Thursday, January 20, 2022

Bab 28 Novel Twilight – Golongan Darah - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 28 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Golongan Darah Bab 28

Angin kencang bertiup bersama ombak, sejuk dan asin. Burung-burung pelikan melayang di atas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Awanawan

masih mengelilingi langit, seolah mengancam akan menutupinya sewaktu-waktu, tapi untuk sementara matahari bersinar cerah di langit yang biru. Kami berjalan menuju pantai, Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Ada api unggun di sana, penuh abu hitam.

Novel Twilight


Eric dan cowok yang kukira bernama Ben, mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan, dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting di atas sisa-sisa abu.

"Kau pernah melihat api unggun driftwood?" Mike bertanya.

Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai; cewek-cewek lain berkumpul, bergosip ceria di sebelahku. Mike berlutut di depan api unggun, menyalakan ranting terpendek dengan korek api.

"Belum," kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu.

“Kalau begitu kau akan menyukai ini—perhatikan warna-warnanya." Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama.

Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering.

"Warnanya biru," kataku kagum.

"Itu karena garam. Cantik, ya?" Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi, dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api, lalu duduk di sebelahku.

Untung Jess ada di sisinya yang lain. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. Aku memerhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Setelah setengah jam mengobrol, beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasang-surut terdekat.

Ini benar-benar dilema. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Aku sudah menyukainya sejak kecil; kolam-kolam inilah yang ku-nanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks.

Di sisi lain aku juga sering tenggelam di sana. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward— agar tidak jatuh ke lautan.

Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Ia tidak ingin mendaki, dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan tetap di pantai. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka.

Lalu aku bangkit diam-diam untuk bergabung dengan anak-anak yang ingin mendaki. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. Pendakiannya tidak terlalu panjang, meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan.

Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja, terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Aku harus berhati-hati melangkah, menghindari akar-akar yang menyembul di bawah, dan ranting-ranting di atas kepalaku, dan aku pun langsung tertinggal dari yang lain.

Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Ombaknya rendah, dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Sepanjang tepiannya yang berbaru-baru, kolamkolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup.

Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. Yang lain sepertinya tak kenal takut, melompat-lompat di antara bebatuan, bertengger di ujung tebing berbahaya.

Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar, lalu duduk hati-hati di sana, terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas.

Samar-samar kepiting merangkak di antaranya, bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian, sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau, menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut.

Aku begitu terlena, kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang, dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada di sini bersamaku.

Akhirnya cowok-cowok kelaparan, dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan, hingga beberapa kali aku terjatuh.

Telapak tanganku beberapa kali tergores, dan bagian lutut jinsku bernoda hijau, tapi bisa saja lebih parah. Ketika kami kembali ke First Beach. jumlah orang di sana sudah bertambah. Ketika makin dekat, kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan, kulit mereka berwarna tembaga. Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi.

Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Angela dan aku tiba terakhir, dan, ketika Eric memperkenalkan nama kami, aku memerhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik.

Aku duduk di sebelah Angela, dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda, sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica, dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob.

Duduk bersama Angela sangat menenangkan; ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman—ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir.

Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur, sering kali samar-samar, dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting, dan melekat dalam pikiranku. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini, dan hal itu menggangguku.

Penutup Novel Twilight – Golongan Darah Bab 28

Gimana Novel twilight – Golongan Darah Bab 28 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya