Wednesday, January 19, 2022

Bab 19 Novel Twilight – Undangan - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 19 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Undangan Bab 19

"Dad?" aku bertanya ketika ia hampir selesai makan.

"Yeah, Bella?"

"Mmm, aku hanya ingin memberitahumu, aku akan akhir pekan di Searttle Sabtu depan... kalau boleh?" Aku tidak ingin minta izin—itu memberi kesan buruk—tapi aku merasa sikapku kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir.

"Kenapa?" Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tak bisa ditawarkan Forks.

"Well, aku ingin membeli beberapa buku—koleksi perpustakaan di sini sedikit sekali—dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.

Novel Twilight


" Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali.

"Barangkali sistem pembakaran truk itu bermasalah," katanya, menyuarakan pikiranku.

"Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan

Olympia—dan di Tacoma kalau terpaksa." "Apa kau pergi sendirian?" tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku.

"Ya."

"Seattle kota besar—kau bisa tersesat," ujarnya waswas. "Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle— dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir."

"Kau mau aku ikut bersamamu?"

Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya.

"Tidak apa-apa, Dad, barangkah aku akan seharian menjajal pakaian—sangat membosankan." "Oh, oke." Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya.

"Terima kasih." Aku tersenyum.

"Apa kau akan kembali saat pesta dansa?"

Grrr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan.

"Tidak—aku tidak berdansa, Dad." Dari semua orang di dunia ini, harusnya ia mengetahuinya—mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku.

Ia ternyata mengerti. "Oh, ya benar," katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. 

Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan rubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku.

"Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal.

"Melakukan apa?" tanyanya sambil mengulurkan kuna trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. "Muncul tiba-tiba."

"Bella, bukan salahku kalau kau tak pernah

memerhatikan sekelilingmu." Seperti biasa suaranya tenang—lembut, merdu.

Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. "Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?" tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. "Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati."

"Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan," oloknya.

"Kau...," ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan katakata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. "Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada," lanjutnya. "Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai

mau mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?"

Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, seluruh humornya lenyap. "Bella, kau benar-benar sinting," katanya, suaranya dingin.

Telapak tanganku memanas—ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya.

"Tunggu," panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi ia menyusulku dengan mudah. "Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar," katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. "Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, "tapi bagaimanapun juga itu kasar." "Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?" gerutuku.

"Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali.

"Kau ini berkepribadian ganda ya?" tanyaku ketus.

"Kau melakukannya lagi."

Aku menghela napas. "Baik kalau begitu. Apa yang ingin kautanyakan?"

"Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan – kau tahu, pesta dansa musim semi—"

"Kau sedang melucu ya?" aku menyelanya, mengitarinya.

Wajahku basah kuyup saat menengadah memandangnya.

Penutup Novel Twilight – Undangan Bab 19

Gimana Novel twilight – Undangan Bab 19 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya