Thursday, January 13, 2022

Bab 2 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

 Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 2

Baca Novel Elena Bab 2 Di Sini Sekarang

Elena masih memeluk Al di dalam taksi, seolah takut kalah. "Ibu, mengapa kita terburu-buru untuk pergi? Al tidak sempat berpamitan dengan Om tadi.” tanya Al heran. Ellena tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil mencium rambut Al. Menutup matanya menemukan aroma Eugene masih tersisa. "Berhenti di sini, Tuan." kata Elena. “Ini, Bu? Ternyata tujuannya sudah dekat baru juga naik.

Bab 2 Novel Elena


” kata pak supir sambil tersenyum masam. Elena keluar dari taksi, masih menggandeng Al. Buru-buru dibukanya pintu rumah dan menemukan dompetnya tergeletak di atas sofa. Ia mengambil selembar uang seratus ribuan kemudian keluar lagi.

“Iya, maaf ya Pak. Saya sedang buru buru. Ini, ambil saja kembaliannya.” “Ah terima kasih, Bu.” mata pak supir berbinar. “Alhamdulillaah sampai rumah.” gumam Elena. “Ibu ... siapa nama Om tadi?” Al kembali membuka percakapan sambil melepaskan sepatu dan baju seragam sekolahnya. “Namanya Eugene ...”

"WHO ???" "Eugene." "Nama yang sulit..." Al dan Elena sama-sama tertawa. "Tapi Al menyukainya, Bu." Elena tersenyum sambil menyerahkan baju ganti kepada Al. Dalam hatinya dia berkata, 'Ibu juga menyukainya'. "Apakah kamu menyukainya juga?" Al menyelidiki. Elena terkejut, memutar matanya dalam lelucon lalu tertawa. "Anda pikir begitu?" Elena bertanya pada Al.

"Al tidak tahu, tapi Om sangat menyukai Ibu." "Ah anak kecil, aku tahu kamu Al." Elena terkekeh saat dia menerapkan yang kelima jarinya dengan lembut ke wajah Al. “Ya, Al tau karena di bukunya tertulis banyak sekali nama Ibu ...” Elena terdiam sesaat, mendadak mulutnya terasa kering. Dipandanginya Al yang ternyata sedang memandanginya juga. Hati Elena meleleh, Al haus kasih sayang seorang ayah.

“Memangnya Al sudah bisa membaca?” “Tentu saja, aku kan sudah pandai menulis dan membaca. Apa sulitnya mengeja nama Ibu. E-L-E-N-A.” “Kalo Eugene bisa kau mengejanya?” “Hahahaha tidak bisa.” Al tergelak sendiri. “Sudah, sudah. Ke kamar mandi sana, buang air kecil, cuci tangan dan kaki. Ibu tunggu di meja makan ya.” Elena bangkit, beranjak ke dapur.

“Ibu ...” “Ya ... apalagi Al?” “Apakah ayah pulang malam ini? Apakah ayah bisa datang besok ke sekolah Al? Jangan-jangan Ibu lupa memberitahu ayah kalau besok ada ‘Hari Profesi’?” Elena memutar langkahnya, berlutut, mensejajarkan matanya dengan mata Al. Lalu memeluknya. “Ibu tidak lupa. Hanya saja ayah ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan besok ... Mungkin ayah baru bisa pulang pekan depan. Maaf ya Al ...” “Kalau begitu biar Om Eugene saja yang datang ...” “Mana bisa begitu ...”

“Bisa saja kalau Om Eugene mau.” “Apa maksudmu, Al?” “Bukan apa-apa ...” Al tidak mengindahkan perkataan ibunya, ia malah masuk kamar dan menutup pintu. Elena menghela napas panjang, nampaknya makan siang kali ini terpaksa dilewatkan. Perasaan Elena tidak enak. Ia curiga diam-diam Al melakukan sesuatu tadi siang. Anak itu terkadang melakukan ide ide konyol. Tapi apa?

Eugene "Bodoh!" Eugene mengutuk dirinya sendiri saat dia berjalan kembali ke hotel tidak terlalu besar tempatia menginap, tak jauh dari mini market tadi. Ah seharusnya ia tidak gegabah menanyakan hal itu pada Elena di pertemuan pertama. Tapi ia tidak kuasa menahan keingintahuannya. Sudah tiga hari ini ia di Jakarta, mencari Elena ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.

Berpindah-pindah tempat menginap dari satu hotel ke hotel lain. Tapi hasilnya nihil. Diluar dugaan ia malah menemukannya secara tidak sengaja di mini market saat ia kehabisan rokok dan ingin membelinya di sana. Keterkejutannya bertambah melihat Elena bersama Al. Entah mengapa ia begitu yakin Al adalah darah dagingnya. Ia begitu ingin mengenal Al lebih dekat tapi Elena tidak memberikannya kesempatan sama sekali. Padahal ia terlanjur jatuh cinta pada anak itu saat pertama mengelus rambutnya.

Cutinya sisa empat hari, ia harus segera kembali ke Taipei atau kehilangan pekerjaannya. Lalu bagaimana menemukan mereka lagi? cara Eugene memasuki lobi hotel, seketika keringatnyaserasa diusapolehudara dingin penyejuk ruangan. Ia mampir sebentar ke meja resepsionis untuk menanyakan apakah ada pesan atau telepon masuk untuknya.

Iatakpernah terbiasa membawa handphone, menurutnya benda itulah yang membuat manusia terjajah. Dulu Elena pernah marah-marah karena ia tak kunjung membeli satu untuk sekedar mempermudah komunikasi. Ada dua telepon masuk untuknya. Satu dari ibunya di Kanada. Satu lagi dari Mary Ann di Taipei, ia akan meneleponnya nanti. Ia mengucapkan terima kasih lalu masuk ke lift naik ke kamarnya di lantai tiga.

Tiba di kamarnya, Eugene langsung meraih handuk lalu mandi. Ia membuka kran shower dan merasakan kesejukan airnya menerpa tubuhnya yang berdebu dan terasa penat sekali. Selesai mandi. Masih menggunakan handuk, ia membuka kulkas kecil yang tersedia di pojok kamarnya. Mengambil sekaleng bir ditaruhnya di atas kulkas lalu duduk di tepi tempat tidur.

Diraihnyaj tas selempang, mengeluarkan semua isinya. Ia mencari sebungkus rokok yang sempat dibelinya setelah Elena pergi. Sebatang rokok diselipkan di antara dua jemarinya sementara tangan yang satunya mencari-cari pemantik. Tapi yang terpegang justru buku yang siang tadi dipinjamkannya pada Al. Hatinya mendadak tertarik, teringat Al.

Dibukanya dengan tak sabar, ah baru kali ini ia sebegitu penasaran dengan apa yang anak kecil gambar. Ia menemukan gambar-gambar gerbong dan lokomotif dengan asap membumbung dari cerobongnya. Nampaknya Al suka sekali kereta. Di halaman berikutnya ia menemukan tulisan Al, naik turun tak beraturan, huruf hurufnya ada yang terlalu besar dan terlalu kecil. Eugene tertawa tertahan. Ia mencoba membacanya, tapi ia tak memahami artinya.

Baca Bab Berikutnya

Silahkan klik Navigasi Bab untuk baca berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya