Tuesday, January 25, 2022

Bab 38 Novel Twilight – Port Angeles - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 38 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Port Angeles Bab 38

Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata itu bukan toko buku yang kucari. Jendelanya penuh kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual.

Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun '60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini.

Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orangorang yang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlalu memerhatikan arah langkahku; aku sedang berkutat dengan kesedihanku.

Aku sedang berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itulah aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver diparkir dijalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku.

Novel Twilight


Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba di sana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong.

Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan.

Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menunjuk arah utara, dan sepertinya bangunan-bangunan di sini kebanyakan gudang.

Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak terlalu jauh dariku.

Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka.

"Hei, kau!" panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku.

Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel di atas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku.

"Halo," gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku.

"Hei, tunggu!" salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku.

Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudang-gudang yang suram, masingmasing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin.

Sepertinya aku telah sampai di bagian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan Jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyong-konyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong.

Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku.

Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi.

Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis di mana aku menaruh semprotan ladaku—masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak uang, hanya selembar dua puluh dolar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur.

Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langkah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi.

Kedengarannya mereka tidak mempercepat langkah ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang sekarang tinggal beberapa meter.

Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang. Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku berpikir untuk menyetopnya, tapi ragu, tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku.

Aku sampai di sudut, tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Aku setengah berbalik dengan siaga; aku harus bergegas berian menyeberangi gang sempit itu, kembali ke trotoar. Jalanannya berakhir di sudut berikut, di sana ada rambu stop. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkahlangkah

samar di belakangku, memutuskan akan lari atau tidak. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang, dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku yakin bakal tersandung dan jatuh kalau berjalan lebih cepat lagi.

Penutup Novel Twilight – Port Angeles Bab 38

Gimana Novel twilight – Port Angeles Bab 38 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya