahayanya sekejap menyinari ruangan. Otomatis aku melirik ke arahnya. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku, tangannya mengepal di balik lengan, matanya melirikku juga.

Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. Benar-benar konyol kalau aku sampai pening. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya—aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa.

Sia-sia aku berusaha tenang, aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya, tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang, dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Aku mendesah lega ketika Mr.Banner menyalakan lampu kembali. Kurenggangkan dekapan lenganku, melemaskan jemariku yang kaku. Edward tertawa geli di sebelahku.

Well, tadi itu menarik," gumamnya. Suaranya misterius dan ratapannya hati-hati.

“Hmmm," hanya itu yang bisa kukatakan.

“Yuk?” ajaknya, sambil bangkit dengan lincah. Aku nyaris mengerang. Waktunya kelas Olahraga. Aku berdiri hati-hati, khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul di antara kami. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut, lalu berhenti di ambang pintu. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal.

Wajahnya membuatku bingung—ekspresinya sedih, nyaris terluka, sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala, sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku tak sanggup bicara.

Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, matanya sarat pergumulan, dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Kulitnya dingin seperti biasa, namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku— seperti terbakar, tapi aku tidak merasa nyeri. Ia berbalik tanpa berkata-kata dan langsung meninggalkanku.

Aku berjalan memasuki gimnasium, nyaris melayanglayang dan sempoyongan. Aku menuju ruang ganti, mengganti pakaian dalam keadaan melamun, hanya

samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Barulah ketika seseorang menyerahkan raket padaku, aku sepenuhnya sadar.

Raket itu tidak berat, namun tak terasa mantap di tanganku. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasangpasangan.

Untung sisa-sisa kesopanan Mike masih ada; dan ia berdiri di sebelahku. "Mau berpasangan denganku?"

"Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya,” aku meringis penuh penyesalan. “Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu." Ia tersenyum. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike.

Keadaan tidak berjalan lancar. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan, raketnya aman tersimpan.

Meski aku telah mencederainya, Mike bermain cukup baik; ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Ia mengajakku ber-high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir.

"Jadi," katanya sambil berjalan meninggalkan lapangan.

"Jadi apa?"

"Kau jalan dengan Cullen, heh?" tanyanya, nadanya menantang. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap.

"Itu bukan urusanmu, Mike," aku mengingatkannya, diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas.

"Aku tidak suka," ia tetap mengatakannya juga.

"Memang tidak perlu," sergahku marah.

"Caranya memandangmu... seolah ingin memakanmu." ia meneruskan, mengabaikan keberatanku.

Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak, tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Ia memandang marah padaku. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. Aku berpakaian dengan cepat, sesuatu yang lebih hebat mengaduk-aduk perutku, pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku.

Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku, atau apakah aku seharusnya menemuinya di mobil. Bagaimana kalau saudarasaudaranya ada di sana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Tahukah mereka bahwa aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu, atau tidak?

Ketika beranjak meninggalkan gimnasium, aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat ke lapangan parkir. Tapi kekhawatiranku tidak perlu.

Edward menantiku, bersandar santai di dinding gimnasium. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. Ketika aku berjalan ke sisinya, aku merasakan sensasi lega yang aneh.

“Hai, desahku, tersenyum lebar.

"Halo." Senyumannya memesona. "Bagaimana kelas

Olahraga-mu?”

Wajahku berubah agak kecewa. "Baik-baik saja." Aku berbohong.

"Benarkah?" tanyanya tidak percaya. Pandangannya bergeser sedikit, melirik ke belakangku, matanya menyipit. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami.

"Apa?" desakku.

Ia kembali menatapku, masih tegang. "Newton membuatku kesal."

"Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?" aku terperanjat. Tiba-tiba selera humorku lenyap.

"Bagaimana kepalamu?" tanyanya polos.

"Kau ini bukan main!" Aku berbalik, berjalan cepat ke lapangan parkir, meskipun tak bermaksud begitu.

Dengan mudah Edward menyusul.

"Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga—aku jadi penasaran." Ia tidak terdengar menyesal, jadi aku mengabaikannya.

Penutup Novel Twilight – Kesulitan Bab 54

Gimana Novel twilight – Port Kesulitan Bab 54 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya