Wednesday, January 26, 2022

Bab 48 Novel Twilight – Integritas - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 48 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Integritas Bab 48

10. INTEROGASI

KEESOKAN paginya, sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Logika tak berpihak padaku, ataupun akal sehat. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku—seperti aroma tubuhnya. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri.

Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut, benar-benar sempurna. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat, teringat aku tidak memiliki jaket. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. 

Novel Twilight


Ketika aku tiba di lantai dasar, Charlie sudah pergi lagi— aku terlambat lebih dari yang kukira. Aku menelan tiga gigitan granola, dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton, lalu bergegas meninggalkan rumah. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica.

Cuaca di luar berkabut lebih dari biasa, udara nyaris tertutup kabut. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas di dalam truk. Kabut sangat tebal, sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir di sana, ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya— mobil berwarna silver. Jantungku berdetak cepat, berhenti, lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat.

Aku tak melihat dari mana datangnya, tapi tiba-tiba ia sudah di sana, membukakan pintu untukku. "Kau mau berangkat bersamaku hari ini?" tanyanya, tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini.

Ada keraguan dalam suaranya. Ia benar-benar memberiku pilihan—aku bebas menolak, dan sebagian dirinya berharap begitu. Harapan yang sia-sia.

"Ya, terima kasih," kataku, berusaha tetap tenang. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat, aku memerhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Ia menutup pintu, dan lebih cepat dari seharusnya, ia sudah duduk di sebelahku, menyalakan mobil. "Aku membawakan jaket untukmu. Aku tak ingin kau sakit atau apa." Suaranya hati-hati.

Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket, hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Seperti biasa, wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya.

"Aku tak selemah itu, kau tahu," kataku, tapi kutarik jaketnya ke pangkuan, mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang, penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku.

Ternyata lebih baik.

“Benarkah?" ia menyangsikannya, suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. Kami mengemudi melewati jalanan berselimut kabut,

Selalu terlalu cepat, terasa canggung. Setidaknya aku merasa begitu. Semalam semua penghalang itu lenyap... hampir semuanya. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. Ini membuat lidahku kelu. Aku menunggunya memulai.

Ia berbalik dan nyengir. "Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?”

"Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?" tanyaku, lega.

"Tidak seperti reaksimu." Ia kelihatan bergurau, tapi aku tak yakin.

Aku cemberut. "Apakah reaksiku buruk?" "Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali—tidak wajar. Itu membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kaupikirkan." "Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan."

"Kau mengeditnya," tuduhnya.

"Tidak terlalu banyak."

"Cukup untuk membuatku gila."

"Kau tidak ingin mendengarnya," gumamku pelan, nyaris berbisik. Begitu kata-kataku terucap, aku langsung menyesalinya. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar, aku hanya berharap ia tidak memerhatikan.

Ia tidak bereaksi, dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. Aku terlambat menyadari sesuatu.

“Di mana keluargamu yang lain?" aku bertanya—lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya, mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain.

"Mereka naik mobil Rosalie." Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengilap. "Kelewat mencolok, kan?" "Mmm, wow." desahku. "Kalau Rosalie memilikinya, kenapa dia pergi bersamamu?"

"Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami berusaha membaur."

"Kalian tidak berhasil." Aku tertawa dan menggelenggelengkan

kepala ketika kami keluar dari mobil. Aku tidak terlambat; cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. "Jadi, kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perharian?"

"Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang." Ia menghampiriku di depan mobil, berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah.

Aku ingin mempersempit jarak itu, ingin menggapai dan menyentuhnya, tapi khawatir ia tidak menyukainya. "Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?" aku bertanya terang-terangan. "Kalau kalian memang menginginkan privasi?"

"Memanjakan diri," ia mengakuinya, dengan senyum jail. "Kami semua suka ngebut." "Sudah kuduga," gumamku pelan.

Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai, Jessica menungguku, matanya nyaris keluar dari rongganya. Di atas lipatan lengannya ada jaketku, syukurlah.

"Hei, Jessica," kataku ketika kami sudah dekat. "Terima kasih sudah ingat membawanya." Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara.

"Selamat pagi, Jessica," sapa Edward sopan. Bukan sepenuhnya salah Edward, bahwa suaranya begitu menggoda. Atau daya sihir tatapannya. "Err... hai." Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot, berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. "Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono." Ia menatapku penuh makna, dan aku mencoba tidak mengerang. Apa yang akan kukatakan padanya?

"Yeah, sampai ketemu nanti."

Ia berlalu, berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami.

“Apa yang akan kaukatakan padanya?" gumam Edward.

"Hei, kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!" tukasku. "Aku tak bisa," katanya, terkejut. Lalu ia tampak mengerti. "Bagaimanapun, aku bisa membaca pikirannya— dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas."

Penutup Novel Twilight – Integritas Bab 48

Gimana Novel twilight – Port Integritas Bab 48 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya