Monday, January 24, 2022

Bab 36 Novel Twilight – Mimpi Buruk - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 36 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Mimpi Buruk Bab 36

Kuputuskan untuk menghabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dengan pelajaran sekolah. Aku membawa beberapa buku ke Forks, dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen.

Aku memilihnya dan pergi ke Halaman belakang. Dalam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas.

Di luar, di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi, selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan, di atas rumput tebal yang selalu agak basah, tak peduli seberapa lama matahari menyinarinya. Aku berbaring menelungkup, mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki membalik-balik halaman novel itu, mencoba memutuskan cerita manakah yang paling menarik. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility.

Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama, jadi kupilih Sense and Sensibility. Setelah sampai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park, tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund, hampir mirip. Memangnya tak ada nama lain pada akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup, merasa jengkel, lalu berguling hingga telentang.

Novel Twilight


Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku, ujarku kasar pada diri sendiri. Angin masih sepoi-sepoi, tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku, dan rasanya agak geli.

Kutarik rambutku ke atas, membiarkannya mengering di selimut di atas kepalaku, dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata, tulang pipi, hidung, bibir, lengan bawah, leher, menembus kausku yang tipis...

Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. Aku langsung terbangun, duduk, menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Rupanya aku tertidur. Aku mengedarkan pandang, bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup.

Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku.

Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, sadar waktu maka malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk.

"Maaf, Dad, makan malam belum siap—aku ketiduran di luar sana. Aku mengatakannya sambil menguap. "Jangan khawatir,” katanya. "Aku hanya ingin cepatcepat nonton pertandingan kok."

Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka bisbol, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya.

Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipun aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang.

"Dad," karaku saat jeda iklan,

"besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta dansa, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?"

"Jessica Stanley?" tanyanya.

"Dan Angela Weber." Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya.

Ia bingung. "Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?"

"Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian – kau tahu, memberi kritik yang membangun." Aku nggak perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan.

"Well, baiklah." Ia sepertinya menyadari dirinya sama sej tidak mengerti urusan anak perempuan. "Itu masih malam sekolah, kan?"

"Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyiapkan makan malam sendiri, kan?"

"Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang," ia mengingatkanku.

"Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu," gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, "aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas."

Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaian yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua—sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix.

Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampai-sampai nyaris tak punya waktu untuk bergegas ke kelas.

Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada di situ. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi.

Hari ini sama seperti kemarin—aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi.

Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu dilakukannya.

Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusak kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian.

Kuenyahkan pikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seattle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku.

Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks.

Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi di mana kusimpan makan malamnya. Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari keluar dan bergabung dengan Jessica.

Selanjurnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

Penutup Novel Twilight – Mimpi Buruk Bab 36

Gimana Novel twilight – Mimpi Buruk Bab 36 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya