Thursday, January 20, 2022

Bab 23 Novel Twilight – Golongan Darah - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 23 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Golongan Darah Bab 23

Lalu Mr. Banner masuk, dan mengabsen kami satu per satu. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike, menyuruhnya membagikannya ke yang lain. "Oke, guys, aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak," kata Mr. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas labnya,

Novel Twilight


lalu mengenakannya. Suara keras yang terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga ke pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku.

"Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator," ia melanjutkan, meraih kartu putih dengan empat persegi di atasnya, lalu memperlihatkannya pada kami.

"Yang kedua aplikator segi empat—" ia mengangkat sesuatu mirip sisir yang nyaris tak bergerigi

 "—dan yang ketiga jarum suntik kecil steril." Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya.

Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan, tapi perutku langsung mulas. "Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian, jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang" Ia mulai dari meja Mike lagi, berhatihati

meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu.

 "Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum." Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Oh, tidak.

Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku.

"Taruh setetes darah, sedikit saja, pada masing-masing kotak." Ia memeragakannya, meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. Aku menelan liurku karena tegang perutku rasanya mau meledak.

"Kemudian oleskan ke kartu," ia selesai dengan peragaannya, memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. Aku memejamkan mata, berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging.

"Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian." Ia terdengar bangga.

 "Kalian yang belum genap delapan belas tahun perlu izin dari orangtua—aku punya formulir izinnya di mejaku." Ia berkeliling kelas dengan air tetesnya. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam, mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar.

 Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan, suara anak-anak mengeluh, dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku.

“Bella, kau baik-baik saja?" tanya Mr. Banner. Suaranya terdengar sangat dekat, mengagetkanku. “Aku sudah tahu golongan darahku, Mr. Banner," kataku lemah. Aku takut mengangkat kepala.

“Apa kau mau pingsan?"

"Ya, Sir," gumamku, diam-diam menendang diriku sendiri karena tidak membolos.

"Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?" seru Mr.

Banner.

Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.

"Kau bisa jalan?" tanya Mr. Banner.

"Ya," bisikku. Keluarkan saja aku dari sini, pikirku.

Kalau perlu, aku akan merangkak.

Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas.

Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria, tak terlihat dari gedung empat, kalau-kalau Mr. Banner memerhatikan, aku berhenti.

"Biarkan aku duduk dulu sebentar," aku memohon padanya.

Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. "Dan apa pun yang kaulakukan, jaga tanganmu," kataku mengingatkan. Aku masih sangat pusing. Aku merebahkan diri dengan posisi miring menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembab, memejamkan mata.

Sepertinya ini agak membantu.

"Wow, kau pucat, Bella," kata Mike khawatir.

"Bella?" suara yang berbeda memanggil dari jauh. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi.

"Apa yang terjadi—apakah dia sakit?" Suaranya lebih

dekat sekarang dan ia terdengar muram. Aku tidak sedang berkhayal. Aku terus memejamkan mata, berharap diriku mati. Atau setidaknya tidak muntah.

Mike tampak sangat khawatir. "Kurasa dia pingsan. Aku tak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya.”

"Bella." Edward sudah di sebelahku sekarang lega. "Kau

bisa mendengarku?" "Tidak" erangku. "Pergilah." Ia tertawa.

"Aku sedang membawanya ke UKS," Mike menjelaskan dengan nada defensif, "tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi."

"Aku akan mengantarnya," kata Edward. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. "Kau bisa kembali ke kelas."

"Tidak," protes Mike. "Aku yang seharusnya melakukannya."

Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Kubuka mataku karena terkejut. Edward telah menggendongku, begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo, bukannya 55.

"Turunkan aku!" Kumohon, kumohon, jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.

"Hei!" seru Mike, yang tertinggal jauh di belakang kami. Edward mengabaikannya. "Kau tampak kacau," katanya padaku, nyengir.

"Turunkan aku," keluhku. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Ia membopongku dengan lembut, menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya—dan ini sepertinya tidak mengganggunya.

“Jadi kau pingsan karena melihat darah?" ia bertanya.

Sepertinya ini menghiburnya.

Aku tidak menyahut. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.

"Bahkan dengan darahmu sendiri," lanjutnya, menikmat, perkataannya.

Penutup Novel Twilight – Golongan Darah Bab 23

Gimana Novel twilight – Golongan Darah Bab 23 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya