Thursday, January 20, 2022

Bab 27 Novel Twilight – Golongan Darah - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 27 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Golongan Darah Bab 27

Di mejaku yang biasa, semua sibuk membicarakan rencana besok. Mike sudah ceria lagi, ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. Aku harus melihatnya sendiri sebelum memercayainya. Tapi hari ini udara lebih hangat—hampir 15°C. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan.

Novel Twilight


Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Aku tidak mengerti kenapa, sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Aku tepat di belakangnya, hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal, dan ia tidak menyadarinya.

"...tak tahu kenapa Bella"—ia mencibir ketika menyebut namaku—

"tidak duduk saja dengan keluarga Cullen mulai sekarang," aku mendengarnya bergumam pada Mike.

Aku tak pernah memerhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya, dan aku terkejut dengan kebencian yang terdengar di dalamnya. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini, jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku—atau begitulah menurutku.

"Dia temanku; dia duduk bersama kita," Mike berbisik padanya, menunjukkan kesetiaannya padaku, tapi juga sedikit posesif.

 Aku berhenti untuk membiarkan Jessica dan Angela melewatiku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Malam itu, saat makan malam, Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalan-jalanku ke La Push esok pagi.

Kurasa ia merasa bersalah karena meninggalkanku sendirian di rumah pada akhir pekan, tapi sudah terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu, sehingga sulit untuk mengubahnya. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi, dan orangtua mereka, dan barangkali kakek buyut mereka juga. Kelihatannya ia tidak keberatan.

Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Bukannya aku bakal memberitahunya.

"Dad, kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier," tanyaku santai. "Yeah, kenapa?"

Aku mengangkat bahu. "Beberapa teman berencana akan kemping di sana."

“Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping." Ia terdengar terkejut. "Terlalu banyak beruang. Kebanyakan orang pergi ke sana pada musim berburu." “Oh," gumamku. "Mungkin aku salah mengingat namanya."

Aku bermaksud pergi tidur, tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Aku tak percaya. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya, dan bisa dipastikan, matahari bersinar.

Bukan di tempat semestinya, terlalu rendah, dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya, tapi jelas itu matahari. Awan-awan menggantung di langit, tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. Aku berdiri di jendela selama mungkin, khawatir kalau kutinggalkan, langit biru itu akan lenyap lagi.

Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Aku sudah pernah melihatnya, tapi belum pernah singgah di sana—sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler.

Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka, aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Eric ada di sana, bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku; aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. Jess ada di sana, diikuti Angela dan Lauren. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka, yang satu aku ingat jatuh di gimnasium Jumat lalu.

Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk, dan membisikkan sesuatu kepada Lauren. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek.

Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan.

Setidaknya Mike senang melihatku.

"Kau datang!" serunya, gembira. "Sudah kubilang hari bakal cerah, kan?"

"Sudah kubilang aku bakal datang," aku mengingatkan. "Kami sedang menunggu Lee dan Samantha... kecuali kau mengundang seseorang," Mike menambahkan.

"Tidak," ujarku berbohong, berharap tidak ketahuan.

Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul.

Mike tampak puas.

"Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya itu atau minivan ibu Lee.”

"Oke."

Ia tersenyum bahagia. Betapa mudahnya membuat Mike senang.

"Kau boleh membawa senjata," ujarnya. Aku mengulum senyum. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Bisa kulihat Jessica menatap marah kepada kami. Meski begitu, jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. Lee mengajak dua orang lagi, sehingga semua mobil penuh. Aku berhasil menyelipkan Jessica di antara Mike dan aku, duduk di kursi depan Suburban Mike.

Mike tampak kecewa, tapi setidaknya Jess kelihatan puas.

Jarak antara La Push dan Forks hanya lima belas mil. Sepanjang jalan ke sana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali, dan Sungai Quillayute yang lebat. Aku senang bisa duduk dekat jendela. Kami membuka jendelanya— keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan sembilan penumpang—dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin.

Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie, sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Tapi tetap saja memesona.

Airnya kelabu gelap, bahkan di bawah sinar matahari sekalipun, tampak pucat menjorok ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya, naik ke puncak yang tak beraturan, dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang.

Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir, yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan, yang dari kejauhan tampak abu-abu, namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan: merah bata, hijau laut, lavender, biru, abu-abu, keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin, beberapa berimpitan di bibir hutan, beberapa sendirian, jauh dari jangkauan ombak.

Penutup Novel Twilight – Golongan Darah Bab 27

Gimana Novel twilight – Golongan Darah Bab 27 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya