Tuesday, January 25, 2022

Bab 39 Novel Twilight – Port Angeles - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 39 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Port Angeles Bab 39

Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku memberanikan diri menoleh sekilas, dan dengan lega melihat mereka kurang-lebih dua belas meter di belakangku.

Tapi kedua cowok itu sedang memandangiku.

Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Langkahku tetap stabil, dan kedua cowok di belakangku semakin jauh tertinggal. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya.

Aku melihat dua mobil yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju, dan aku menghela napas lega. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar jari jalanan sepi ini. Aku membelok dengan helaan napas lega.

Lalu menghentikan langkah.

Novel Twilight


Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan, lampu jalan, mobil-mobil, dan lebih banyak pejalan kaki, tapi mereka terlalu jauh. Karena terhalang bangunan di sebelah barat, di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya.

Mereka menatapku sambil tersenyum puas, sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku pun tersadar, aku tidak sedang diikuti.

Aku dijebak.

Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali.

Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang.

"Di situ kau rupanya!" Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget.

Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia seolah-olah memandang ke belakangku.

"Yeah," suara keras menyahut dari belakangku, membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari.

"Kami hanya mengambil jalan pintas." Langkahku sekarang pelan.

Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Teriakanku cukup keras dan lantang, karenanya aku menghirup napas dalam-dalam, bersiap-siap berteriak. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Dengan cepat aku meloloskan tali tasku dari kepala, menggenggamnya, siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hari-hari. dan berjalan pelan ke jalan.

"Jangan dekati aku." aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Tapi aku benar tentang tenggorokkan yang kering-tak ada suara yang keluar.

"Jangan begitu, Manis," seru cowok itu, dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku.

Aku memasang kuda-kuda, kaki terbuka, dengan panik berusaha mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. Kepalan tangan siap kulayangkan, mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. Menusukkan jari ke matanya—mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya.

Dan tentu saja jurus standar, tendangan lutut ke daerah vitalnya. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi, mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka, apalagi mereka berempat.

Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang.

Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar, memaksanya melompat ke trotoar. Aku berlari ke tengah jalan—mobil ini akan berhenti, atau menabrakku. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik, lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku.

"Masuk," terdengar suara gusar memerintahku. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap, mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku – bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan – hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya.

Aku melompat masuk, membanting pintu hingga tertutup. Suasana di dalam mobil gelap, tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka, dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor.

Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara, melaju terlalu cepat, berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. "Pakai sabuk pengamanmu," perintahnya, dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat.

Aku langsung mematuhinya; suara klik ketika sabuk pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. Ia membelok

tajam ke kiri, terus melesat cepat, melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil.

Tapi aku merasa sangat aman, dan sejenak aku sama sekali tak peduli ke mana tujuan kami. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam, kelegaan yang melebihi kebebasanku yang mendadak itu. Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas, menunggu napasku kembali normal, hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, terkejut mendengar betapa parau suaraku.

"Tidak," katanya kasar, nada suaranya marah. Aku duduk diam, memerhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan, sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku memandang berkeliling, tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. Kami sudah meninggalkan kota.

"Bella?" ujarnya, suaranya tegang tapi terkendali.

"Ya?" suaraku masih parau. Diam-diam aku berusaha berdeham.

"Kau baik-baik saja?" Ia masih tidak memandang ke arah ku tapi amarah tampak jelas di wajahnya.

"Ya," jawabku lembut.

"Tolong alihkan perhatianku," perintahnya.

"Maaf, apa katamu?"

Ia menghela napas keras-keras.

"Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang," ia menjelaskan.

Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.

"Mmm." Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh.

"Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?"

Ia masih memejamkan mata dengan susah payah, tapi sudut bibirnya menegang.

"Kenapa?"

Penutup Novel Twilight – Port Angeles Bab 39

Gimana Novel twilight – Port Angeles Bab 39 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya