Monday, January 24, 2022

Bab 35 Novel Twilight – Mimpi Buruk - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 35 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Mimpi Buruk Bab 35

Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt, berhubung aku tidak ke mana-mana.

Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari itu, makalah tentang Macbeck yang harus dikumpulkan hari Rabu. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati, lebih tenang daripada yang kurasakan sejak... Well, Kamis sore sejujurnya.

Novel Twilight

Aku memang selalu seperti itu. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku, bagian yang paling membuatku menderita.

Tapi begitu keputusan diambil, aku tinggal menjalaninya—biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan, seperti keputusanku datang ke Forks.

Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. Anehnya keputusan ini mudah dijalani. Mudah sekaligus berbahaya.

Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang, produktif—aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Charlie pulang membawa tangkapan besar, dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan.

Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Keduanya seharusnya berbeda, pikirku. Aku seharusnya takut—aku tahu aku mestinya merasa takut, tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya.

Malam itu aku tidur tanpa mimpi, kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal, padahal malamnya aku kurang tidur. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks, aku terbangun karena cahaya kuning terang, pertanda hari bakal cerah.

Aku melompat ke jendela, tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit, hanya ada guratan putih kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Kubuka jendela—terkejut karena tak ada bunyi deritan, mulus, padahal entah sudah berapa lama jendela itu tak pernah dibuka—dan menghirup udara yang kering. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku.

Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun, dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku.

“Hari yang bagus untuk berada di luar," komentarnya.

“Ya,” aku menimpalinya sambil tersenyum. Ia balas tersenyum, mata cokelatnya berkerut di sudutsudutnya.

Ketika Charlie tersenyum, sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya.

Rambut cokelat ikalnya–jika bukan teksturnya, warnanya sama dengan rambutku–celah menipis, perlahan memperlihatkan dahinya yang mengilat. Tapi ketika ia tersenyum, aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang telah kawin lari dengan Renee ketika umurnya masih dua tahun lebih tua dari umurku sekarang.

Aku menyantap sarapanku dengan ceria, memerhatikan debu-debu beterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang.

Charlie meneriakkan ucapan perpisahan, dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak, tanganku memegang jas hujan. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di Lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.

Dengan menuangkan banyak pelumas, aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. Aku menjadi salah satu murid yang tiba pertama di sekolah; aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab, jadi aku duduk beralaskan jas hujan, senang bisa menggunakannya.

PR-ku sudah selesai—hasil kehidupan sosial yang menyedihkan—tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat, tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun, memerhatikan sinar matahari bermainmain dengan pepohonan red-barked. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus.

"Bella!" aku mendengar seseorang memanggilku, kedengarannya seperti Mike.

Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. Semua anak mengenakan T-shirt, bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15ºC. Mike menghampiriku. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris, dan sedang melambai ke arahku.

"Hei, Mike," sapaku sambil balas melambai, tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. Ia duduk di sebelahku, rambut spike-nya bersinar keemasan, senyum merekah di bibirnya.

Ia sangat senang bertemu denganku, hingga mau tak mau aku senang juga.

"Baru sekarang kuperhatikan—rambutmu ada semburat merahnya," katanya seraya meraih sejumput rambutku yang berkibaran dengan jemarinya.

"Hanya di bawah sinar matahari." Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku.

"Hari yang indah, bukan?"

"Hari yang kusuka," sahutku.

"Apa yang kaulakukan kemarin?" Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya.

"Seharian mengerjakan esai." Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya—tak perlulah menyombongkan diri.

Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. "Oh iya... dikumpulkan Kamis, kan?"

"Mmm, kurasa Rabu."

“Rabu?" sahutnya, dahinya berkerut. "Gawat... esaimu tentang apa?"

Penutup Novel Twilight – Mimpi Buruk Bab 35

Gimana Novel twilight – Mimpi Buruk Bab 35 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya