Tuesday, January 25, 2022

Bab 41 Novel Twilight – Port Angeles - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 41 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Port Angeles Bab 41

Aku hendak duduk, tapi Edward menggeleng.

"Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?" desaknya lembut.

Aku tak yakin, tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. Aku tak pernah melihat ada orang yang menolak tawaran meja kecuali di film-film lama.

"Tentu." Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku.

Ia berbalik dan memandu kami ke deretan booth, semua kursinya kosong.

"Bagaimana dengan yang ini?"

Novel Twilight


"Sempurna." Edward memamerkan senyumnya yang memukau, membuat cewek itu sesaat terpana.

 "Mmm"—ia menggeleng, matanya mengerjap—"pelayan kalian akan segera datang." Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu pada orang-orang," aku mengkritiknya. "Tidak adil."

"Melakukan apa?"

"Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas di dapur." Ia tampak bingung.

"Oh, ayolah," aku berkata ragu. "Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu."

Ia memiringkan kepala, sorot matanya penasaran. “Aku membuat orang terpesona?"

"Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?"

Ia mengabaikan pertanyaanku. "Apakah aku membuatmu terpesona?"

"Sering kali," aku mengakuinya.

Pelayan datang, wajahnya penuh harap. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang, dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat.

"Hai. Namaku Amber, dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. Kalian mau minum apa?' Tentu saja aku menyadari ia hanya bertanya kepada Edward.

Edward memandangku.

"Aku mau Coke." Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. "Dua," kata Edwatd.

"Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian," ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. Tapi Edward tidak memandangnya. Ia sedang memerhatikanku.

"Kenapa?" tanyaku ketika si pelayan berlalu. Pandangannya terpaku di wajahku. "Bagaimana perasaanmu?”

"Aku baik-baik saja," jawabku, terkejut karena kesungguhan hatinya.

"Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan...?"

"Apakah harusnya aku merasa seperti itu?" Ia tergelak mendengar kebingunganku.

"Well, sebenarnya aku menunggumu syok." Senyum lebar mengembang di wajahnya.

"Kupikir itu tidak bakal terjadi," kataku setelah bisa bernapas lagi.

"Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal tidak menyenangkan."

"Sama, aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis.”

Pucuk dicinta ulam tiba, si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja.

"Kau sudah mau memesan?" tanyanya pada Edward. “Bella?” tanya Edward. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku.

Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. "Mmm... aku mau mushroom ravioli." "Kau?" ia berbalik lagi sambil tersenyum.

"Aku tidak pesan." kara Edward. Tentu saja.

"Panggil aku kalau kau berubah pikiran." Senyum malumalu masih mengembang di bibirnya, tapi Edward tidak melihatnya, dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa.

"Minum," ia menyuruhku.

Kusesap sodanya dengan paruh, lalu minum lagi lebih banyak. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. Aku baru sadar telah menenggak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya ke arahku.

"Terima kasih," gumamku, masih haus. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku, membuatku gemetaran.

"Kau kedinginan?"

"Tidak, hanya Coke yang kuminum," aku menjelaskan, kembali gemetaran.

“Kau tidak punya jaket?" suaranya tidak puas dengan penjelasanku.

“Punya." Aku memandang kursi kosong di sebelahku.

“Oh—ketinggalan di mobil Jessica," aku tersadar.

Edward menanggalkan jaketnya. Tiba-tiba aku menyadari tak sekali pun aku pernah memerhatikan pakaian yang dikenakannya—bukan hanya malam ini, tapi sejak awal. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. Namun sekarang aku melihatnya, benar-benar memerhatikannya.

Ia menanggalkan jaket kulit warna krem muda; di balik jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. Sweter itu amat pas di tubuhnya, memperjelas bentuk dadanya yang kekar.

Ia memberikan jaketnya padaku, mengalihkan kerlingan mataku.

"Terima kasih," kataku lagi, sambil mengenakan jaketnya. Rasanya sejuk—seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari.

Aku kembali gemetaran. Aromanya menyenangkan. Aku menghirupnya, mencoba mengenali aroma itu. Tidak seperti aroma kolonye. Lengannya kelewat panjang; aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.

"Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu," katanya memerhatikan. Aku terkejut; lalu menunduk, wajahku memerah tentu saja.

Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.

"Sungguh, aku tidak merasa syok," protesku.

"Kau seharusnya syok—seperti umumnya orang normal.

Kau bahkan tidak terlihat gemetaran." Ia tampak khawatir.

Ia menatap ke dalam mataku, dan aku melihat betapa matanya terang, lebih terang daripada yang pernah kulihat, cokelat keemasan.

"Aku merasa sangat aman denganmu," ujarku, begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi.

Perkataanku membuatnya tidak nyaman; alisnya yang berwarna pualam mengerut. Ia menggeleng, wajahnya cemberut.

"Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan." gumamnya pada diri sendiri.

Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya, sambil menebak ekspresinya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya.

"Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang." ujarku, mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.

Ia menatapku, terkesima. "Apa?"

"Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam," lanjutku. Aku punya teori tentang itu. Matanya menyipit. "Teori lagi?"

"Mm-hm." Aku mengunyah sepotong kecil roti, berusaha terlihat cuek.

"Kuharap kau lebih kreatif kali ini... atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?" Senyumnya mengejek, namun tatapannya masih tegang.

"Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri," aku mengakui.

"Dan?" sambarnya.

Penutup Novel Twilight – Port Angeles Bab 41

Gimana Novel twilight – Port Angeles Bab 41 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya