Wednesday, January 26, 2022

Bab 47 Novel Twilight – Teori - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 47 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Teori Bab 47

Ia menggeleng. "Kau benar—aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup." Aku menghela napas. Laju mobil memelan, melewati perbatasan Forks. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit.

"Apakah besok kita akan bertemu?" tanyaku.

"Ya—ada tugas yang harus dikumpulkan." Ia tersenyum.

"Aku akan menunggumu saat makan siang." Konyol, setelah semua yang kami lalui malam ini, janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas, dan aku tak mampu bicara.

Kami di depan rumah Charlie. Lampu-lampunya menyala, trukku ada di tempatnya, semuanya sangat wajar. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. Edward menghentikan mobilnya, tapi aku tidak beranjak.

Novel Twilight


"Kau janji akan datang besok?"

"Aku janji."

Aku mempertimbangkannya beberapa saat, lalu mengangguk. Kutanggalkan jaketnya, dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.

"Kau boleh menyimpannya—kau tidak punya jaket yang bisa kaupakai besok," ia mengingatkanku. Kukembalikan jaket itu padanya. "Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie." “Oh, benar." Ia tersenyum.

Aku ragu-ragu, tanganku pada pegangan pintu, mencoba mengulur-ulur waktu.

"Bella?" panggilnya dengan nada berbeda—serius tapi ragu.

"Ya?" aku berbalik padanya, terlalu antusias.

"Maukah kau berjanji padaku?"

"Ya," kataku, dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. Bagaimana kalau ia memintaku menjauhinya?

Aku tak bisa menepati janji itu.

"Jangan pergi ke hutan seorang diri."

Aku menatapnya bingung. "Kenapa?" Dahinya mengerut, tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku, terus menembus jendela.

"Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu."

Aku agak gemetar mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin, tapi lega. Ini, setidaknya, janji yang mudah dipenuhi. "Terserah apa katamu."

"Sampai ketemu besok," desahnya, dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang.

"Baik kalau begitu." Dengan enggan kubuka pintunya. "Bella?" aku berbalik dan ia mendekat padaku, wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.

Jantungku berhenti berdetak.

"Tidur nyenyak ya," katanya. Napasnya menyapu wajahku, membuatku terpana. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya, namun lebih kental. Mataku mengerjap, benar-benar terpesona. Lalu ia menjauh.

Aku tak bisa bergerak hingga otakku mengurai dengan sendirinya. Lalu aku melangkah canggung keluar, sampai harus berpegangan pada sisi pintu. Kupikir aku mendengarnya tertawa, tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin.

Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan, kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. Aku menyadari udara sangat dingin. Aku meraih kunciku tanpa berpikir, membuka pintu, dan masuk ke dalam.

Charlie memanggilku dari ruang tamu. "Bella?" "Ya, Dad, ini aku." Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Ia sedang menonton pertandingan bisbol. "Kau pulang cepat."

"Oh ya?" aku terkejut.

"Sekarang bahkan belum jam delapan," ia memberitahuku. "Apakah kalian bersenang-senang?" "Yeah—sangat menyenangkan." Kepalaku berputarputar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi.

"Mereka membeli gaun."

"Kau baik-baik saja?"

"Aku hanya lelah. Aku cukup banyak berjalan tadi."

"Well, barangkali kau harus berbaring." Ia terdengar waswas. Aku membayangkan bagaimana rupaku.

"Aku akan menelepon Jessica dulu.”

"Bukankah kau baru saja bersamanya?" ia bertanya, terkejut.

"Ya—tapi jaketku tertinggal di mobilnya. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. "Well, biarkan dia sampai rumah dulu.” “Benar," aku menyetujuinya.

Aku pergi ke dapur, menjatuhkan diri di kursi, kelelahan. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga.

Pegangan, perintahku.

Tiba-tiba telepon berbunyi, mengagetkanku. Aku mengangkatnya. "Halo?" desahku.

"Bella?"

"Hei, Jess, aku baru saja mau meneleponmu."

"Kau sudah sampai rumah?" Suaranya terdengar lega dan terkejut.

"Ya. Jaketku tertinggal di mobilmu—bisakah kau membawakannya besok?"

"Tentu saja. Tapi ceritakan apa yang terjadi!" pintanya.

"Mmm, besok saja—di kelas Trigono, oke?"

Ia langsung mengerti. "Oh, ayahmu ada di sana ya?"

"Ya, benar."

"Oke, kalau begitu kita ngobrol besok. Bye.”

Aku tahu ia sudah tidak sabar. "Bye, Jess." Aku menaiki tangga perlahan, benar-benar nyaris pingsan. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memerhatikan apa yang kulakukan.

Baru ketika aku berada di kamar mandi—airnya terlalu panas, menyengat kulitku— aku tersadar diriku kedinginan. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras, hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Lalu aku berdiri di bawah pancuran, terlalu lelah untuk bergerak, sampai air hangatnya menyembur lagi.

Aku melangkah sempoyongan, membalut diriku dengan handuk, berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi.

Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut, meringkuk, memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. Beberapa kali aku sempat gemetaran.

Pikiranku masih berputar-putar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti, dan beberapa yang kucoba enyahkan. Awalnya tak ada yang jelas, tapi semakin aku nyaris tertidur, beberapa kemungkinan pun menjadi nyata.

Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagian dirinya—dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan darahku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.

Penutup Novel Twilight – Teori Bab 47

Gimana Novel twilight – Teori Bab 47 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya