Tuesday, January 25, 2022

Bab 40 Novel Twilight – Port Angeles - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 40 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Port Angeles Bab 40

"Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom—entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo... Well, kau pasti ingat, dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus-menerus memperbaiki hubungan.

Novel Twilight


Aku tidak memerlukan musuh, dan barangkali Lauren akan kembali bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Meski begitu aku mungkin perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. Kalau tidak punya kendaraan, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom...,

" cerocosku. “Aku sudah dengar." Ia terdengar lebih tenang.

“Oh ya?' tanyaku tidak percaya, kejengkelanku menyalanyala lagi sekarang.

"Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah, dia juga tidak bisa pergi ke prom," gumamku, menjelaskan rencanaku.

Edward menghela napas, akhirnya membuka mara.

"Lebih baik?"

"Tidak juga."

Aku menunggu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit mobil.

Wajahnya kaku.

"Apa yang terjadi?" bisikku.

"Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella." Ia juga berbisik, memandang ke luar jendela, matanya menyipit.

"Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu..." Ia tidak menyelesaikan katakatanya,

memalingkan wajah, beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi.

"Setidaknya," lanjutnya, "itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri."

"Oh." Kata itu sepertinya tidak cukup, tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.

Kami duduk diam lagi. Aku melihat jam di dasbor. Sudah lewat 18.30.

"Jessica dan Angela pasti khawatir," gumamku.

"Aku seharusnya menemui mereka."

Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa, berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan, mobilnya masih ngebut, dengan mudah menyalip mobilmobil yang melaju pelan di jalur boardwalk.

Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya, tapi ia melakukannya dengan mudah.

Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia.

Jess dan Angela tampak baru saja meninggalkan meja. berjalan waswas menjauhi kami.

“Bagaimana kau tahu di mana...” aku memulai, tapi lalu aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dari mobil.

"Apa yang kaulakukan?" tanyaku.

"Mengajakmu makan malam," katanya sedikit tersenyum, tapi sorot matanya tetap tajam.

Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. Kulepaskan sabuk pengamanku, kemudian bergegas keluar dari mobil.

Ia menungguku di trotoar.

Ia berbicara mendahuluiku. "Pergilah, hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu 'teman-temanmu' yang tadi itu lagi."

Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. "Jess! Angela!" seruku mengejar mereka, melambai ketika mereka menoleh. Mereka bergegas menghampiriku. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Mereka ragu, enggan mendekat.

"Kau dari mana saja?" suara Jessica terdengar curiga.

"Aku tersesat," aku mengaku malu-malu. "Kemudian aku berpapasan dengan Edward," kataku sambil menunjuknya.

"Boleh aku bergabung dengan kalian?" ia bertanya, suaranya lembut dan menggoda. Dari ekspresi mereka yang terkejut, aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka.

“Mmm... tentu saja," dengus Jessica.

"Mmm, sebenarnya, Bella, kami sudah makan ketika menunggumu tadi—maaf," aku Angela. "Tidak apa-apa—lagi pula aku tidak lapar." Aku mengangkat bahu.

"Kurasa kau harus makan sesuatu." Suara Edward pelan, tapi bernada memerintah. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras,

"Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan."

"Eehh, tidak masalah, kurasa..." Jessica menggigit bibir, berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku mengedip padanya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.

"Oke." Angela mendahului Jessica.

"Sampai besok. Bella... Edward." Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil, yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street.

Ketika akan masuk ke mobil, Jess berbalik dan melambai, wajahnya penasaran. Aku balas melambai, menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward.

"Sejujurnya, aku tidak lapar," aku berkeras, mengamati wajahnya. Ekspresinya tak bisa ditebak.

"Kalau begitu, hibur aku."

Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. Jelas sekali ia tak ingin didebat. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.

Restorannya tidak ramai—saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. Kami disambut seorang cewek, dan aku memahami sorot matanya ketika ia menilai Edward. Ia menyambutnya dengan kehangatan lebih daripada seharusnya. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku, dan rambutnya dicat pirang.

“Untuk dua orang?" suara Edward terdengar menawan, entah disengaja atau tidak. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi, puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku.

Penutup Novel Twilight – Port Angeles Bab 40

Gimana Novel twilight – Port Angeles Bab 40 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya