Wednesday, January 19, 2022

Bab 21 Novel Twilight – Golongan Darah - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 21 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Golongan Darah Bab 21

5. GOLONGAN DARAH

AKU berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai.

"Terima kasih sudah datang, Miss Swan," sindir Mr.

Mason.

Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku.

Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku.

Novel Twilight


Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4ºC kalau kami beruntung.

Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya.

Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini.

Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benar-benar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus berceloteh tentang rencananya di pesta dansa—Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak.

Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada di sana, tapi ia tidak ada. Apakah ia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap—aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku.

"Edward Cullen sedang memandangimu lagi," kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. 

"Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini." Kuangkat kepalaku cepat-cepat. 

Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat ia biasanya duduk.

Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan menggerakkan telunjuknya padaku, mengajaki bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata.

"Apakah maksudnya kau?" Jessica bertanya, suaranya terkejut.

"Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi." gumamku menenangkannya. "Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya."

Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward.

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang

kursi di seberangnya, ragu-ragu.

"Duduklah bersamaku hari ini," pintanya sambil tersenyum.

Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi.

Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu.

"Ini tidak seperti biasanya," akhirnya aku berkata.

"Well." ia berhenti, lalu sisanya terurai begitu saja. "Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka, lebih baik kulakukan saja semuanya sekalian." Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal.

Waktu pun berlalu.

"Tahu nggak, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu," akhirnya aku mengaku.

"Aku tahu." Ia tersenyum lagi. lalu mengubah topik. "Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu."

"Mereka akan baik-baik saja." Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku.

"Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu," katanya sambil mengedip jail.

Aku menelan ludah.

Ia tertawa. "Kau tampak khawatir."

"Tidak," kataku, tapi konyolnya suaraku gemetar. "Sebenarnya aku terkejut... apa yang menyebabkan ini semua?"

"Sudah kubuang—aku capek berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah." Ia masih tersenyum, tapi matanya yang kekuningan tampak serius.

"Menyerah?" ulangku bingung.

"Ya—menyerah berusaha bersikap baik. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang kuinginkan, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya." Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan, dan suaranya terdengar serius.

"Lagi-lagi kau membuatku bingung." Senyum menawan itu muncul lagi. 

"Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu—itu salah satu masalahnya." 

"Jangan khawatir—aku tak mengerti satu pun ucapanmu," sindirku. "Aku mengandalkan itu."

"Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?" "Teman...," sahutnya menerawang, ragu-ragu.

"Atau tidak," gumamku.

Ia nyengir. "Well, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku bukan teman yang baik untukmu." Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.

"Kau sering bilang begitu," aku mengingatkannya, berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak, dan menjaga suaraku tetap tenang.

"Ya, karena kau tidak mendengarkan. Aku masih menunggu memercayainya. Kalau pintar, kau akan menghindariku."

"Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas." Mataku menyipit.

Ia tersenyum menyesal.

"Jadi, selama aku adalah... orang yang tidak pintar, kita akan mencoba berteman?" aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.

"Kedengarannya masuk akal."

Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun, tak yakin apa yang harus kulakukan.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya penasaran. Aku memandang matanya yang keemasan, bingung dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya.

"Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini." Rahangnya menegang, tapi ia tetap berusaha tersenyum.

"Apa kau berhasil?" ia bertanya dengan nada tak acuh.

"Tidak terlalu," akuku.

Ia tertawa. "Apa teorimu?"

Penutup Novel Twilight – Golongan Darah Bab 21

Gimana Novel twilight – Golongan Darah Bab 21 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya