Friday, January 14, 2022

Bab 3 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

 Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 3

Baca Novel Elena Bab 3 Di Sini Sekarang 

Eugene sudah tak menginginkan bir dan rokoknya. Berpakaian lalu bergegas turun ke lobi hotel. Ditemuinya lagi resepsionis, sambil menyodorkan bukunya. “Bisakah tolong kau bacakan ini untuk saya?” tanyanya dalam bahasa Inggris pada resepsionis yang mengangguk tersenyum ramah. “Aku menyukaimu. Maukah kau jadi ayahku satu hari? Datanglah ke sekolahku besok.” Resepsionis itu berhenti membaca sebentar untuk menterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Ia menatap Eugene sesaat lalu melanjutkan kembali dengan menyebutkan satu nama sekolah.

novel elena


“Di mana sekolah itu? Jauhkah?” tanya Eugene bersemangat. “Dekat, hanya beberapa blok dari sini. Kami bisa mengantar jika kau mau.” “Sempurna. Oke, besok pagi aku akan siap berangkat jam tujuh.” “Baiklah.” “Terima kasih banyak.” “Sama-sama.” Kembali ke kamar, Eugene membuang semua persediaan bir dan rokoknya. Jika ia ingin menjadi ayah yang baik, tentu ia tidak akan membawa pengaruh buruk untuk anaknya.

Tak apa hanya menjadi ayahnya sehari, dari pada tidak sama sekali. Matanya berbinar, besok ia akan bertemu Al! rasa Tetiba perutnya berbunyi, ia baru menyadari laparnya. Setelah memasukkan beberapa barang yang diperlukan ke dalam tas selempang, ia turun lagi untuk keluar makan dan berniat membeli sesuatu hadiah untuk Al.

Eugene mengamati sekelilingnya, kedai soto betawi ini cukup ramai. Ia selalu menyukai makan di kedai-kedai pinggir jalan tanpa merasa risih saat terkadang menjadi pusat perhatian. Entah sudah berapa banyak tempat kuliner yang ia kunjungi bersama Elena. Baginya orang-orang Indonesia sangat ramah dan menyenangkan. Dan aneka ragam kulinernya tak habis membuat ia berdecak nikmat.

Dulu, ia pernah beberapa kali makan di sini. Bersama Elena. Ia seringkali menghabiskan porsi Elena karena daya tampung perempuan itu kecil sekali. Katanya nafsu makannya selalu berkurang setiap kali makan di dekatnya, sesekali Eugene berseloroh mungkin nafsu yang lain yang bertambah. Dan ia tak tahan untuk tidak tersenyum mengingat wajah Elena yang bersemu merah karena malu. Selain karena menyukai tempat dan menu-menu yang luarbiasa nikmat menurutnya. Juga karena ia hobimemasak.

Baginya berwisata kuliner merupakan salah satu cara yang menyenangkan untuk menambah pengetahuan dan keahliannya. Dan Elena, mahluk yang selalu terlihat indah di matanya itu ... tidak bisa memasak sama sekali! Lagi-lagi Eugene tersenyum-senyum sendiri. Tetiba ia rindu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua seperti dulu. Eugene menghabiskan dua porsi soto betawi tanpa nasi dan teh hangat.

Setelah membayar ia lalu beranjak pergi. Ia melangkah menuju sebuah pusat perbelanjaan. Selama berhubungan dengan Elena, sedikit banyak ia telah menjelajahi kota ini. Sejak melihat gambar Al, Eugene sudah tau persis hadiah apa yang akan diberikannya pada anak itu. Tapi ternyata menemukan yang terbaik membutuhkan waktu yang lumayan lama. Setelah memasuki beberapa toko akhirnya ia menemukan yang cocok.

Hari sudah gelap ketika Eugene keluar dari pusat perbelanjaan membawa hadiah untuk Al. Ia merasa sedikit letih dan memutuskan kembali ke hotel dengan naik taksi. Sesampainya di kamar hotel, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang bertelanjang dada hanya mengenakan celana boxer. Matanya terpejam tapi tidak tidur. Ia tak sabar menunggu besok.

Wajah Al melintas lalu berganti bayangan Elena yang menghampiri. Elena. Perempuan itu ... ia sudah mengenalnya lama. Tapi terlalu lama sampai akhirnya terlambat menyadari bahwa ia sangat mencintainya. Ia mengikuti setiap metaforsa Elena. Dari mulai gadis manja, selalu bercelana jeans dan kaos oblong ke mana-mana. Lalu tiba-tiba Elena memutuskan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.

Sampai akhirnya yang paling mengejutkan yang ia lihat siang tadi. Elena terlihat anggun keibuan bersahaja dengan kemeja panjang dan penutup kepala yang lebar. Dia sangat ... terjaga ... sehingga Eugene tidak berani menyentuhnya meskipun dia sangat ingin. Baginya, Elena telah melewati masa metamorfosis dan mencapai bentuk terindahnya.

Apakah ini terkait dengan panggilan telepon terakhirnya tujuh tahun lalu? Dia ingin beremigrasi dan meninggalkannya. Apa itu migrasi? Elena tidak pernah menjelaskannya dan dia sendiri tidak pernah mengetahuinya. Lalu Al? Bagaimana dengan Al? Apa dia tidak berhak tahu tentang Al? Eugene menutupi wajahnya dengan bantal. Tapi semakin dalam dia menenggelamkan wajahnya, semakin banyak ingatannya tentang Elena tujuh tahun lalu sebelum wanita itu akhirnya menghilang, berkerumun di kepalanya.

Tujuh tahun lalu Elena baru bersiap pulang kantor ketika telepon genggamnya berbunyi. “Elena!” seru suara yang sangat dikenalnya. “Eugene! Di mana kau?” “Masih di apartemen. Tunggu, aku jemput kau setengah jam lagi di tempat biasa.” “Aku pikir kau sudah terbang pulang ke Kanada siang tadi.” “Tidak, aku menambah cutiku sampai besok. Aku masih ingin bersamamu.

Tunggu aku.” lalu telepon di tutup. Elena duduk di sebuah kedai kopi sambil memainkan gawainya ketika merasakan ubun-ubunnya dikecup seseorang dari belakang. Ia hapal betul siapa yang melakukannya. Eugene tersenyum, duduk berhadap hadapan. Elena tak pernah bisa berhenti jatuh cinta pada sosok di depannya, bahkan setelah ia menikah sekalipun.

“Kau sudah selesai dengan kopimu? Ayo kita pergi.” Ajak Eugene bersemangat. “Kau tak ingin minum dulu?” “Tidak. Ayolah aku sudah tak sabar ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Eugene meninggalkan selembar uang di bawah cangkir kopi dan menggamit lengan Elena keluar dari kedai kopi. Mereka berjalan ke arah apartemen tempat Eugene tinggal sementara selama di Jakarta.

Kantor Elena berada di sebuah area yang cukup lengkap. Selain berjejer ruko-ruko perkantoran, kedai-kedai kopi dan makanan, salon kecantikan, tempat hiburan, terdapat mall terbesar Asia Tenggara, juga tersedia apartemen apartemen untuk disewakan baik jangka panjang maupun pendek. Eugene selalu memilih tinggal di apartemen di sekitar kantor Elena selama mengunjunginya di Jakarta. Sehingga ia bisa sering-sering melewatkan waktu bersamanya mulai sarapan pagi, makan siang bahkan makan malam.

Seringkali Eugene pamer keahliannya memasak untuk Elena. Entah apa alasan Elena pada suaminya setiap ia pulang larut, ia tidak peduli. Sampai di depan pintu apartemen, Eugene menutup mata Elena dengan sapu tangan. “Apa-apaan ini?” Elena tertawa geli. “Ssst percayalah padaku, masuklah dan cari aku. Kalau kau benar mencintaiku pasti kau akan menemukanku.” Eugene berbisik, napasnya terasa hangat di telinga.

Lalu Eugene bergerak menjauh. “Eugene, aku bisa jatuh menabrak sesuatu!” akan “Jangan khawatir, aku menangkapmu jika kau jatuh.” Elena tertawa kecil, perasaannya campur aduk tak karuan tapi ia menyukai perasaan itu. Elena melepaskan sepatu pantofelnya. Lalu ia merasakan telapak kakinya menyentuh benda-benda kecil yang lembut, banyak sekali dan wangi ... melati. Eugene sama sekali tak bersuara.

Elena benar-benar mengandalkan ingatannya tentang tata letak ruangan dan penciumannya. Ia berusaha mencari aroma khas dari tubuh Eugene diantara harumnya tebaran bunga melati ia melangkah pelan dan hati-hati. Bruk! Elena menabrak Eugene lalu mereka tertawa bersama. “Kau menemukanku.” kata Eugene sambil membuka ikatan yang menutup mata Elena. Sejurus kemudian Elena terperangah.

Ruangan yang biasanya berantakan kali ini terlihat begitu indah. Seluruh lantainya tertutup bunga melati dan buket-buket mawar merah di setiap sudutnya. Eugene menggandeng Elena yang masih terus mengitarkan pandangan tak percaya, ke meja makan. Elena semakin terperangah, lampu yang temaram, dua batang lilin, setangkai mawar merekah sempurna di tengah meja. Berikut dua gelas air putih dan peralatan makan yang tertata rapih.

Eugene menarik kursi dan mempersilakan Elena duduk. Ia lalu bergegas ke dapur, kembali lagi dengan dua porsi besar steak daging sapi. Tentu saja, ia yang memasaknya. “Makanlah.” “Aku tak bernapsu melihat daging sebesar ini.” Elena tertawa. “Kau ingin langsung ke menu penutup?” kerling Eugene menggoda. Wajah Elena merah padam, malu.

Elena menghabiskan seperempat porsi, perutnya tak kuat lagi. Tapi seperti biasa masakan Eugene selalu pandai menyesuaikan cita rasa sehingga selalu cocok di lidahnya yang asli Indonesia. Eugene bangkit, memutar instrumen lembut dengan volume pelan. Lalu menghampiri Elena, mengajaknya berdansa. “Aku tidak bisa dansa.” bisik Elena. “Letakkan kakimu di atas kakiku.” Eugene balas berbisik.

Elena menurutinya, Eugene meraih pinggang Elena dan mendekatkan rapat ke tubuhnya. Wajah Elena tepat di dada lelaki itu, ia menempelkan pipi kirinya di sana. Eugene mulai bergerak perlahan. “Lihat, sekarang kau bisa berdansa.” ujar Eugene lirih sambil menciumi kepala Elena. Harum rambutnya membangkitkan gairah. Napasnya mulai tak beraturan. Elena merasakan jantungnya seperti berloncatan di dalam dadanya. “Elena ...” “Ya ...” “Run away with me, would you? (Maukah kau pergi bersamaku?” Eugene menghentikan gerak kakinya, diangkat dagu Elena. Mata keduanya bertemu. “Kita bisa tinggal di manapun kau suka sampai kau bosan berpindah-pindah dan memutuskan hidup sederhana di tepi pantai. Itu kan yang kau mau dari dulu ...” “Aku tak bisa ... “ mata Elena mulai berkaca-kaca.

Eugene menghapus buliran bening yang jatuh di pipi Elena. Ia merasakan nyeri di dadanya setiap kali perempuan itu menangis. “I hate to see you cry Elena. I’ll wait till you ready. (Aku benci melihatmu menangis, Elena. Aku akan menunggumu sampai kau siap.)” Eugene mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kalung berinisial huruf E yang digandeng menjadi satu.

Ia memakaikannya di leher Elena. “Apa ini?” “Ini kalung, masa kau tak tau. Hadiah dariku, supaya kau ingat aku selalu menunggumu sampai kapanpun.” Eugenemengelusrambutpanjang Elena. Mengecup kedua matanya, hidungnya lalu turun ke bibirnya. Elena memejamkan mata, jemarinya meremas kemeja bagian belakang Eugene. Selanjutnya kedua insan itu lupa segalanya, makin dalam masuk kubangan dosa.

Kembali ke kamar hotel Eugene

 Tok! Tok! Tok! Suara pintu kamar diketuk agak keras. Eugene terlonjak kaget. Ia ketiduran! “Mister sudah jam tujuh pagi ...” ujar seseorang di balik pintu. “Oke oke saya akan turun sepuluh menit lagi!” teriaknya dari dalam, panik. “Baik, mister. Saya tunggu di bawah.” Eugene buru-buru mandi, berpakaian, tidak lupa memakai tas selempangnya dan melesat turun ke lobi hotel. “I’m ready! (Saya siap!)” ujarnya sambil menghampiri meja resepsionis.

“Ini Pak Udin. Supir hotel, dia yang akan mengantarkan ke tujuan.” sahut resepsionis sambil tersenyum ramah. “Halo Pak Udin. Saya Eugene. Ayo kita berangkat!” Dua puluh menit sudah terjebak kemacetan. Eugene gelisah. “Masih jauh, Pak?” tanyanya dalam bahasa Inggris. “Sebenarnya sudah dekat tapi karena macet jadi agak lebih lama. Mister lihat lampu merah itu? Belok kanan sudah terlihat sekolahannya.” “Baiklah, kalau begitu saya jalan saja. Ini Pak Udin, terima kasih.

” Eugene memberikan selembar uang kepada Pak Udin dan buru-buru keluar dari mobil. Sepanjang jalan ia berlari. Tak sulit baginya yang sudah terbiasa berolahraga. Sampai di depan gerbang sekolah bercat merah, ia berhenti. Sejenak mengatur napasnya, lalu membuka pagar. Tampak halaman sekolah tengah ramai dengan anak-anak murid dan para ayah. Mata Eugene mencari-cari sosok Al. Baru dua langkah masuk halaman, ia dihadang dua orang satpam.

“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang dari mereka. “Ya, saya sudah berjanji datang pada Al hari ini.” “Al siapa?” “Al Fatih, anaknya Elena.” terang Eugene mulai tak sabar. “Anda siapa?” Rasanya ingin sekali Eugene menjawab, ‘Saya ayahnya’ tapi tentu saja itu tidak mungkin. 

“Saya temannya.” “Hah? Temannya?” kedua satpam itu saling berpandangan, merasakan adalah hal yang konyol anak kelas 1SD berteman dengan lelaki asing usia 40 tahunan. “Tolonglah, saya sudah berjanji akan datang hari ini pada Al.” Eugene setengah memohon. “Maaf mister, tidak bisa masuk bertemu Al. Kecuali Anda membawa bukti persetujuan dari orangtuanya.” Ujar satpam itu tegas. “Ya Tuhan ...” Eugene meremas rambutnya kesal.

Kesimpulan Novel Elena Bab 3

Bagaiman Bab 3 nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya