Wednesday, January 26, 2022

Bab 51 Novel Twilight – Integritas - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 51 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Integritas Bab 51

"Dia jauh lebih daripada sekadar sangat tampan."

"Sungguh? Seperti apa?"

Aku berharap tidak pernah mengatakan apa-apa, sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda mengenai mendengarkan percakapan kami.

“Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat... tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya." Vampir yang ingin menjadi baik—yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster... Aku menatap ke depan kelas.

"Apakah itu mungkin?" Jessica cekikikan. Aku mengabaikannya, mencoba terlihat seperti memerhatikan Mr. Varner.

"Jadi, kau menyukainya?" Ia belum mau menyerah.

Novel Twilight


"Ya," kataku kasar.

"Maksudku, kau benar-benar menyukainya?" desaknya.

"Ya," kataku lagi, wajahku merona. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata.

"Seberapa suka?"

"Terlalu suka," aku balas berbisik.

"Lebih daripada dia menyukaiku. Tapi aku tak tahu bagaimana mengatasinya." Aku mendesah, wajahku terus merona.

Kemudian, untungnya, Mr. Varner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan.

Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas, dan begitu bel berbunyi, aku langsung menyelamatkan diri. "Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam," aku memberitahunya.

"Kau bercanda! Apa katamu?!" ia menahan napas, perhatiannya benar-benar teralih.

"Kubilang kau sangar menikmatinya—dia kelihatan senang."

"Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawabanmu!"

Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya, dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol, dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetaildetailnya.

Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku.

Bel istirahat siang berbunyi. Ketika aku melompat dari bangku, memasukkan buku-buku sembarangan ke tas, ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu.

"Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?" tebaknya.

"Kurasa tidak." Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. Tapi di luar pintu kelas bahasa Spanyol kami—tampak sangat mirip dewa Yunani—Edward sedang menungguku. Jessica melihatnya, memutar bola mata, lalu pergi.

"Sampai nanti. Bella" Kata-katanya penuh maksud tersembunyi. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.

"Halo." Suara Edward memesona sekaligus mengusik. Ia tadi mendengarkan. Sudah pasti.

"Hai."

Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi, dan ia tidak bicara—kurasa ia mengulur-ulur waktu—jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku di sini; semua orang memandangiku.

Ia membimbingku menuju antrean, masih diam, meski beberapa detik sekali ia memandangku, ekspresinya berubah-ubah. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan.

"Apa yang kaulakukan?" tanyaku. "Kau tidak mengambil itu semua untukku, kan?"

Ia menggeleng, maju untuk membayar makanannya.

"Tentu saja separuhnya untukku." Alisku terangkat. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.

Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami, terkagum-kagum, sementara kami duduk berhadapan. Edward seperti tidak menyadarinya. "Ambil apa saja yang kau mau," katanya seraya mendorong nampannya ke arahku.

"Aku penasaran," kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya,

"apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?”

"Kau selalu penasaran." Ia meringis, menggelenggelengkan kepala. Ia memandangku geram, dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan, dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar, cepat-cepat mengunyah, lalu menelannya. Aku mengamatinya dengan mata membelalak.

"Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau bisa melakukannya, ya kan?" tanyanya meremehkan. Aku mengerutkan hidung.

"Aku pernah melakukannya... ketika ditantang," aku mengakuinya.

"Tidak terlalu buruk." Ia tertawa.

"Kurasa aku tidak terkejut." Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya.

"Jessica sedang memerhatikan semua tindak-tandukku— dia akan memaparkannya padamu nanti." Ia menyorongkan sisa pizza padaku. Menyebutkan nama Jessica membuatnya bersikap menyebalkan lagi. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.

“Jadi pelayannya cantik, ya?" tanyanya santai.

“Kau benar-benar tidak memerhatikan?”

“Tidak. Aku memikirkan banyak hal."

"Cewek malang." Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus.

"Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica... Well, itu menggangguku." Ia menolak dialihkan perhatiannya.

Suaranya parau, ia melirik dari balik bulu matanya, gelisah.

"Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kausukai. Itu risiko suka menguping pembicaraan orang," aku mengingatkannya.

"Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan."

"Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kauketahui."

"Memang," ia menyetujuinya, tapi suaranya masih parau.

"Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan—semuanya. Aku hanya berharap... kau tidak memikirkan beberapa hal."

Wajahku merengut. "Itu sama saja."

"Tapi bukan itu masalahnya sekarang."

"Lalu apa?" Sekarang kami saling mencondongkan tubuh. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu; sementara tubuhku condong ke depan, tangan kananku memegangi leher. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang, dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia, terutama bila menegangkan.

"Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?" gumamnya, semakin mendekat saat bicara, matanya yang gelap keemasan menyorot tajam.

Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. "Kau melakukannya lagi," bisikku. Matanya membelalak terkejut. "Apa?"

“Membuatku terpesona," aku mengakuinya, mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi.

"Oh." Dahinya berkerut.

"Bukan salahmu," aku mendesah. "Kau tak bisa mencegahnya.”

"Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?"

Aku menunduk. "Ya."

Penutup Novel Twilight – Integritas Bab 51

Gimana Novel twilight – Port Integritas Bab 51 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya