Tuesday, January 25, 2022

Bab 43 Novel Twilight – Port Angeles - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 43 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Port Angeles Bab 43

"Ya," sahutku tenang.

"Tapi toh sekarang kau duduk di sini." Ada secercah keraguan dalam suaranya, salah satu alisnya terangkat.

"Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu." Aku terdiam sebentar. "Karena entah bagaimana kau tahu bagaimana menemukanku hari ini...?" semburku.

Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, matanya yang menyipit menatapku, kembali menimbang-nimbang. Ia memandangi piringku yang masih penuh, lalu menatapku lagi.

“Kau makan, aku bicara," usulnya.

Novel Twilight


Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya.

"Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya." Ia menatapku waswas, dan aku menyadari tubuhku mematung. Kupaksa menelan makananku, lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya.

"Secara tidak hati-hati aku mengikuti Jessica—seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles – dan awalnya aku tidak memerhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga." Ia melamun, tatapannya menembusku, melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan.

"Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil... mendengarkan. Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—" la berhenti, menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Lalu apa?" bisikku. Pandangannya tetap menerawang. “Aku mendengar apa yang mereka pikirkan," geramnya, bibir atasnya menyelip masuk di antara giginya. "Aku melihat wajahmu dalam pikirannya." Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh, satu siku bertengger di meja, tangan menutupi mata. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung.

"Sulit... sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka... tetap hidup." Suaranya tidak jelas, tertutup lengannya.

"Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka," ia mengakui dalam bisikan.

Aku duduk diam. kepalaku pening, pikiranku campur aduk. Tanganku terlipat di pangkuan, dan aku bersandar lemah di kursi. Tangannya masih menutupi wajah, dan ia masih tak bergerak, bagai patung batu.

Akhirnya ia mendongak, matanya mencari-cari mataku, penuh dengan pertanyaannya sendiri.

"Kau sudah siap pulang?" tanyanya.

"Ya, aku siap," aku mengiyakan, amat sangat bersyukur dapat pulang bersamanya. Aku belum siap berpisah dengannya.

Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Atau memerhatikan.

"Jadi bagaimana?" ia bertanya kepada Edward. "Kami mau bayar, terima kasih." Suaranya tenang, agak serak, masih tegang oleh obrolan tadi. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Edward mendongak, menunggu.

"T-tentu," ujar pelayan itu terbata-bata. "Ini dia." Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.

"Simpan saja kembaliannya." Edward tersenyum, lalu bangkit. Aku ikut berdiri dengan susah payah. Ia tersenyum menggoda lagi kepada Edward. "Semoga malammu menyenangkan."

Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima padanya. Aku menyembunyikan senyumku.

Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu, masih berhatihati agar tidak menyentuhku. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike, bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Aku menghela napas.

Edward sepertinya mendengar, dan ia menunduk penasaran. Aku memandang trotoar, bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu sampai aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut.

Aku memerhatikannya memutar ke depan, masih mengagumi keanggunannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang—tapi nyatanya belum. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward.

Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Udara dingin sekali, dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya, menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat.

Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran, sepertinya tanpa melirik, berputar menuju jalan tol.

"Sekarang," katanya, "giliranmu."

Penutup Novel Twilight – Port Angeles Bab 43

Gimana Novel twilight – Port Angeles Bab 43 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya