Monday, January 17, 2022

Bab 5 Novel Twilight - Pandangan Pertama - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 5 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Pandangan Pertama Bab 5 

Nama-nama aneh yang tidak populer, pikirku. Namanama yang dimiliki generasi kakek-nenek. Tapi barangkali di sini nama-nama itu populer—khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica, nama yang sangat umum. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku, ada dua cewek bernama Jessica. "Mereka... sangat tampan dan cantik." Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. "Benar!" Jessica setuju seraya terkekeh lagi. "Dan mereka selalu bersama-sama—Emmett dan Rosalie, dan Jasper dan Alice, maksudku.

Novel Twilight


Dan mereka tinggal bersama-sama." Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini, pikirku kritis. Tapi kalau mencoba jujur, harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan.

"Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?" tanyaku. "Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga..." "Oh, memang tidak. Dr. Cullen masih sangat muda, kirakira dua puluhan atau awal tiga puluhan. Mereka semua anak adopsi. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan—yang pirang—mereka anak angkat."

"Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat."

"Sekarang memang. Jasper dan Rosalie umurnya delapan belas, tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. Cullen sejak masih delapan tahun. Mrs. Cullen bibi mereka atau seperti itulah."

"Mereka baik sekali—mau memelihara semua anak-anak itu, ketika mereka masih kecil dan segalanya." "Kurasa begitu," ujar Jessica enggan, dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu, aku menduga alasannya adalah iri. "Kurasa Mrs. Cullen tidak bisa punya anak," Jessica menambahkan, seolah-olah komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Mereka terus memandang dinding dan tidak makan.

"Apa mereka sejak dulu tinggal di Forks?" tanyaku Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku di sini.

"Tidak," kata Jessica, nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas, bahkan bagi pendatang baru seperti aku. "Mereka baru saja pindah ke sini dua tahun yang lalu dari sekitar Alaska."

Aku merasakan sebersit rasa iba, sekaligus lega. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka, mereka adalah pendatang jelas tidak diterima. Dan lega karena aku bukan satu-satunya pendatang baru di sini, dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apa pun.

Saat aku mengamati mereka, yang paling muda, salah satu yang bermarga Cullen, mendongak dan beradu pandang denganku, kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. Ketika aku pelan-pelan mengalihkan pandangan, tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. "Cowok berambut cokelat kemerahan itu siapa?" tanyaku. Aku mengintip ke arahnya lewat sudut mata, dan ia masih menatapku, tapi tidak melongo seperti muridmurid lain seharian ini—ekspresinya sedikit gelisah. Aku kembali menunduk.

"Itu Edward. Dia tampan tentu saja, tapi jangan buangbuang waktu. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak satu pun cewek di sini cukup cantik baginya." Jessica mendengus, sikapnya jelas pahit. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.

Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku.

Lalu aku kembali memandang Edward. Ia sudah memalingkan wajah, tapi rasanya pipinya seperti tertarik, seolah-olah ia juga tersenyum.

Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun—bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Aku tak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku di sekolah. Salah satu kenalan baruku, yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela, juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Ia juga pemalu.

Ketika kami memasuki kelas, Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam, persis yang dulu sering kutempati. Ia sudah punya teman sebangku. Malah sebenarnya semua meja telah terisi, kecuali satu yang masih kosong. Di sisi gang tengah, aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa, duduk di sebelah kursi yang kosong.

Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku, aku diam-diam memerhatikan Edward. Ketika aku melewatinya, tiba-tiba duduknya jadi kaku. Ia menatapku lagi, mataku bertemu pandang dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh—tidak bersahabat, gusar. Bergegas aku memalingkan wajah, terkejut, wajahku merah padam. Aku tersandung buku dan nyaris terjerembab hingga tanganku meraih ujung meja. Cewek yang duduk di situ terkekeh.

Saat itulah aku memerhatikan bahwa matanya berwarna hitam—hitam legam.

Mr. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Bisa kukatakan kami bakal cocok. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisinya, bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku.

Tanpa mengangkat wajah, kuatur bukuku di meja lalu duduk, tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Ia menjauh dariku, duduk di ujung kursi, memalingkan wajah seolah-olah mencium aroma yang tidak enak. Diamdiam aku mengendus rambutku. Aromanya seperti stroberi, aroma sampo kesukaanku. Sepertinya baunya cukup enak. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan, sebagai penghalang di antara kami, dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran.

Penutup Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 5

Gimana Novel twilight – Pandangan Pertama Bab 5 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya