Monday, January 17, 2022

Bab 4 Novel Twilight - Pandangan Pertama - Baca Di SIni

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 4 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Pandangan Pertama Bab 4 

Ketika bel berbunyi, suaranya berupa gumaman sengau Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara padaku.

Novel Twilight


"Kau Isabella Swan, kan?" Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong, tipe anggota klub catur. "Bella." aku meralatnya. Semua orang dalam jarak tiga kursi berbalik menghadapku.

"Habis ini kau masuk kelas apa?" tanyanya.

Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. "Mmm,

Pemerintahan, dengan Jefferson, di gedung enam." Aku tak bisa melihat ke mana pun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran.

"Aku akan ke gedung empat, aku bisa menunjukkannya padamu..." Jelas tipe kelewat suka menolong. "Aku Eric," tambahnya.

Aku tersenyum hati-hati. "Terima kasih." Kami mengambil jaket dan menerobos hujan, yang sudah reda. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. “Jadi, ini sangat berbeda dengan Phoenix heh?" tanyanya.

"Sangat".

"Di sana tidak sering hujan, kan?"

"Tiga atau empat kali setahun."

“Wow, seperti apa rasanya?" Ia membayangkan.

"Cerah," ujarku.

"Kulitmu tidak terlalu cokelat."

"Ibuku setengah albino."

Ia mengamati wajahku dengan waswas, dan aku mendesah. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. Beberapa bulan saja di tempat ini, aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis.

Kami berjalan lagi mengitari kafetaria, ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gimnasium. Eric mengantarku sampai ke pintu, meskipun papan tandanya jelas. "Semoga berhasil," katanya ketika aku meraih gagang pintu. "Barangkali kita akan bertemu di kelas lain." Ia terdengar berharap. Aku tersenyum samar dan masuk.

Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. Guru Trigonometriku, Mr. Varner, yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya, adalah satusatunya

yang menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Aku tergagap, wajahku merah padam, dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.

Setelah dua pelajaran, aku mulai mengenali beberapa wajah di masing-masing kelas. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain, yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. Aku mencoba berdiplomasi, tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta.

Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan bahasa Spanyol, dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat makan siang. Tubuhnya mungil, lebih pendek daripada aku yang 160 senti, tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Aku tak ingat namanya, jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Aku tak berusaha memerhatikannya. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa temannya. Ia memperkenalkanku pada mereka. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. Cowok dari kelas bahasa Inggris, Eric, melambai padaku dari seberang ruangan.

Di sanalah, duduk di ruang makan siang berusaha

memulai pembicaraan dengan tujuh orang asing yang penasaran, ketika aku pertama kali melihat mereka. Mereka duduk di sudut kafetaria, sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mereka berlima. Mereka tidak bicara, juga tidak makan, meskipun di depan mereka masing-masing ada satu nampan makanan yang tak tersentuh. Mereka tidak terpana menatapku, tidak seperti kebanyakan murid lainnya, jadi rasanya aman memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku.

Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Dari tiga cowok yang saru bertubuh besar—berotot seperti atlet angkat besi profesional, rambutnya gelap ikal. Yang lain lebih tinggi, lebih langsing tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. Ia lebih kekanakan daripada yang dua lagi, yang kelihatannya sudah kuliah, atau bahkan bisa jadi guru di sini dan bukannya murid. Yang cewek-cewek kebalikannya. Yang jangkung tatapannya dingin. Tubuhnya indah, seperti yang kalian lihat di sampul Sports Illustrated edisi pakaian renang, sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Rambutnya keemasan, tergerai lembut di punggung. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. sangat kurus, perawakannya mungil. Rambutnya hitam kelam, dipotong pendek dan lancip-lancip.

Namun toh mereka sama persis. Mereka pucat pasi, paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. Lebih pucat daripada aku, si albino. Mata mereka sangat gelap, begitu kontras dengan warna rambut mereka. Mereka juga memiliki kantong mata—keunguan, memar seperti bayangan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa bisa tidur, atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Terlepas dari hidung mereka, semua garis tubuh mereka lurus, sempurna, kaku. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling.

Aku memandangi mereka karena wajah mereka begitu berbeda, namun sangat mirip, semuanya luar biasa, keindahan yang memancarkan kekejaman. Mereka wajahwajah

yang tak pernah kauharapkan bakal kaulihat kecuali di halaman majalah fashion. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Sulit memutuskan siapa yang paling indah—mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu, atau si cowok berambut perunggu. Mereka semua mengalihkan pandangan—dari satu sama lain, dari murid-murid lain, dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Ketika aku memerhatikan, si cewek mungil bangkit membawa nampan—kaleng sodanya belum dibuka, apelnya masih utuh—dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. Aku terus mengawasinya, mengagumi langkah luwesnya yang bagai penari, sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. Mataku tertuju kembali ke yang lain, yang sama sekali tak beranjak. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku, yang aku lupa namanya. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud—meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu—tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya, cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan, mungkin yang paling muda. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik, lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. Ia berpaling dengan cepat, lebih cepat dari yang bisa kulakukan, meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan—seolah temanku telah menyebut namanya, dan ia memandang sebagai reaksi spontan, telah memutuskan untuk tidak menjawab. Gadis di sebelahku tertawa tersipu, menunduk memandangi meja seperti aku.

"Itu Edward dan Emmett Cullen, serta Rosalie dan

Jasper Hale. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen; mereka tinggal bersama dr. Cullen dan istrinya." Ia mengatakannya dengan berbisik.

Aku melirik cowok tampan itu, yang sekarang sedang memandangi nampannya, mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. Mulutnya bergerak sangat cepat, bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. Yang tiga lagi masih membuang muka, namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. 

Penutup Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 4

Gimana Novel twilight – Pandangan Pertama Bab 4 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya